PBB: Dunia Buang Makanan Setara 1 Miliar Porsi per Hari Saat 9% Penduduk Kelaparan

Navaswara.com – Saat ini dunia tengah menghadapi ironi besar. Bayangkan, setiap hari, makanan yang terbuang di seluruh dunia setara dengan 1 miliar porsi, sementara sekitar 9 persen populasi global masih mengalami kelaparan.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyerukan perlunya sistem pangan tanpa limbah demi menjaga keberlanjutan manusia dan planet.

Guterres menegaskan, pemborosan makanan tidak hanya berdampak pada kelaparan, tetapi juga memperburuk krisis iklim, merusak ekosistem, dan mengancam ketahanan pangan di masa depan.

“Dunia membuang terlalu banyak makanan, sementara jutaan orang masih kelaparan,” ujar pada peringatan Hari Internasional Tanpa Sampah, beberapa waktu lalu.

Guterres menggarisbawahi, pengurangan limbah makanan membutuhkan peran dari berbagai pihak. Konsumen didorong untuk mengubah kebiasaan belanja dan memasak.

Pengecer diminta mengoptimalkan distribusi serta menyalurkan makanan berlebih. Pemerintah dan kota-kota juga diimbau memperkuat sistem pengelolaan sampah organik serta memasukkan isu limbah makanan dalam kebijakan iklim dan keanekaragaman hayati.

Menurutnya, melalui inisiatif global seperti Food Waste Breakthrough, dunia berpotensi mengurangi limbah makanan hingga 50 persen pada 2030, sekaligus memangkas emisi metana hingga 7 persen.

Ancaman Limbah Global

Data PBB menunjukkan manusia menghasilkan sekitar 2,1 hingga 2,3 miliar ton sampah padat perkotaan setiap tahun. Namun, sekitar 2,7 miliar orang masih belum memiliki akses memadai terhadap layanan pengelolaan sampah.

Polusi sampah menjadi ancaman serius bagi kesehatan dan ekonomi, serta memperburuk tiga krisis global utama, yaitu perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi.

Jika tidak ada tindakan nyata, jumlah sampah diperkirakan meningkat hingga 3,8 miliar ton per tahun pada 2050.

Dorongan Gaya Hidup Berkelanjutan

PBB telah menetapkan 30 Maret sebagai Hari Internasional Tanpa Sampah sejak 2022 untuk mendorong perubahan pola produksi dan konsumsi yang lebih berkelanjutan.

Menurut Guterres, upaya pengurangan limbah tidak hanya melindungi lingkungan, tetapi juga berpotensi menciptakan lapangan kerja hijau, mengurangi kerawanan pangan, serta mencegah kerugian ekonomi hingga 1 triliun dolar AS per tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *