Suka Makan Kikil? Ahli IPB Ungkap Manfaat Kolagen dan Batas Aman Konsumsinya

Navaswara.com – Kikil atau tunjang sering dianggap sebagai makanan tinggi kolagen yang baik untuk kulit dan sendi. Teksturnya yang kenyal juga membuat banyak orang menyukainya.

Namun, konsumsi kikil tetap perlu dibatasi meski kandungan lemaknya relatif rendah.

Pakar gizi hasil ternak dan teknologi pangan dari IPB University Astari Apriantini menjelaskan, kikil memang memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi.

“Kikil memiliki rasa gurih dan mengandung gizi yang cukup tinggi, terutama protein. Protein pada kikil sebagian besar berbentuk kolagen,” ujarnya.

Astari memaparkan, sekitar 30 persen kolagen dapat ditemukan pada kikil hewan mamalia, seperti sapi, kambing, dan kerbau.

Dalam 100 gram kikil, kandungan protein dapat mencapai sekitar 96 persen. Sementara lemaknya hanya sekitar 4 persen dan tidak mengandung karbohidrat.

Menurutnya, kandungan kalori kikil juga relatif lebih rendah dibandingkan daging sapi.

“Kalori pada kikil sekitar 146 kalori per 100 gram, sedangkan pada daging sapi berkisar antara 174 hingga 273 kalori,” jelasnya.

Selain protein, kikil juga mengandung sejumlah mineral penting bagi tubuh.

Mineral tersebut antara lain natrium, selenium, zat besi, kalium, dan kalsium.

Selenium berperan dalam menjaga fungsi sistem kekebalan tubuh. Zat besi membantu mencegah anemia.

Sementara kalium penting untuk menjaga fungsi saraf, kontraksi otot, serta detak jantung tetap normal. Kalsium juga dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tulang dan gigi.

Meski begitu, Astari menjelaskan tubuh tidak dapat menyerap kolagen dari makanan dalam bentuk utuh.

Kolagen harus dipecah terlebih dahulu menjadi peptida agar dapat diserap melalui usus.

“Peptida hasil pemecahan kolagen ini kemudian digunakan tubuh sebagai bahan penyusun protein, misalnya untuk membantu pembentukan kulit, rambut, dan kuku,” jelasnya.

Kolagen sendiri memiliki berbagai manfaat bagi tubuh.

Zat ini diketahui membantu menjaga elastisitas kulit, memperkuat tulang dan sendi, serta mendukung kesehatan rambut dan kuku.

Selain itu, kolagen juga berpotensi membantu mempercepat penyembuhan luka dan menjaga kesehatan jaringan tubuh.

Di balik manfaatnya, kikil juga mengandung purin yang dapat diolah tubuh menjadi asam urat.

Selain itu, kandungan kolesterol pada kikil mencapai sekitar 79 mg per 100 gram.

Angka ini memang sedikit lebih rendah dibandingkan daging sapi yang berkisar 65 hingga 90 mg, namun tetap perlu diperhatikan.

“Kikil mengandung kolesterol dan purin dalam jumlah sedang, sehingga konsumsinya sebaiknya dibatasi, terutama bagi orang dewasa, penderita asam urat, atau mereka yang memiliki riwayat penyakit metabolik,” kata Astari.

Ia menyarankan satu porsi kikil sekitar 75 gram dalam sekali makan.

Cara pengolahan juga perlu diperhatikan agar kandungan lemak dan kalori tidak meningkat.

“Jika dikonsumsi dalam jumlah kecil dan diolah dengan cara yang lebih sehat, seperti direbus menjadi sop, soto, atau campuran bakso tanpa santan dan minyak berlebih, kikil masih aman untuk dinikmati sesekali,” tutupnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *