Navaswara.com – Quiet quitting, fenomena di mana karyawan tetap bekerja namun hanya sebatas tuntutan minimum dan kehilangan komitmen, sudah menjadi momok baru di dunia kerja. Ini bukan isu malas, melainkan cerminan dari lingkungan yang gagal menumbuhkan motivasi.
Lalu, bagaimana peran pemimpin agar timnya tidak terjebak dalam jebakan ‘bekerja seadanya’ ini?
Melansir Fast Company, pemimpin tidak bisa hanya menyalahkan karyawan. Mereka harus bertindak cepat. Kunci utamanya, membangun kejelasan tujuan, lingkungan yang suportif, dan hubungan kerja yang sehat.
Berikut adalah lima langkah penting yang harus dilakukan pemimpin untuk mencegah wabah quiet quitting di tim Anda:
Ubah Prasangka Menjadi Rasa Ingin Tahu
Ketika kinerja karyawan tampak menurun, reaksi pertama pemimpin sering kali adalah asumsi dan kecurigaan. Padahal, menurut Amy Lavoie dari Culture Amp People Science, percakapan yang diawali kecurigaan justru akan membuat karyawan menutup diri dan defensif.
Jurusnya: Jangan menaruh prasangka. Dengarkanlah karyawan dengan rasa ingin tahu yang tulus. Tanyakan secara terbuka, “Apa yang sedang Anda hadapi?” dan dengarkan tanpa bersikap defensif. Dengan begitu, Anda akan memahami akar masalah yang sesungguhnya dan bisa memberikan dukungan yang tepat, bukan sekadar hukuman.J
Jangan Lupakan The A-Team (Karyawan Termotivasi)
Riset Culture Amp mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa 52% karyawan sebenarnya sudah berada dalam kondisi termotivasi tinggi dan berkomitmen. Masalahnya, perhatian pemimpin seringkali tercurah hanya pada mereka yang bermasalah.
Jurusnya: Alih-alih hanya sibuk mengurus yang sedang quiet quitting, fokuslah pada pengakuan dan apresiasi bagi karyawan berkinerja tinggi. Berikan mereka gambaran peluang karier yang jelas. Menjaga semangat kelompok yang sudah termotivasi adalah pencegahan terbaik agar mereka tidak ikut terjerumus ke zona ‘seadanya’.
Sediakan Ruang untuk Bergerak dan Bertumbuh
Banyak karyawan bertahan di perusahaan bukan karena passion, melainkan karena rasa takut akan perubahan atau ketidakpastian di luar sana. Mereka merasa stagnan, dan itu mematikan energi.
Jurusnya: Sediakan ruang mobilitas internal. Dorong diskusi rutin mengenai pengembangan karier, berikan mentoring, atau pindahkan mereka ke proyek yang menawarkan tantangan baru. Ketika karyawan merasa ada jalan untuk bertumbuh di dalam perusahaan, energi mereka akan kembali berlimpah.
Jaga Energi Kerja, Bukan Hanya Tingkatkan Tuntutan
Meningkatnya tekanan produktivitas tanpa dukungan ritme kerja yang sehat adalah resep sempurna untuk burnout dan akhirnya quiet quitting. Karyawan merasa diperas habis-habisan.
Jurusnya: Pastikan beban kerja yang diberikan realistis. Jangan hanya menuntut hasil, tapi juga jaga ritme kerja yang sehat dan berikan kesempatan pemulihan yang cukup. Pemimpin harus memastikan energi tim terjaga. Ketika karyawan punya tank energi yang penuh, risiko mereka mundur ke zona minimalis akan menurun drastis.
Lawan Asumsi dengan Data Objektif
Asumsi, seperti anggapan bahwa remote worker pasti lebih rentan stres, seringkali menyesatkan dan mengarah pada kebijakan yang salah.
Jurusnya: Tinggalkan feeling dan mengira-ngira. Gunakan data keterlibatan (engagement data) dan hasil survei internal secara objektif. Dengan pemahaman berbasis fakta, pemimpin dapat mengidentifikasi masalah di unit mana, dan mengambil langkah pencegahan yang benar-benar tepat sasaran.
Intinya, quiet quitting adalah sinyal bahwa perusahaan perlu lebih mendengarkan dan mendukung karyawannya. Pemimpin yang bijak tahu bahwa investasi terbesar dalam produktivitas adalah investasi pada kesejahteraan timnya.
