Navaswara.com – Di tengah upaya mencari alternatif pangan yang lebih sehat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional, inovasi berbasis bahan lokal mulai banyak bermunculan. Salah satunya datang dari IPB University melalui produk bernama Mi Taroben.
Dikembangkan oleh Ahmad Sulaiman, mi ini menawarkan sesuatu yang jarang ditemukan pada mi pada umumnya, yakni non-gluten, tinggi serat, dan memiliki indeks glikemik rendah.
Tak heran, inovasi ini masuk dalam daftar 117 Inovasi Indonesia 2025 versi Business Innovation Center.
Di balik pengembangannya, ada keresahan yang cukup sederhana, yaitu pola konsumsi masyarakat Indonesia.
Menurut Ahmad, konsumsi beras memang mulai berkurang, tetapi di sisi lain, konsumsi mi berbahan terigu justru terus meningkat. Masalahnya, bahan baku terigu masih sepenuhnya bergantung pada impor.
Ketergantungan ini bukan tanpa risiko. Dalam kondisi krisis global, pasokan bisa terganggu dan itu langsung berdampak pada ketersediaan pangan di dalam negeri.
Dari situlah muncul ide untuk mencari alternatif berbasis sumber daya lokal.
Pilihan kemudian jatuh pada talas beneng, tanaman khas Pandeglang, Banten, yang sebenarnya sudah lama dikenal memiliki potensi besar.
Selama ini, pemanfaatannya justru lebih banyak pada bagian daun, yang diekspor sebagai bahan baku alternatif tembakau. Sementara umbinya yang kaya nutrisi, belum banyak diolah sebagai makanan sehari-hari.
Padahal, dari sisi kandungan, talas beneng memiliki banyak keunggulan: tinggi pati, kaya serat, mengandung prebiotik, serta secara alami bebas gluten.
Karakter ini membuatnya cocok dikembangkan menjadi pangan fungsional.
Dibandingkan mi berbahan terigu, Mi Taroben membawa sejumlah keunggulan yang cukup signifikan.
Produk ini mengandung karbohidrat kompleks dan serat tinggi, serta memiliki prebiotik yang bermanfaat untuk kesehatan pencernaan. Selain itu, indeks glikemiknya yang rendah membuatnya lebih ramah bagi penderita diabetes atau mereka yang sedang menjaga berat badan.
Dengan kata lain, mi ini tidak hanya sebagai alternatif, tapi juga menawarkan nilai tambah dari sisi kesehatan.
Meski terdengar menjanjikan, proses pengembangannya tidak sederhana.
Salah satu tantangan utama adalah soal formulasi adonan. Berbeda dengan terigu yang sudah memiliki sifat elastis alami, talas beneng perlu diolah sedemikian rupa agar bisa menghasilkan tekstur mi yang tetap kenyal.
Mulai dari plastisitas adonan, waktu pemasakan, hingga keseimbangan kandungan protein, semuanya harus disesuaikan agar mendekati karakter mi yang sudah familiar di masyarakat.
Lewat inovasi ini, Ahmad berharap pemanfaatan talas beneng tidak berhenti di satu produk saja.
Lebih jauh, pengembangan pangan berbasis bahan lokal diharapkan bisa membuka peluang baru, tidak hanya untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional.
