Navaswara.com – Dunia seni rupa kontemporer Jakarta kembali diramaikan oleh pameran bertajuk EVATE yang diselenggarakan di Meiro Gallery, Gondangdia, Jakarta Pusat. Nama EVATE sendiri diambil dari penggalan kata elevate yang berarti mengangkat atau meninggikan, sebuah tema yang dipilih untuk mencerminkan ambisi pameran ini dalam mengangkat perspektif pengunjung serta emosi manusia melalui keindahan visual.
Secara filosofis, tema ini merujuk pada proses perkembangan artistik di mana seni tidak boleh bersifat statis. Seni dinilai sebagai sesuatu yang harus terus bergerak melampaui batasan media konvensional untuk beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan jiwanya. Melalui narasi ini, Meiro Gallery ingin menyampaikan pesan bahwa di tengah dunia yang semakin kompleks, seni tetap menjadi instrumen utama untuk mengangkat semangat kita menuju level yang lebih tinggi.
Keistimewaan pameran ini terletak pada kolaborasi lintas karakter dari para seniman yang terlibat, di antaranya adalah Nicolas Lesaffre, Arkiv Vilmansa, Andre Tanama, dan Javier Gonzalez Burgos. Masing-masing seniman membawa ciri khas masing-masing yang menciptakan keharmonisan dalam ruang galeri.
Nicolas Lesaffre hadir dengan karakter digitalnya yang tampak hidup dan memiliki dimensi emosional yang kuat. Sementara Arkiv Vilmansa, sang ikon seni kontemporer Indonesia, kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam mengolah garis lengkung presisi dan warna-warna matang pada karakter khasnya. Ada pula Javier Gonzalez Burgos yang membawa nuansa bercerita melalui ilustrasi dan pahatan berkarakter unik. Perpaduan gaya pop-surrealism dan desain karakter ini menjadikan EVATE sebuah pesta visual yang kaya akan tekstur dan cerita.
Salah satu yang mencuri perhatian dalam pameran ini adalah karya milik Nicolas Lesaffre yang berjudul “Hug is King XL”. Karya ini hadir dalam skala raksasa yang mendominasi ruang, menampilkan karakter dengan proporsi unik dan permukaan yang halus nan berkilau. Secara visual, karya ini memikat karena estetika yang menggemaskan, namun secara makna, Hug is King XL merupakan sebuah kritik sekaligus oase terhadap kondisi sosial masyarakat modern.
Di era digital saat interaksi manusia sering kali hanya terbatas pada layar kaca, Lesaffre ingin menegaskan bahwa pelukan adalah bentuk komunikasi paling murni yang pernah ada. Pelukan melambangkan perlindungan, empati, dan penerimaan tanpa syarat yang tidak bisa digantikan oleh teknologi apa pun.
Pemilihan ukuran XL atau ekstra besar pada karya tersebut bukanlah tanpa alasan, melainkan karena melalui skala tersebut sang seniman seolah ingin mengepung pengunjung dengan rasa hangat dan kasih sayang yang meluap. Skala besar ini memaksa setiap individu yang memandangnya untuk menyadari betapa kecilnya ego manusia jika dibandingkan dengan kekuatan hubungan antarmanusia.
