Israel dan Perang Panjang Melawan Iran, Seberapa Tahan Tel Aviv?

Navaswara.com – Perang kilat mungkin menguntungkan Israel. Tapi perang panjang melawan Iran adalah perkara lain. Ketika ratusan rudal balistik diluncurkan hanya dalam hitungan hari, pertanyaan yang muncul bukan lagi soal kemampuan menyerang, melainkan daya tahan, seberapa lama Israel mampu mempertahankan intensitas tempurnya?

Dalam tiga hari pertama konflik, menurut analis pertahanan Hamze Attar, Iran meluncurkan lebih dari 200 rudal balistik. Angka itu mendekati separuh total peluncuran selama 12 hari pertempuran tahun lalu yang mencapai sekitar 500 rudal. Setiap rudal yang dilepaskan Teheran memaksa sistem pertahanan udara Israel bekerja penuh, sering kali dengan menembakkan lebih dari satu pencegat untuk memastikan intersepsi. Dalam perang modern, daya tahan logistik kerap menjadi penentu, bukan sekadar kecanggihan teknologi.

Israel saat ini mengandalkan sistem pertahanan berlapis, yakni Iron Dome untuk jarak dekat, David’s Sling untuk ancaman menengah, serta Arrow 2 dan Arrow 3 untuk rudal balistik jarak jauh. Sistem ini terbukti efektif dalam berbagai eskalasi sebelumnya. Namun efektivitas bukanlah sumber daya yang tak terbatas. Rudal pencegat memiliki biaya tinggi dan kapasitas produksi terbatas. Jika serangan Iran berlangsung berbulan-bulan, tekanan terhadap stok dan rantai pasokan akan meningkat.

Iran sendiri disebut memproduksi sekitar 100 rudal balistik per bulan sejak pertengahan tahun lalu. Kendati demikian, kapasitas itu tetap bergantung pada jumlah peluncur yang masih operasional setelah serangan balasan Israel dan Amerika Serikat. Persediaan rudal tanpa peluncur yang berfungsi tidak banyak berarti. Dengan kata lain, kedua pihak sama-sama menghadapi persoalan keberlanjutan.

Di luar medan tempur, beban ekonomi mulai terasa. Biaya perang Israel di Lebanon dan Gaza pada 2024 dilaporkan mencapai US$31 miliar, mendorong defisit anggaran ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Untuk 2025, pengeluaran pertahanan terkait perang diperkirakan bisa menyentuh US$55 miliar. Dalam situasi normal, angka sebesar itu akan mengguncang stabilitas fiskal negara kecil dengan ekonomi terbuka seperti Israel.

Namun, ekonomi bukan satu-satunya variabel. Sejumlah pengamat menilai faktor penentu justru terletak pada dukungan Amerika Serikat. Selama Washington terus memasok sistem senjata canggih, mulai dari amunisi presisi hingga komponen pertahanan udara, Israel masih memiliki bantalan strategis. Perang jarak jauh berbasis teknologi tinggi memungkinkan risiko korban militer ditekan, meski biaya finansial tetap membengkak.

Pada akhirnya, kemampuan Israel mempertahankan konflik dengan Iran bergantung pada tiga lapis ketahanan, yaitu sosial, militer, dan diplomatik. Ketahanan sosial menentukan sejauh mana publik siap menghadapi ancaman rudal berulang dan tekanan ekonomi. Ketahanan militer bertumpu pada efektivitas sistem pertahanan udara serta kesinambungan logistik. Sedangkan, ketahanan diplomatik sangat dipengaruhi oleh sejauh mana dukungan Amerika dan mitra Barat tetap solid.

Sejarah konflik di Timur Tengah menunjukkan bahwa perang jarang berakhir semata karena kehabisan amunisi. Ia lebih sering ditentukan oleh kombinasi kelelahan politik, tekanan ekonomi, dan perubahan kalkulasi strategis. Jika konflik dengan Iran berubah menjadi perang atrisi yang panjang, Israel bukan hanya diuji oleh rudal-rudal yang meluncur dari timur, tetapi juga oleh batas daya tahannya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *