Navaswara.com – Di tengah gegap gempita narasi hilirisasi nikel, kejayaan sawit, hingga ambisi kendaraan listrik yang digadang-gadang sebagai mesin masa depan Indonesia, muncul sebuah refleksi tajam dari sudut pandang yang berbeda. Ruang galeri Singapore Art Museum menghadirkan suasana yang tak biasa hingga 31 Mei. Dua seniman kenamaan, Elia Nurvista dan Bagus Pandega, memilih untuk menanggalkan jubah optimisme industri tersebut.
Biasa hadir sebagai simbol kemajuan, di ruang pamer, dua seniman justru melihat ketiga hal tersebut sebagai rangkaian tarikan napas bumi yang kian berat oleh panen tanpa jeda. Lewat Nafasan Bumi ~ An Endless Harvest, Elia Nurvista dan Bagus Pandega mengajak publik membaca ulang jejak material yang selama ini dianggap wajar.
Pameran ini membayangkan kehidupan lanjutan dari bahan-bahan yang tetap ada jauh setelah manusia selesai menggunakannya. Perkebunan, tambang, dan teknologi baterai menjadi latar yang memperlihatkan bagaimana ekonomi ekstraktif Indonesia menyokong kebutuhan global hari ini. Dari oksigen hingga nikel untuk baterai lithium, dari hutan yang ditebang hingga turunan sawit yang hadir di berbagai produk, semua berkelindan dalam satu tarikan napas yang sama.

Di ruang instalasi, kerja tampil sebagai ingatan sekaligus bayangan masa depan. Sabuk konveyor yang dulu identik dengan revolusi industri kini bergerak mengikuti denyut tanaman tropis, membangun siklus produktivitas yang terasa tak pernah usai. Patung dari lilin sawit berdiri menyerupai batu pahat, namun permukaannya menyimpan residu perkebunan yang sulit dihapus.
Material limbah sawit yang rapuh dipertemukan dengan bentuk yang tegar, menghadirkan ketegangan antara daya tahan dan kerentanan. Asap kabut yang saban tahun menyelimuti Indonesia, Singapura, dan Malaysia saat monsun barat daya menjadi metafora yang terus teringat. Nafas bumi terasa menggantung, mengingatkan bahwa setiap kemajuan teknologi menyimpan ongkos ekologis yang panjang.
Bagus Pandega, kelahiran Jakarta tahun 1985 dan berbasis di Bandung, dikenal melalui sistem kinetik yang memadukan mesin industri, pemrograman, suara, dan biofeedback tanaman. Ia pernah tampil di Documenta 15 di Kassel serta Asia Pacific Triennial di QAGOMA. Praktiknya menelusuri bagaimana sejarah kolonial dan sumber daya alam membentuk lanskap sosial Indonesia hari ini.
Sementara Elia Nurvista, seniman asal Yogyakarta kelahiran 1983, menyoroti politik pangan dan ketimpangan dalam sistem produksi global. Ia terlibat dalam berbagai biennale internasional termasuk Sharjah Biennial dan Diriyah Biennale, serta menerima Villa Roman Prize 2025. Kolaborasi ini menempatkan masa depan energi dan pangan sebagai pilihan etis tentang bagaimana manusia ingin terus bernapas bersama bumi.
