Navaswara.com — Upaya transformasi layanan kesehatan berbasis digital mulai bergerak lebih serius di tingkat daerah. Kabupaten Garut kini mengambil langkah maju dengan meluncurkan program Digitally Enabled District (DED), sebuah inisiatif yang diarahkan untuk membangun sistem layanan kesehatan yang lebih terintegrasi, responsif, dan berbasis data.
Program ini diinisiasi oleh Summit Institute for Development bersama Pemerintah Kabupaten Garut sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat layanan kesehatan primer. Peluncuran ini bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi penanda dimulainya fase lanjutan dari transformasi digital yang sudah berjalan sejak 2023.
Memasuki tahap kedua pada tahun 2026, program DED diperluas secara signifikan dengan menjangkau 27 puskesmas di seluruh wilayah Garut. Perluasan ini menjadi langkah penting untuk memastikan transformasi digital tidak hanya berhenti di level pilot project, tetapi benar-benar dirasakan dampaknya oleh masyarakat di lapangan.
Di balik program ini, ada pendekatan yang cukup menyeluruh. Sistem digital yang dihadirkan tidak hanya membantu pencatatan data, tetapi juga menyentuh aspek operasional layanan sehari-hari. Mulai dari aplikasi KuApps yang memudahkan pencatatan layanan kesehatan di luar gedung, hingga Dynamic Workers Support (DWS) yang membantu penjadwalan dan pemantauan kinerja tenaga kesehatan.
Pemanfaatan data juga menjadi fokus utama. Melalui dashboard berbasis data kesehatan, tenaga kesehatan dan pengambil kebijakan dapat melihat kondisi secara lebih utuh dan mengambil keputusan dengan lebih cepat. Bahkan, teknologi kecerdasan buatan mulai dimanfaatkan, seperti AI OCR untuk mengubah data manual menjadi digital secara otomatis, hingga model prediktif untuk membaca potensi risiko kesehatan sejak dini.

Pendekatan ini kemudian diperkuat dengan komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat. Melalui platform digital, warga bisa mendapatkan pengingat layanan kesehatan, konsultasi, hingga akses informasi yang lebih mudah. Harapannya sederhana, masyarakat tidak hanya menjadi penerima layanan, tetapi juga lebih terlibat dalam menjaga kesehatannya sendiri.
Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, dalam pesan yang disampaikan melalui tayangan video, menekankan bahwa transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik. Ia juga mengajak seluruh tenaga kesehatan, terutama di lini terdepan seperti posyandu dan puskesmas, untuk mulai membangun budaya digital dalam keseharian kerja.
Hal serupa disampaikan Sekretaris Daerah Garut, Nurdin Yana, yang melihat program ini sebagai langkah konkret untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat. Menurutnya, jika dijalankan secara konsisten, inisiatif ini bisa langsung dirasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Dukungan juga datang dari pemerintah pusat. Perwakilan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menilai bahwa transformasi digital di tingkat daerah seperti ini menjadi bagian penting dalam memperkuat sistem kesehatan nasional secara keseluruhan.
Di sisi lain, CEO Summit Institute for Development, Yuni Dwi Setiyawati, melihat Garut memiliki peluang besar untuk menjadi pelopor. Ia bahkan menyebut, jika dijalankan dengan konsisten, Garut tidak hanya bisa menjadi rujukan nasional, tetapi juga contoh bagi level internasional dalam pengembangan sistem kesehatan digital.
Momentum peluncuran ini juga diikuti dengan penandatanganan pakta integritas antara pemerintah daerah dan 27 puskesmas sebagai bentuk komitmen bersama. Tidak berhenti di situ, demonstrasi langsung dari tim lapangan menunjukkan bagaimana sistem ini benar-benar digunakan dalam praktik sehari-hari, bukan sekadar konsep di atas kertas.
Cerita dari tenaga kesehatan di lapangan pun mulai bermunculan. Salah satunya datang dari petugas Puskesmas Bayongbong yang merasakan langsung bagaimana digitalisasi membantu pekerjaan menjadi lebih efisien, sekaligus meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat.
Dengan langkah ini, Garut sedang membangun fondasi baru dalam layanan kesehatan. Bukan hanya soal teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi itu benar-benar bekerja untuk manusia. Jika konsistensi ini terjaga, bukan tidak mungkin Garut akan menjadi contoh nyata bagaimana transformasi digital bisa dimulai dari daerah, lalu memberi dampak lebih luas bagi Indonesia.

