Mangrove Impact Fellowship 2026, Perkuat Diplomasi Lingkungan dan Aksi Nyata Konservasi Pesisir

Navaswara.com -— Isu perubahan iklim dan degradasi pesisir mendorong lahirnya kolaborasi lintas negara yang semakin konkret. Melalui Mangrove Impact Fellowship 2026, Yayasan Mangrove Indonesia Lestari menghadirkan ruang pembelajaran, jejaring, dan aksi bersama bagi para pegiat lingkungan dari berbagai negara untuk memperkuat konservasi mangrove sebagai benteng alami pesisir.

Program yang berlangsung pada 7–12 Februari 2026 ini mempertemukan 14 peserta dari Inggris, Gambia, Ghana, Vietnam, India, Pakistan, Bangladesh, Prancis, Indonesia, Maroko, hingga Myanmar. Keberagaman latar belakang peserta, mulai dari akademisi, praktisi konservasi, hingga aktivis lingkungan—mencerminkan bahwa mangrove telah menjadi isu global yang menyatukan kepentingan ekologis dan ekonomi.

Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Direktur Rehabilitasi Mangrove Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Nikolas Nugroho S., yang menegaskan pentingnya percepatan rehabilitasi mangrove sebagai bagian dari strategi mitigasi perubahan iklim dan perlindungan wilayah pesisir. Ia menekankan bahwa mangrove bukan hanya pelindung alami dari abrasi dan gelombang ekstrem, tetapi juga penyerap karbon biru (blue carbon) yang signifikan.

Pendiri yayasan, Paundra Hanutama, menyampaikan bahwa fellowship ini dirancang bukan sekadar sebagai forum diskusi, tetapi sebagai ruang pembentukan kepemimpinan lingkungan berbasis kolaborasi. “Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi aksi nyata di lapangan,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan workshop keberlanjutan di ARTOTEL Gelora Senayan, kemudian dilanjutkan dengan partisipasi dalam peluncuran Platform Mandara di Merlyn Park Hotel. Platform ini diharapkan menjadi simpul koordinasi restorasi mangrove berbasis data dan kolaborasi multipihak.

Diskursus global turut diperkaya oleh Audrey Utoyo, anchor WORLD TVRI dan pembicara dari Harvard University, yang membahas pentingnya diplomasi lingkungan dan komunikasi publik dalam mendorong kesadaran global. Perspektif akademik dan inovasi keberlanjutan juga disampaikan oleh Aditi Jadhav dari Schiller International University serta Bayu Pamungkas dari IPB University.

Sebagai penutup, para peserta turun langsung ke Kawasan Konservasi Pulau Tidung Kecil untuk melakukan penanaman dan monitoring mangrove. Kegiatan lapangan ini menjadi momentum reflektif bahwa konservasi bukan sekadar komitmen di atas kertas, melainkan kerja bersama yang menuntut konsistensi dan keberlanjutan.

Mangrove Impact Fellowship 2026 menegaskan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis dalam diplomasi lingkungan global. Melalui pendekatan berbasis kolaborasi, ilmu pengetahuan, dan aksi nyata, fellowship ini menjadi langkah penting dalam membangun ketahanan pesisir sekaligus memperkuat dampak ekonomi dan sosial masyarakat yang bergantung pada ekosistem mangrove.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *