Navaswara.com – Ikan sapu-sapu kini menjadi masalah serius di berbagai perairan Indonesia. Di Jakarta, sebanyak 10 ton ikan ini bahkan dimusnahkan untuk menekan populasinya.
Sebelumnya, spesies invasif ini juga dilaporkan menyebar di sejumlah wilayah, mulai dari Sungai Kresek di Kediri hingga Danau Limboto di Gorontalo. Keberadaannya dinilai mengancam ikan endemik dan merusak keseimbangan ekosistem.
Guru Besar Bioteknologi Perikanan dan Kelautan UGM Prof. Alim Isnansetyo mengatakan, penanganan ikan sapu-sapu tak bisa dilakukan setengah-setengah.
“Penangkapan itu harus rutin, terus-menerus. Bukan satu tahun sekali, tapi bisa satu bulan sekali agar populasinya tidak kembali meledak,” kata Alim, belum lama ini.
Namun, menurutnya, penangkapan besar-besaran hanya menjadi solusi sementara jika kondisi lingkungan tetap buruk.
Ia menekankan pentingnya perbaikan kualitas air agar ikan lokal bisa kembali berkembang.
“Kalau kualitas air tidak diperbaiki, ikan asli akan sulit bertahan. Sementara sapu-sapu tetap dominan karena tahan di air tercemar dan tidak punya predator alami,” ujarnya.
Selain itu, Alim juga mendorong restocking atau penebaran kembali ikan endemik setelah kondisi lingkungan membaik.
“Setelah lingkungannya pulih, kita perlu mengembalikan spesies asli untuk menjaga keseimbangan ekosistem,” tambahnya.
Di sisi lain, ia menyoroti peran masyarakat dalam penyebaran ikan ini. Ikan sapu-sapu awalnya didatangkan dari Amerika Selatan sebagai ikan hias.
Namun, ketika ukurannya membesar, sebagian orang justru melepaskannya ke perairan umum.
“Ini yang berbahaya. Dari situ mereka berkembang biak secara masif,” kata dia.
Alim juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi ikan sapu-sapu.
Menurutnya, ikan ini bukan hasil budidaya sehingga keamanan pangannya tidak terjamin.
“Biasanya hidup di perairan tercemar, sehingga berisiko mengandung logam berat. Sebaiknya konsumsi ikan yang memang dibudidayakan dengan baik,” jelasnya.
Ia juga tidak menyarankan ikan hasil tangkapan dari perairan tercemar dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau pupuk.
“Kalau sudah terkontaminasi, itu berbahaya, baik untuk manusia maupun hewan,” tegasnya.
Sebagai langkah aman, Alim menyarankan ikan sapu-sapu yang ditangkap dimusnahkan dengan cara dikubur atau dibakar menggunakan incinerator.
“Tujuannya agar zat berbahaya tidak kembali mencemari lingkungan,” pungkasnya.
