Mengupas Makna Kebebasan dalam Pameran “Freedom” di ARTOTEL Suites Bianti

Navaswara.com – Pameran seni rupa bertajuk “Freedom” menjadi ruang dialog artistik yang mempertemukan dua perupa, Hasan dan Helmi Fu, di ARTOTEL Suites Bianti Artspace, Yogyakarta. Digelar sejak pertengahan Februari hingga akhir Mei 2026, pameran ini menghadirkan enam karya yang merefleksikan konsep kebebasan melalui pendekatan yang berbeda, sekaligus mengubah area lobi hotel menjadi galeri seni yang megah.

Hasan dan Helmi Fu merupakan dua seniman dengan latar eksplorasi yang kontras namun saling melengkapi. Hasan dikenal dengan pendekatan ekspresif yang membebaskan diri dari pakem teori-teori seni rupa. Karya-karyanya dipenuhi warna, bentuk, dan goresan yang spontan. Ia banyak mengangkat tema alam dan relasi manusia dengan lingkungan, termasuk kritik terhadap eksploitasi alam yang kian masif.

Di sisi lain, Helmi Fu menghadirkan karya yang berangkat dari kegelisahan personal. Terutama tentang bagaimana manusia memandang usia, identitas, dan pengalaman hidup. Dengan gaya abstrak, ia memanfaatkan berbagai medium seperti kertas, majalah, hingga material campuran untuk menciptakan komposisi visual.

Sesuai dengan temanya, “Freedom” menjadi ruang untuk mengekspresikan imajinasi tanpa batas, sekaligus mengajak pengunjung merenungkan makna kebebasan dalam kehidupan mereka masing-masing. Karya-karya yang ditampilkan memperlihatkan bagaimana kebebasan bisa hadir dalam berbagai bentuk.

Salah satu karya yang cukup mencuri perhatian adalah “Grateful and Caring” karya Hasan. Lukisan ini menampilkan pesan tentang pentingnya rasa syukur dan kepedulian terhadap alam. Melalui visual yang kaya unsur tumbuhan dan warna, karya ini mengajak manusia untuk hidup harmonis dengan lingkungan serta menjaga keberlanjutan alam demi generasi mendatang. Maknanya tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga sosial, yakni mengingatkan bahwa keberagaman dapat hidup berdampingan tanpa saling merusak.

Sementara itu, karya-karya Helmi Fu menghadirkan teks dan simbol yang menggugah perasaan. Seperti ungkapan tentang usia dan tekanan sosial yang membuka ruang dialog antara karya dan para pengunjung. Ia menggambarkan kebebasan sebagai proses mengakui kegelisahan pribadi dan menemukan makna di tengah kompleksitas pengalaman manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *