Navaswara.com – Rangkaian peristiwa yang muncul belakangan ini, baik di Indonesia maupun di panggung internasional, menciptakan gelombang keresahan yang semakin sulit diabaikan. Dari pengelolaan ekonomi ekstraktif yang menggerus keseimbangan ekologi dan menyingkirkan masyarakat di sekitarnya, suara kelompok minoritas yang diperlakukan sebagai gangguan pembangunan, demokrasi yang kian jauh dari aspirasi rakyat, hingga kekerasan negara yang ditopang oleh logika algoritma. Belum lagi genosida yang berlangsung terang-terangan di hadapan mata dunia.
Di tengah situasi itu, keluhan warga berseliweran di linimasa. Mereka mencintai negeri tempat mereka tumbuh dan kembali berlabuh, tetapi juga tidak mampu menutupi kekecewaan terhadap cara negara dikelola.
Konsep “Tanah Air” yang kerap diseret ke dalam sempitnya politik kekuasaan atau slogan nasionalisme kosong perlu dibongkar kembali. Sebab, Tanah Air bukan semata batas teritori, melainkan relasi manusia dengan alam, ekosistem, serta kehidupan yang menopang keduanya.
Dengan mengusung tema Homeland in Our Bodies/Tanah Air dalam Tubuh Kita, Jakarta Literary Festival (JILF) 2025 mencoba merapatkan jarak antara sastra dan politik, antara teks dan gerakan sosial.
“Melalui perspektif kemanusiaan, Homeland in Our Bodies hendak menegaskan posisi politik sastra sebagai bagian dari gerakan publik,” ujar kurator JILF 2025, Kiki Sulistyo. Makna Tanah Air, lanjutnya, terintegrasi dengan kemanusiaan karena ia terwujud dalam tubuh manusia itu sendiri.
Selain Kiki, JILF 2025 turut dikuratori oleh Evi Mariani dan Ronny Agustinus, keduanya dikenal dekat dengan isu kebebasan berekspresi, demokrasi, dan literasi publik.
Dalam kerangka tersebut, sastra bukan lagi produk estetika saja, melainkan menjadi alat perlawanan terhadap keputusan-keputusan yang mengoyak martabat manusia. Festival sastra hadir sebagai praktik nyata solidaritas, sebuah ruang bersama yang menegaskan bahwa kemanusiaan adalah fondasi yang tak boleh dinegosiasikan.
Direktur Eksekutif JILF 2025, Avianti Armand, mengatakan bahwa gagasan tentang kemanusiaan telah muncul sejak awal penyusunan festival yang memasuki edisi kelima sejak pertama kali digelar pada 2019. Ia merujuk pada puisi Mahmoud Darwish, The Last Train Has Stopped, tempat penyair Palestina itu menulis frasa “homeland in my body”, sebuah penegasan bahwa Tanah Air melekat pada tubuh manusia, sehingga setiap manusia harus bebas dari penjajahan, penindasan, dan ketidakadilan.
“Tema yang paling relevan untuk direspons hari ini adalah kemanusiaan. Kami mengambil sebaris puisi Darwish dan mengembangkannya menjadi Homeland in Our Bodies. Karena persoalan ini bukan hanya milik kita,” ujarnya.
Katharine E. McGregor, sejarawan dan penulis, mengajak publik merenungkan kembali narasi tentang Tanah Air yang selama ini dibangun negara. Baginya, tema JILF 2025 membuka jalan untuk meninjau ulang identitas kolektif secara inklusif. “Festival ini mengajak kita melampaui definisi sempit tentang bangsa dan membaca tanah air sebagai pengalaman yang beragam serta adil,” katanya.
Sebagai ruang aktivisme dan solidaritas, penyelenggaraan JILF 2025 juga menegaskan posisi Jakarta sebagai Kota Literasi UNESCO. Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Bambang Prihadi, menyebut festival ini sebagai titik temu kepentingan politik, ekonomi, hingga agama.
“Pertanyaannya, mampukah forum ini melampaui kepentingan pragmatis dan mengikis karat ketidakadilan? Selain mempertemukan sastrawan, ia harus menjadi ruang menyatakan sikap terhadap krisis: kemanusiaan, lingkungan, dan lainnya,” paparnya.
JILF 2025 menghadirkan rangkaian program, yakni Authors’ Forum yang menghadirkan 23 penulis Indonesia dari berbagai daerah, seperti Bireuen, Boyolali, Singkawang, Larantuka, Mamuju, Paniai serta 4 penulis internasional; Reading Night, pembacaan karya 11 penulis; Live Mural bertajuk Tumbuh dan Merambat, bersama 6 seniman dengan interpretasi masing-masing; Fringe Events berupa peluncuran buku dan diskusi isu terkini; Pasar Kata (pameran komunitas sastra, literasi, budaya); Pasar Buku; dan Pentas Kata sebagai penutup.
Festival berlangsung 13–16 November 2025 di Taman Ismail Marzuki.
