Navaswara.com – Banyak orang masih menyamakan maag, asam lambung, dan GERD sebagai satu penyakit yang sama. Padahal ketiganya berbeda, baik dari penyebab, gejala, maupun tingkat keparahannya. Memahami perbedaannya membantu seseorang mengenali gejala sejak awal serta menentukan langkah penanganan yang tepat.
Maag atau Dispepsia
Maag atau dispepsia merupakan rasa tidak nyaman pada perut bagian atas yang biasanya muncul setelah makan atau minum. Keluhan yang sering muncul antara lain nyeri ulu hati, perut terasa penuh, kembung, hingga mual.
Penelitian dalam Journal of Gastroenterology and Hepatology tahun 2020 menunjukkan prevalensi dispepsia fungsional di Asia Tenggara berkisar 8 hingga 23 persen dari populasi umum. Indonesia termasuk negara dengan angka kasus yang cukup tinggi.
Asam Lambung Naik atau Refluks Asam
Kondisi yang sering disebut “asam lambung naik” sebenarnya dikenal sebagai refluks asam. Keadaan ini terjadi ketika cairan asam dari lambung bergerak naik ke kerongkongan.
Gejala yang paling sering muncul adalah rasa panas di dada atau heartburn, sensasi perih di ulu hati, serta rasa asam di bagian belakang mulut.
Berbeda dari maag yang berupa kumpulan gejala, refluks asam berkaitan dengan mekanisme aliran balik isi lambung ke esofagus.
Studi dalam American Journal of Gastroenterology tahun 2022 mencatat sekitar 20 persen orang dewasa mengalami episode refluks asam setidaknya sekali dalam seminggu.
Dokter dan edukator kesehatan Tirta Mandira Hudhi menjelaskan bahwa beberapa kebiasaan dapat memicu kondisi ini. Konsumsi makanan tinggi lemak, kafein berlebihan, serta kebiasaan langsung berbaring setelah makan sering menjadi pemicunya.
GERD Kondisi Refluks yang Bersifat Kronis
GERD merupakan singkatan dari Gastroesophageal Reflux Disease. Kondisi ini terjadi ketika refluks asam berlangsung berulang dalam jangka panjang.
Masalah utamanya terletak pada melemahnya katup di bagian bawah kerongkongan atau lower esophageal sphincter. Akibatnya asam lambung lebih mudah naik dan mengiritasi dinding esofagus.
Meta analisis dalam Gut Journal tahun 2023 menunjukkan bahwa GERD yang tidak tertangani dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko Barrett’s esophagus hingga sekitar 10 sampai 15 persen. Kondisi ini dikenal sebagai perubahan jaringan kerongkongan yang berkaitan dengan risiko kanker.
Ahli gastroenterologi Universitas Indonesia Marcellus Simadibrata menegaskan bahwa GERD perlu pengelolaan jangka panjang.
“GERD adalah penyakit yang harus ditangani secara serius dan berkelanjutan. Jika dibiarkan, komplikasinya dapat berkembang lebih jauh,” ujarnya.
Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi–Hepatologi FKUI RSCM, Ari Fahrial Syam, mengatakan GERD dapat membaik bahkan sembuh apabila faktor risikonya dikendalikan serta pengobatan dijalani hingga tuntas.
“Pengobatan bertujuan menghilangkan gejala sekaligus mencegah komplikasi. Perubahan gaya hidup juga penting. Jika pasien merokok harus berhenti. Konsumsi alkohol juga perlu dihentikan. Berat badan diturunkan serta menerapkan pola makan rendah lemak,” katanya.
Di antara ketiganya, GERD dianggap sebagai kondisi yang paling serius karena bersifat kronis dan dapat menimbulkan komplikasi pada kerongkongan.
Namun maag maupun refluks asam yang berulang juga tidak sebaiknya diabaikan. Keluhan yang muncul lebih dari dua kali dalam seminggu sebaiknya diperiksakan ke dokter spesialis penyakit dalam untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.
Peran Probiotik dalam Menjaga Saluran Cerna
Selain terapi medis, menjaga kesehatan saluran cerna secara menyeluruh juga penting. Salah satu bidang yang banyak diteliti dalam beberapa tahun terakhir adalah penggunaan probiotik seperti Lactobacillus reuteri DSM 17938.
Strain probiotik ini telah diteliti dalam berbagai studi klinis dan dinilai dapat digunakan sebagai suplemen pendamping untuk membantu keseimbangan sistem pencernaan.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa bakteri ini dapat membantu mempercepat proses pengosongan lambung, menjaga keseimbangan mikrobiota usus, serta menekan pertumbuhan bakteri patogen tertentu.
Penelitian oleh Flavia Indrio dari Università degli Studi di Bari yang dipublikasikan di European Journal of Clinical Investigation menunjukkan strain ini dapat mempercepat pengosongan lambung pada subjek penelitian.
Sementara ulasan ilmiah oleh Mu Qinghui dalam Frontiers in Microbiology menjelaskan bahwa L. reuteri menghasilkan senyawa antimikroba alami bernama reuterin yang membantu menekan bakteri patogen tanpa mengganggu bakteri baik.
Ahli gastroenterologi anak dari Belgia Yvan Vandenplas juga menyebutkan bahwa strain probiotik ini memiliki profil keamanan yang baik dalam berbagai penelitian klinis.
Meski begitu, penggunaan suplemen probiotik tetap perlu dikonsultasikan dengan tenaga medis agar sesuai dengan kondisi kesehatan masing masing.
