Navaswara.com – Pengurus Besar (PB) Akuatik Indonesia resmi tancap gas. Skuad Merah Putih memulai Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) di Stadion Akuatik Gelora Bung Karno (GBK), Senayan. Langkah ini merupakan misi besar untuk mengakhiri puasa medali selama 28 tahun di ajang Asian Games.
Ketua Umum PB Akuatik Indonesia, Anindya Bakrie, menegaskan bahwa persiapan menuju Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang, dilakukan dengan standar yang jauh lebih tinggi. “Hari ini kita mulai lembaran baru. Target kita jelas: pecahkan kebuntuan medali sejak 1998 dan bangun fondasi menuju Olimpiade Los Angeles 2028,” ujarnya dalam pembukaan Pelatnas di Jakarta.
Berikut adalah 3 poin kunci strategi “Garuda Akuatik” untuk mengguncang Asia:
1. Kekuatan 18 Atlet Pilihan dan Amunisi Diaspora
PB Akuatik telah mengajukan 18 atlet terbaik kepada Kemenpora untuk menghuni Pelatnas. Daftar ini mencakup perenang spesialis lintasan pendek hingga jarak jauh yang telah melalui seleksi ketat selama setahun terakhir.
Dua nama yang menjadi sorotan utama adalah Felix Viktor Iberle dan Masniari Wolf. Felix, yang merupakan juara dunia junior, saat ini sedang mematangkan tekniknya di Malaysia, sementara Masniari tetap menjalani program intensif di Jerman. Keduanya dijadwalkan akan segera bergabung dengan tim di Jakarta sebelum bertolak ke pemusatan latihan internasional.

2. Strategi LTAD dan Tryout ke Amerika Serikat
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini federasi menerapkan sistem Long Term Athlete Development (LTAD). Strategi ini mengedepankan pendekatan sport science untuk memastikan atlet mencapai puncak performa (peak performance) tepat pada September 2026 mendatang.
Guna mengasah mental bertanding, PB Akuatik menjadwalkan program tryout ke Amerika Serikat pada pertengahan tahun ini. Amerika Serikat dipilih karena memiliki atmosfer kompetisi renang paling kompetitif di dunia. “Kita ingin atlet kita terbiasa beradu cepat dengan perenang-perenang kelas dunia agar mental mereka tidak goyah saat menghadapi raksasa Asia seperti China dan Jepang,” ungkap Manajer Tim, Wisnu Wardhana.
3. Misi Memutus Kutukan 28 Tahun
Sejarah mencatat Indonesia terakhir kali membawa pulang medali akuatik di Asian Games pada edisi 1998 melalui perenang legendaris Richard Sam Bera. Sejak saat itu, podium seolah menjadi barang mewah bagi perenang Indonesia di level Asia.
Tahun 2026 menjadi momentum yang dianggap paling pas untuk memutus rantai kegagalan tersebut. Dengan target minimal satu medali perunggu, PB Akuatik optimis bahwa kombinasi antara atlet muda berbakat, fasilitas GBK yang mumpuni, dan dukungan penuh pemerintah akan membuahkan hasil bersejarah di Nagoya nanti.
Pelatnas yang dimulai berjalan secara kontinu hingga keberangkatan tim ke Jepang pada September mendatang. Masyarakat pun menaruh harapan besar agar lagu Indonesia Raya kembali berkumandang dari kolam renang tingkat internasional.
