Navaswara.com – Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak pernah kehabisan cara untuk memanjakan mata. Selain popularitas Pulau Komodo di Labuan Bajo atau Danau Kelimutu yang legendaris, Bumi Flobamora menyimpan satu permata tersembunyi, yakni Bukit Liaga. Terletak di Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Ende, Bukit Liaga menawarkan lanskap yang indah. Mulai dari hamparan savana, perbukitan dramatis, dan birunya perairan teluk yang unik.
Salah satu daya tarik utama Bukit Liaga adalah perubahan visual mengikuti pergantian musim. Karakteristik ini menjadikannya sebagai destinasi yang selalu memberikan pengalaman berbeda setiap kali kita bertandang ke sana. Pada musim penghujan, Bukit Liaga akan diselimuti hamparan rumput hijau, menyerupai permadani raksasa yang menyejukkan mata.
Sebaliknya, saat musim kemarau tiba, savana ini akan berubah warna menjadi kuning keemasan. Dalam balutan sinar matahari NTT yang terik, bukit-bukit ini tampak seperti gunung emas yang memancarkan kilau. Perubahan warna ini menciptakan kontras yang luar biasa indahnya saat bertemu dengan langit biru yang bersih dan air laut yang jernih.
Hal yang membedakan Bukit Liaga dari bukit-bukit savana lainnya di Flores adalah pemandangan yang disajikan dari puncaknya. Dari titik tertinggi, wisatawan dapat menyaksikan panorama Teluk Moroboy dan Pabanama. Spot paling ikonik adalah keberadaan teluk yang dikelilingi oleh jajaran perbukitan hingga membentuk formasi huruf “U” yang sempurna.
Garis pantai yang berkelok-kelok, dipadukan dengan gradasi air laut dari biru muda ke biru tua, menciptakan bingkai alam yang sangat megah. Tak heran jika tempat ini dijuluki sebagai salah satu titik paling Instagramable di wilayah Ende. Dari ketinggian ini pula, tampak Pantai Bele dan Pantai Aewa yang mempesona.
Meskipun keindahannya luar biasa, Bukit Liaga masih tergolong destinasi “hidden gem” karena lokasinya yang cukup jauh dari pusat kota Ende. Perjalanan dari Kota Ende menuju Kecamatan Kotabaru memakan waktu sekitar 4 jam melalui jalur darat. Petualangan sesungguhnya dimulai ketika tiba di Dusun Bere.
Dari dusun tersebut, wisatawan harus menyewa perahu motor untuk menyeberangi laut selama kurang lebih 20 hingga 30 menit. Setelah turun dari perahu, kita akan disambut trek pendakian menuju puncak Bukit Liaga yang memerlukan waktu sekitar 15 hingga 40 menit. Jalurnya cukup menantang dan menguji adrenalin, namun segala rasa lelah akan segera sirna begitu menjejakkan kaki di puncak bukit.
Karena lokasinya yang masih sangat alami dan fasilitas pendukung yang belum selengkap destinasi wisata mapan lainnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum berkunjung ke Bukit Liaga. Pertama adalah gunakan sepatu olahraga atau sepatu gunung dengan daya cengkeram yang baik agar tidak mudah tergelincir. Selanjutnya adalah pastikan membawa persediaan air minum dan camilan yang cukup karena tidak ada penjual di puncak bukit.
Jika ingin mendapatkan pemandangan terbaik, datanglah pada pagi hari sekitar pukul 06.00 – 09.00 atau sore hari pukul 16.00 ke atas. Hindari mendaki di siang bolong, karena cuaca di kawasan ini sangat terik dan bisa menguras energi dengan cepat.

