Navaswara.com – Selama ini, perhiasan hanya dikenakan dalam momen terpenting kehidupan. Saat perayaan, diwariskan lintas generasi, dan menyimpan cerita yang lebih panjang dari usia pemakainya. Di Indonesia, perhiasan tradisional tidak lahir dari satu tradisi tunggal, melainkan dari pertemuan budaya yang saling beradaptasi selama berabad-abad. Dari sanalah simbol, ornamen, dan filosofi tumbuh, lalu melekat dalam keseharian.
Pemahaman inilah yang menjadi fondasi Manjusha Nusantara. Ria Wu, salah satu pendirinya, memandang perhiasan sebagai ruang bertemunya sejarah dan kehidupan modern. Saat dijumpai Navaswara, ia bertutur bahwa proses adaptasi tersebut melahirkan ragam visual yang khas dan tidak bisa disamakan dengan Peranakan di negara lain.
Pandangan itu kemudian diterjemahkan ke dalam Koleksi Peranakan, salah satu lini yang paling merepresentasikan karakter Manjusha. Ria menjelaskan bahwa koleksi ini dipenuhi figur dan ragam hias yang sarat makna. “Budaya Tionghoa itu sudah lama masuk ke Indonesia dan beradaptasi dengan budaya lokal. Ada burung Hong, ada bunga-bunga, ada juga buku-buku. Semua itu punya filosofinya sendiri,” katanya. Burung Hong kerap dimaknai sebagai simbol kemakmuran dan keindahan, sementara motif buku merepresentasikan fase-fase kehidupan yang terus bergerak dan berubah.
Koleksi Peranakan ini pula yang menemukan momentumnya ketika Manjusha turut mendukung Fashion Show Batik Chic x Facade bertema “Peony: Love and Prosperity” untuk menyambut Imlek. Tema yang mengangkat cinta dan kemakmuran tersebut beririsan langsung dengan semangat Peranakan Indonesia yang ingin dihadirkan Manjusha. Di panggung peragaan, perhiasan tidak berdiri sendiri, tetapi menyatu dengan busana guna memperkuat narasi tanpa kehilangan akar budayanya.

Ria menegaskan bahwa Peranakan Indonesia memiliki karakter yang sangat berbeda dibandingkan dengan Peranakan di Singapura atau negara lain. “Walaupun namanya Peranakan, Peranakan Indonesia itu beda banget,” ucapnya. Karena itulah Manjusha memilih untuk mengulang dan mengenalkan kembali pola-pola klasik yang sudah ada, alih-alih menciptakan estetika baru yang terlepas dari sejarah. “Ini bukan kreasi baru. Kami ingin mengulang dari ragam-ragam yang sudah ada, lalu memperkenalkannya kembali,” jelas Ria.
Pendekatan tersebut sejalan dengan visi Manjusha sejak awal berdiri pada 2011. Didirikan oleh empat perempuan Indonesia, Ria Wulandari Glenn, Yasmin Wirjawan, Ina Symonds, dan Terry Supit, Manjusha membawa misi melestarikan warisan perhiasan antik Nusantara secara menyeluruh. Koleksinya tidak terbatas pada satu wilayah atau satu budaya, melainkan merangkum pengaruh dari berbagai daerah di Indonesia. Pilihan material seperti tembaga, perak, hingga sepuhan emas pun menjadi bagian dari strategi agar perhiasan berbasis tradisi ini tetap terjangkau dan dekat dengan keseharian.
Kedekatan dengan keseharian inilah yang terus ditekankan Ria. Ia menyayangkan jika perhiasan Indonesia hanya dikenakan pada momen besar seperti pernikahan. “Sebetulnya perhiasan-perhiasan Indonesia itu indah banget dan punya filosofi yang luar biasa. Kalau kita sebagai pembuat Indonesia tidak mengenakan, bisa hilang,” katanya. Dari situlah Manjusha mendorong perempuan Indonesia untuk mulai mencintai dan mengenakan perhiasan tradisi dalam aktivitas harian.
Pemikiran serupa juga melandasi langkah Manjusha ke ranah busana. Setelah hampir 15 tahun berjalan, Manjusha bersiap meluncurkan lini baru bernama Mabhusana pada pertengahan tahun ini. Nama tersebut diambil dari Bahasa Bali Kuno yang berarti berbusana. “Tujuan kami adalah memperkenalkan kembali busana-busana Indonesia,” ujar Ria, seraya menegaskan bahwa fokusnya tidak hanya pada kebaya Jawa, tetapi juga pakaian dari berbagai daerah di Nusantara.

Menurut pehobi menari ini, banyak busana tradisional Indonesia yang sejatinya sangat relevan dengan kehidupan modern. “Sekarang kebaya juga sudah banyak yang sifatnya kasual. Kalau sudah kasual, kenapa tidak dipakai untuk kegiatan sehari-hari?” tuturnya. Sambil menunjukkan kebaya putih khas Ambon yang dikenakan, ia menambahkan bahwa banyak pakaian adat Indonesia memiliki potongan yang tertutup dan santun, sehingga tetap nyaman dikenakan dalam berbagai konteks.
Di balik perjalanan Manjusha, terdapat dinamika yang tumbuh secara alami. Dari empat pendiri awal, kini operasional harian dijalankan oleh Ria dan Terry. Yasmin Wirjawan menetap di Stanford, sementara Ina tinggal di London. “Yang tinggal di Indonesia cuma saya sama Terry. Yang melanjutkan ya kita berdua,” kata Ria. Pembagian peran pun semakin jelas. Terry bertanggung jawab atas produksi dan riset, sementara Ria mengolah hasil riset tersebut menjadi narasi dan menjalin kerja sama untuk memperkenalkannya ke publik.
Bagi Ria, perhiasan dan busana Indonesia memiliki satu benang merah yang sama. “Perhiasan Indonesia dan busana Indonesia itu luar biasa indah dan luar biasa beragam,” ujarnya. Harapannya sederhana namun tegas, agar perempuan Indonesia mengenal, menyayangi, dan mengenakannya dalam berbagai kesempatan. Dengan cara itu, warisan budaya tidak berhenti sebagai arsip, tetapi terus hidup dan bergerak bersama zamannya.

