Ngaji.ai Kembangkan Peran sebagai Sahabat Ibadah Harian

Navaswara.com – Ramadan selalu membawa keinginan yang sama untuk kembali merapat pada Al-Qur’an dan menata ibadah agar lebih terjaga. Niat itu kerap tersandung ritme kerja yang padat serta energi yang terpecah. Hambatan utamanya cuma dua, yakni bingung langkah pertama dan tantangan disiplin harian

Kebutuhan inilah yang dibaca oleh ngaji.ai. Berawal sebagai aplikasi belajar mengaji, platform ini berkembang menjadi pendamping ibadah harian di ponsel. Hingga kini tercatat 403 ribu pengguna dengan sekitar 39 ribu pelanggan premium, angka yang menunjukkan kebutuhan akan bimbingan ibadah yang terasa dekat dan relevan.

Fara Abdullah, Chief Business Development Officer Vokal.ai yang menaungi ngaji.ai, melihat fase ini sebagai momen penting pertumbuhan. “ngaji.ai ingin tumbuh matang secara strategi, berdampak nyata, dan tetap berpijak pada nilai keislaman. Banyak orang ingin hidup selaras dengan Al-Qur’an tetapi merasa kewalahan. Kami hadir untuk menemani secara perlahan dan konsisten,” ujarnya.

Pengalaman pengguna pun bergeser dari sekadar belajar menjadi menjalani. Rata-rata waktu penggunaan harian mencapai lebih dari tujuh menit per orang, menandakan aplikasi ini benar-benar masuk ke rutinitas. Vanya Sunanto, COO Vokal.ai, menyebut pengguna kembali setiap hari karena merasa ditemani, bukan digurui.

Pembaruan tampilan beranda dan fitur seperti Sholat, Doa, Dzikir, serta Ikhtiar menjadi kunci transformasi. Lewat Ikhtiar, pengguna memilih satu fokus selama tujuh hari dan menjalankannya dalam tugas-tugas kecil yang terukur. Pola ini membuat proses terasa realistis sekaligus menjaga ritme.

Verti Tri Wahyuni, kreator konten yang dikenal lewat akun Instagram @ve.idn, mengaku terbantu dengan pendekatan tersebut. “Yang berat dari ibadah itu konsistensinya. Ikhtiar memecah target besar jadi langkah kecil sehingga terasa ringan,” katanya. Ia merasakan jarak antara belajar dan praktik kian menyempit.

Memasuki 2026, ngaji.ai menyiapkan perluasan kolaborasi dengan institusi bisnis dan pemerintah. Kawasan Asia Tenggara dengan sekitar 290 juta Muslim juga dilihat sebagai peluang jangka panjang seiring meningkatnya adopsi teknologi AI. Fara menilai teknologi dapat membantu menghadirkan pendamping ibadah yang peka pada budaya dan ritme hidup setempat.

Dampak sosial ikut diperluas melalui kerja sama dengan Rumah Zakat yang kini memasuki tahun kedua. Sebanyak 25 persen pembelian premium sempat dialokasikan untuk bantuan kemanusiaan Palestina lalu diperluas ke program pendidikan dan kebencanaan. Kolaborasi dengan komunitas Muslim serta mitra gaya hidup seperti Noore Sport dan One Day One Juz juga dijalankan untuk memperkuat literasi Al-Qur’an di kalangan urban.

Ramadan 1447 H dipandang sebagai titik mulai membangun kebiasaan yang lebih tertata. Vanya mengajak pengguna menjadikan bulan suci sebagai langkah awal membentuk ritme ibadah yang konsisten dan terukur. Satu ikhtiar dijalani dengan sadar, lalu dijaga hingga menjadi kebiasaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *