Navaswara.com – Fajar di Borobudur selalu punya cara sendiri untuk menyapa manusia. Dalam cahaya lembut yang menembus kabut Magelang, matahari seolah terbit perlahan dari balik Merapi, menyingkap siluet stupa-stupa tua yang diam sejak abad kesembilan. Kini, setelah sekian lama, momen itu bisa kembali dinikmati.
Melalui anak usahanya, PT Taman Wisata Borobudur (TWB), InJourney Destination Management resmi membuka kembali akses kunjungan Borobudur Sunrise dan perjalanan naik ke struktur candi setiap hari bagi wisatawan umum maupun pelajar.
Bukan sekadar pembukaan destinasi, tapi langkah strategis untuk menautkan kembali warisan budaya dengan denyut ekonomi rakyat, menghadirkan wisata yang berkelanjutan, beretika, dan berjiwa.
Kebijakan ini bukan lahir tiba-tiba. Ia tumbuh dari koordinasi yang cermat antara berbagai pihak: Museum dan Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan RI, Pemerintah Kabupaten Magelang, hingga para pelaku wisata dan komunitas lokal. Semua berjalan dalam satu bingkai, bagaimana menjaga warisan dunia tanpa kehilangan makna manusia di dalamnya.
“Program ini masih dalam tahap uji coba, dan kami akan terus mengevaluasi. Kami ingin masyarakat merasakan pengalaman yang lebih bermakna, sambil tetap menjaga nilai-nilai pelestarian budaya,” ujar Febrina Intan, Direktur Utama InJourney Destination Management, di sela peluncuran, belum lama ini.
Menurut Febrina, Borobudur Sunrise tak semata atraksi visual, melainkan pengalaman kontemplatif, perjumpaan antara alam, sejarah, dan spiritualitas. “Menunggu matahari terbit di puncak Borobudur, melihat rona jingga merayap di balik Merapi dan Merbabu, adalah pengalaman yang tak tergantikan,” ujarnya.
Reaktivasi wisata sunrise ini juga menjadi bentuk nyata dari keseimbangan antara konservasi dan pariwisata. Setiap pengunjung diwajibkan mengenakan upanat, alas kaki khusus untuk melindungi batuan candi dari gesekan. Sirkulasi pengunjung pun diatur agar tak menimbulkan tekanan berlebih pada bagian-bagian rentan. Semua berbasis data, terukur, dan berpihak pada keberlanjutan.
Pengalaman dimulai sejak dini hari. Pukul 04.00 WIB, pengunjung memasuki kompleks lewat Pintu 7 Taman Wisata Candi Borobudur, menerima perlengkapan, seperti wristband, senter, pemandu wisata, souvenir, serta voucher sarapan.
Pukul 05.00 WIB, fajar pun tiba. Dari lantai sembilan, panorama langit jingga berpadu dengan aroma embun dan suara burung pagi. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan sarapan di Bukit Dagi, bukit kecil di dalam kompleks yang menawarkan pandangan langsung ke arah Candi Borobudur dan perbukitan Menoreh.
Semua terasa intim, hanya 100 orang per hari yang diizinkan menikmati pengalaman ini. Tiket dibanderol Rp1 juta per orang, dapat dipesan melalui WhatsApp (+62 857 2758 7800). Harga yang tak hanya membayar pemandangan, tetapi juga mendukung konservasi, ekonomi lokal, dan warisan budaya yang lestari.
Febrina menegaskan, pelajar kini dapat berkunjung setiap hari, bukan hanya Senin seperti sebelumnya. “Kami ingin pelajar kembali menjadi bagian dari kebangkitan pariwisata Borobudur. Mereka adalah generasi yang akan melanjutkan kisah ini dan menjadi jembatan bagi UMKM serta kampung seni di sekitarnya,” katanya.
Menurut Mulyanto, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Magelang, program ini telah menggerakkan ekonomi lokal. “Bupati Grengseng Pamuji menargetkan kunjungan ke Borobudur bisa mencapai 10 ribu orang per hari. Saat ini sudah sekitar empat ribu. Dan itu sudah menghidupkan UMKM di Kampung Seni,” pungkasnya.
