Navaswara.com – Di banyak kawasan wisata hutan, pemandangan ini terasa akrab, monyet mendekat, wisatawan tertawa, lalu sepotong roti atau biskuit dilemparkan. Bagi sebagian orang, memberi makan monyet liar adalah bagian dari keseruan berkunjung ke alam. Namun di balik interaksi yang tampak ramah itu, para peneliti melihat ancaman yang jauh lebih serius, bukan hanya bagi satwa liar, tetapi juga bagi manusia.
Praktik memberi makanan manusia kepada monyet liar telah lama menjadi kebiasaan di berbagai tempat wisata maupun kawasan hutan yang berdekatan dengan permukiman. Roti, biskuit, keripik, hingga camilan kemasan kerap menjadi “hadiah” bagi primata tersebut.
Niatnya sederhana, ingin melihat tingkah lucu mereka dari jarak dekat. Namun, kebiasaan ini perlahan mengubah perilaku alami monyet sekaligus membuka pintu bagi munculnya berbagai penyakit.
Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh penelitian berjudul Anthropogenic Impact on Macaque Gut Microbiomes yang dipresentasikan dalam forum ilmiah pada Oktober 2024. Studi itu menunjukkan bahwa interaksi intensif dengan manusia tidak hanya memengaruhi perilaku monyet, tetapi juga mengubah ekosistem mikroba di dalam usus mereka.
Secara alami, sistem pencernaan monyet dari genus Macaca dirancang untuk mengolah buah-buahan hutan, dedaunan, dan serangga yang kaya serat. Mikroorganisme di dalam usus mereka berevolusi selama jutaan tahun untuk memproses makanan tersebut.
Namun, ketika monyet mulai mengonsumsi makanan manusia, yang tinggi gula, lemak, dan pengawet, keseimbangan mikroba di dalam usus mereka terganggu. Kondisi ini dikenal sebagai disbiosis, yakni ketidakseimbangan komunitas mikroorganisme yang berperan penting bagi kesehatan tubuh.
Penelitian tersebut dilakukan pada populasi beruk atau Macaca nemestrina di negara bagian Perak, Malaysia. Para peneliti membandingkan dua habitat berbeda.
Lokasi pertama berada di Lumut Mangrove Park, sebuah taman mangrove perkotaan tempat monyet sering berinteraksi dengan manusia dan kerap diberi makan. Lokasi kedua, Segari Melintang Forest Reserve, kawasan hutan yang paparan manusianya jauh lebih rendah.
Hasilnya menunjukkan perbedaan mencolok. Monyet yang hidup di kawasan dengan interaksi manusia tinggi memiliki keanekaragaman mikrobiota usus yang lebih rendah dibandingkan populasi di hutan alami. Penurunan keragaman mikroba ini berkaitan dengan meningkatnya kerentanan terhadap penyakit.
Para peneliti juga menemukan keberadaan sejumlah patogen yang berpotensi menular antarspesies. Salah satunya adalah parasit Giardia, penyebab diare pada manusia dan hewan. Sekitar 20 persen sampel kotoran monyet dari kawasan mangrove yang sering berinteraksi dengan manusia mengandung antigen Giardia.
Sebaliknya, populasi monyet di hutan lebih banyak menunjukkan keberadaan Cryptosporidium, parasit yang kemungkinan merupakan bagian dari infeksi alami di habitat liar.
Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi bakteri Helicobacter macacae, mikroorganisme yang memiliki kemiripan dengan Helicobacter pylori—bakteri yang dikenal sebagai penyebab gangguan lambung pada manusia.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas manusia di habitat primata dapat menciptakan jalur baru bagi perpindahan penyakit antara manusia dan satwa liar.
Para peneliti menyebut kondisi ini sebagai contoh nyata pentingnya pendekatan One Health, sebuah konsep yang melihat kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan yang saling terkait. Ketika interaksi manusia dengan satwa liar semakin intensif, risiko munculnya penyakit baru juga ikut meningkat.
Fenomena serupa juga ditemukan di Indonesia. Penelitian Muhamad Soimin dan Hafizah Nahlunnisa pada 2023 menunjukkan, monyet ekor panjang atau Macaca fascicularis, yang hidup di kawasan dengan aktivitas manusia tinggi mulai kehilangan preferensi terhadap makanan alami. Mereka terbiasa mengonsumsi makanan manusia dan menjadi semakin bergantung pada kehadiran manusia.
Perubahan perilaku ini sering memicu konflik. Di Desa Sempor, Kabupaten Kebumen, misalnya, monyet liar dilaporkan kerap memasuki permukiman warga untuk mencari makanan. Dalam beberapa kasus, mereka bahkan masuk ke rumah dan mengambil bahan makanan.
Tim pengabdian masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Gombong yang meneliti fenomena tersebut menawarkan pendekatan berbeda. Alih-alih menangkap atau mengusir monyet, mereka menanam pohon jambu biji di kawasan hutan sekitar desa. Tujuannya sederhana, menyediakan sumber pakan alami agar monyet tidak lagi tergoda mencari makanan di permukiman manusia.
Pendekatan serupa juga dianjurkan oleh para ahli konservasi, yakni memulihkan sumber makanan alami satwa liar dengan menanam pohon pakan seperti Ficus, kelompok pohon ara yang buahnya menjadi sumber makanan penting bagi banyak satwa hutan.
Tanpa upaya seperti ini, interaksi yang tampak sepele, hanya memberi sepotong roti kepada monyet, dapat berujung pada perubahan perilaku satwa liar, meningkatnya konflik manusia-satwa, hingga munculnya penyakit baru yang berpotensi menular antarspesies. Dalam jangka panjang, kebiasaan kecil itu bisa membawa konsekuensi yang jauh lebih besar dari hiburan di tempat wisata semata.

