Navaswara.com – Diselenggarakan oleh Singapore Art Museum, Singapore Biennale 2025 menjadi salah satu perhelatan seni rupa kontemporer terbesar di Asia Tenggara. Edisi kedelapan Biennale ini berlangsung sejak 31 Oktober 2025 hingga 29 Maret 2026 dan menghadirkan tema “Pure Intention”.
Dengan lebih dari 80 seniman, acara ini tidak hanya berlangsung di ruang galeri, tetapi juga menyebar ke berbagai ruang publik seperti kawasan Civic District, Orchard, hingga Fort Canning Park. Konsep ini membuat seni hadir secara langsung di tengah kehidupan sehari-hari masyarakat, sehingga siapa pun dapat menikmati karya seni sebagai pengalaman ruang yang hidup.
Tema “Pure Intention” dipilih untuk mengajak publik merenungkan kembali bagaimana niat, empati, dan kepedulian dapat membentuk masa depan bersama. Dalam konteks dunia yang penuh konflik, perubahan sosial, dan percepatan urbanisasi, karya-karya dalam biennale ini berusaha membuka ruang dialog tentang hubungan manusia dengan sejarah, teknologi, lingkungan, serta komunitas di sekitarnya.
Singapore Biennale 2025 menampilkan lebih dari 100 karya yang dipamerkan dalam berbagai bentuk. Mulai dari instalasi, video, hingga karya berbasis partisipasi publik yang mengundang pengunjung terlibat secara langsung. Salah satu yang menarik perhatian adalah “Light Keeper” karya kolektif seniman Taiwan bernama lololol. Instalasi ini dipasang di kawasan Fort Canning Park dan menggabungkan pengalaman berjalan kaki dengan teknologi suara berbasis GPS. Pengunjung diajak mengikuti rute tertentu sambil mendengarkan narasi audio yang terinspirasi dari kisah mercusuar, penjaga mercusuar, dan praktik komunikasi rahasia.
Saat malam tiba, instalasi cahaya yang menyerupai mercusuar ini akan menyala dan berputar, menciptakan atmosfer yang unik sekaligus reflektif. Karya ini mengajak pengunjung memikirkan kembali makna “penunjuk arah” dalam kehidupan modern dan menggambarkan pencarian manusia terhadap arah di masa depan yang semakin kompleks.
Karya lain yang juga menjadi sorotan adalah “Earth Play” karya seniman Korea Selatan Seung-taek Lee. Instalasi ini menampilkan balon PVC raksasa berbentuk planet Bumi berukuran sekitar tujuh meter yang ditempatkan di ruang dalam gedung National Gallery Singapore. Pengunjung dapat berjalan mengelilingi objek tersebut dan melihat representasi planet dari berbagai sudut pandang.
Melalui bentuk yang sederhana, karya ini mengajak masyarakat merenungkan hubungan manusia dengan planet yang mereka huni. Dengan menghadirkan Bumi sebagai objek yang tampak rapuh sekaligus megah, “Earth Play” menyampaikan pesan tentang tanggung jawab manusia terhadap lingkungan, serta pentingnya melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas.
Kedua karya tersebut memperlihatkan bagaimana Singapore Biennale 2025 tidak hanya menampilkan objek seni untuk dilihat, tetapi juga pengalaman yang dapat dirasakan dan dipikirkan secara mendalam. Dengan memanfaatkan ruang publik seperti taman kota, bangunan bersejarah, hingga pusat perbelanjaan, Singapore Biennale 2025 menjadikan seluruh kota sebagai kanvas besar yang unik.
