Pelangi di Mars Tawarkan Wajah Baru Film Anak Indonesia Berlatar Tahun 2090

Navaswara.com – Tahun 2090 dibayangkan sebagai masa ketika manusia tak lagi hanya bermimpi menjejak Mars, tetapi mulai membangun hidup di sana. Lewat lanskap merah yang sepi, film ini mengajak kita mengikuti perjalanan anak Indonesia yang mendefinisikan ulang arti ‘tumbuh besar’ di planet tetangga.

Disutradarai oleh Upie Guava serta diproduksi oleh Mahakarya Pictures, film ini mengikuti perjalanan Pelangi, gadis 12 tahun yang lahir dan besar di Mars. Ia menjadi satu-satunya anak yang tertinggal setelah koloni manusia kembali ke Bumi, sementara ibunya, Pratiwi, menjalankan misi penting.

Pelangi yang diperankan Messi Gusti digambarkan hidup di tengah kesunyian planet merah. Ia bertemu robot-robot tua dan perlahan menyusun keberanian untuk mencari mineral langka Zeolith Omega yang diyakini mampu memurnikan air Bumi yang tengah krisis. Petualangan luar angkasa itu bergerak berdampingan dengan relasi ibu dan anak yang saling menguatkan.

Lutesha memerankan Pratiwi sebagai ibu sekaligus ilmuwan yang percaya pada kapasitas anaknya. Sejumlah nama lain seperti Myesha Lin Adeeva, Livy Renata, dan Rio Dewanto turut memperkaya dinamika cerita. Film ini dikembangkan selama lima tahun dengan dukungan teknologi Extended Reality dan animasi 3D yang mempertegas suasana futuristik tanpa menenggelamkan emosi.

Dalam konferensi pers peluncuran trailer di Jakarta, Upie Guava menegaskan gagasan yang ia tanamkan sejak awal. “Tugas orang tua adalah mengantarkan anaknya hidup di zamannya,” ujarnya. Ia menilai generasi hari ini menghadapi realitas berbeda sehingga anak perlu dipercaya mengambil keputusan dan memimpin langkahnya sendiri.

Krisis lingkungan hadir sebagai latar yang nyata namun tidak didramatisasi berlebihan. “Anak-anak tidak suka digurui,” kata Upie, menjelaskan mengapa pesan menjaga bumi disisipkan melalui petualangan dan relasi Pelangi dengan robot-robot interaktif. Inspirasi cerita pun lahir dari kebiasaannya mendongeng tanpa naskah kepada anak-anaknya, mengikuti ritme emosi yang tumbuh alami.

Produser Dendi Reynando melihat ruang film anak dan keluarga di Indonesia masih terbatas. Ia berharap karya ini memberi pilihan cerita yang dekat dengan imajinasi sekaligus pengalaman generasi muda Indonesia.

Melalui Pelangi di Mars, kita melihat anak-anak bukan sebagai penonton pasif, tapi sebagai penggerak cerita yang punya logika sendiri. Film ini jadi pengingat penting bagi orang tua: sudahkah kita memberi ruang bagi keberanian dan rasa ingin tahu mereka untuk mekar di zamannya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *