Navaswara.com – Pandemi COVID-19 tidak hanya menjadi krisis kesehatan global, tetapi juga membuka berbagai kelemahan dalam pendekatan konvensional penanganan penyakit jantung koroner. Selama ini, penanganan penyakit arteri koroner umumnya berfokus pada tingkat penyempitan pembuluh darah (stenosis) sebagai dasar menentukan tindakan medis. Namun dalam praktiknya, banyak kasus serangan jantung justru berasal dari plak yang tidak terlalu menyempitkan pembuluh darah.
Interventional Cardiologist dan Lifestyle Medicine Specialist, Prof. Dr. dr. Dasaad Mulijono, menjelaskan bahwa paradigma lama tersebut memiliki keterbatasan, terutama saat pandemi COVID-19 yang memicu kondisi biologis lebih berisiko bagi pasien jantung.
“Secara tradisional, intervensi koroner terutama ditentukan oleh tingkat penyempitan lumen pembuluh darah dan adanya bukti iskemia. Namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar infark miokard justru berasal dari lesi dengan stenosis kurang dari 70 persen,” ujar Prof. Dasaad.
Kondisi pandemi memperburuk situasi tersebut. Infeksi SARS-CoV-2 diketahui menciptakan lingkungan biologis yang sangat proinflamasi dan pro-trombotik. Hal ini dapat menyebabkan plak yang sebelumnya stabil berubah menjadi plak rentan yang mudah pecah dan memicu serangan jantung.

“Infeksi SARS-CoV-2 menciptakan lingkungan biologis yang sangat proinflamasi dan pro-trombotik, yang secara signifikan meningkatkan kemungkinan bahwa plak yang sebelumnya stabil dapat dengan cepat berubah menjadi plak rentan,” jelasnya.
Selain faktor biologis, pandemi juga menyebabkan terganggunya layanan kesehatan di berbagai negara. Rumah sakit yang kewalahan, keterlambatan pasien datang ke fasilitas kesehatan, serta berbagai keterbatasan logistik membuat pendekatan konvensional yang menunggu hingga terjadi serangan jantung menjadi semakin berisiko.
Dalam situasi tersebut, Rumah Sakit Bethsaida mengembangkan pendekatan yang dikenal sebagai Model Bethsaida, yakni strategi pencegahan dua lapis yang menargetkan stabilitas plak dan kondisi biologis pasien secara menyeluruh.
Langkah pertama dilakukan melalui deteksi dini plak berisiko tinggi menggunakan teknologi pencitraan koroner, terutama CT angiografi koroner. Melalui metode ini, dokter dapat mengidentifikasi karakteristik plak yang berpotensi pecah, seperti plak dengan atenuasi rendah, remodeling positif, hingga kalsifikasi berbintik.
Jika ditemukan plak berisiko tinggi, tindakan intervensi seperti angioplasti dengan drug-coated balloon atau pemasangan drug-eluting stent dapat dilakukan untuk menstabilkan kondisi pembuluh darah.
Pendekatan kedua berfokus pada perubahan gaya hidup dan terapi sistemik untuk memperbaiki kondisi biologis pasien secara menyeluruh. Salah satu strategi utama yang diterapkan adalah pola makan berbasis nabati utuh atau whole-food plant-based diet yang dikombinasikan dengan terapi medis optimal dan pengendalian faktor risiko metabolik.
“Berbagai bukti ilmiah menunjukkan bahwa pola makan berbasis nabati dapat memperbaiki fungsi endotel, menurunkan inflamasi sistemik, serta meningkatkan ketersediaan nitric oxide yang penting bagi kesehatan pembuluh darah,” kata Prof. Dasaad.
Kombinasi stabilisasi plak melalui intervensi lokal dan perbaikan kondisi biologis melalui perubahan gaya hidup menghasilkan efek perlindungan yang saling memperkuat. Pendekatan ini terbukti memberikan hasil positif selama pandemi.
“Pengamatan klinis pada kohort kami menunjukkan penurunan yang bermakna dalam kejadian infark miokard akut serta mortalitas kardiovaskular selama periode pandemi,” ungkapnya.
Menurut Prof. Dasaad, pendekatan ini merepresentasikan perubahan paradigma dalam dunia kardiologi. Fokus tidak lagi semata pada tingkat penyempitan pembuluh darah, tetapi pada kerentanan plak yang dapat memicu trombosis koroner akut.
Dengan menargetkan baik faktor struktural maupun biologis yang memicu ketidakstabilan plak, Model Bethsaida dinilai berpotensi menjadi kerangka baru dalam strategi pencegahan serangan jantung, khususnya pada kondisi dengan tingkat inflamasi tinggi seperti pandemi global.
