Navaswara.com – Indonesia kembali berduka. Salah satu putra terbaik bangsa, Try Sutrisno, tutup usia. Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia itu meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta, pada Senin (2/3/2026). Kabar duka ini dikonfirmasi oleh mantan Kepala RSPAD Letjen TNI (Purn) Albertus Budi Sulistya.
Kepergian Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno bukan hanya kehilangan bagi keluarga besar TNI, melainkan juga bagi perjalanan panjang sejarah Indonesia. Namanya kembali menggema, bukan hanya sebagai mantan Panglima ABRI dan Wakil Presiden di era Orde Baru, tetapi juga sebagai sosok purnawirawan yang hingga akhir hayatnya tetap vokal menyuarakan isu-isu strategis kebangsaan.
Inilah sembilan fakta menarik pengabdian Try Sutrisno dari medan gerilya hingga Istana Wakil Presiden
Pengungsi yang Ditempa Revolusi
Try lahir di Surabaya, 15 November 1935, dari pasangan Soebandi dan Mardiyah. Masa kecilnya jauh dari kemewahan. Saat agresi militer berkecamuk, keluarganya mengungsi ke Mojokerto.
Di usia 11 tahun, sekolahnya terhenti. Ia menjual air minum, koran, hingga rokok di stasiun demi membantu keluarga.
Dua tahun berselang, pada usia 13 tahun, ia menjadi pesuruh di Batalyon Poncowati. Tak lama, ia dipercaya menjadi kurir dan anggota Penyelidik Dalam (PD), menyusup ke wilayah pendudukan Belanda membawa informasi dan logistik untuk pejuang Republik.
Masa kecil itu membentuknya menjadi pribadi yang sederhana, disiplin, dan tahan banting.
Masuk Akademi, Langsung ke Medan Operasi
Lulus SMA pada 1956, Try mendaftar Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad). Ia diterima dan memilih korps Zeni.
Baru beberapa tahun berdinas, ia langsung dikirim dalam operasi penumpasan PRRI/Permesta. Medan operasi menjadi ruang belajarnya yang sesungguhnya.
Kariernya bergerak pelan tapi pasti, dari komandan satuan kecil hingga menduduki jabatan strategis di berbagai kodam. Bintangnya terus naik.
Ajudan Presiden yang Belajar di Lingkar Dalam
Pada 1974–1978, Try dipercaya menjadi ajudan pribadi Presiden Soeharto.
Di posisi itu, ia melihat dari jarak sangat dekat bagaimana negara dijalankan. Ia menyaksikan pengambilan keputusan, pengelolaan krisis, hingga dinamika politik tingkat tinggi.
Namun, kedekatan itu tak membuatnya melebur. Ia dikenal loyal, tetapi menjaga jarak. Tak ikut dalam yayasan-yayasan keluarga Cendana. Tak terseret arus konglomerasi yang dekat dengan kekuasaan.
Di tengah Orde Baru yang sarat jejaring kepentingan, sikap itu bukan hal kecil.
Pangdam di Tengah Gejolak Ibu Kota
Sebagai Pangdam V/Jaya (1982–1985), Try menghadapi sejumlah peristiwa besar di Jakarta, mulai dari kebakaran Toserba Sarinah, peledakan bom di kantor cabang BCA, hingga peristiwa Tanjung Priok.
Ia dikenal tidak banyak bicara. Pendekatannya tegas, tetapi terukur. Ia lebih memilih bekerja dalam sunyi ketimbang tampil retoris.
Kariernya melesat lagi, dari Wakasad, lalu menjadi KSAD, hingga pada 1988 dilantik sebagai Panglima ABRI menggantikan Jenderal LB Moerdani. Itu puncak karier militernya.
Wakil Presiden yang Tak Sepenuhnya Dikehendaki
Pada Sidang Umum MPR 1993, Fraksi ABRI mengusulkan namanya sebagai Wakil Presiden. Prosesnya disebut-sebut tak sepenuhnya mulus.
Namun, ia akhirnya resmi menjadi Wakil Presiden RI periode 1993–1998 mendampingi Soeharto.
Menariknya, pada 1997, banyak kalangan profesional dan pelaku pasar berharap ia tetap menjadi wapres, bahkan dipandang sebagai figur potensial pengganti presiden.
Namun, pilihan jatuh kepada B. J. Habibie. Pasar bereaksi keras. Rupiah terperosok tajam. Try tetap tenang. Tak ada manuver politik, tak ada protes terbuka.
Tetap Hormat Saat Orde Baru Runtuh
Saat Soeharto lengser pada 1998, banyak tokoh Orde Baru menjaga jarak.
Try tidak.
Ia termasuk sedikit pejabat tinggi yang tetap memberi dukungan moril dan menjaga komunikasi.
Namanya sempat disebut sebagai figur alternatif kepemimpinan nasional. Bahkan dikaitkan dengan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI).
Jawabannya sederhana, ia merasa sudah terlalu tua untuk menjadi presiden.
Baginya, pengabdian tak harus selalu dari puncak kekuasaan.
Pembina Olahraga dan Tokoh Organisasi
Tak banyak yang tahu, Try pernah memimpin PBSI pada 1985–1993.
Ia memperkuat pembinaan jangka panjang, membenahi struktur organisasi, dan merintis sistem pelatnas yang lebih terarah.
Beberapa tahun kemudian, hasilnya terlihat di Olimpiade Barcelona 1992 ketika Indonesia meraih dua emas.
Selepas purna tugas, ia aktif di Pepabri, Yayasan Kejuangan Panglima Besar Sudirman, hingga lembaga persahabatan Indonesia–Malaysia.
Ia tak memilih pensiun dari pengabdian.
Vokal di Usia Senja
Di usia lanjut, namanya kembali mencuat ketika menjadi salah satu penandatangan tuntutan Forum Purnawirawan Prajurit TNI, termasuk desakan pergantian Wakil Presiden melalui MPR.
Respons datang dari Presiden Prabowo Subianto yang menyatakan menghormati masukan para purnawirawan, namun menegaskan bahwa keputusan negara tak bisa diambil secara spontan.
Polemik itu kembali menempatkan nama Try di pusaran perbincangan nasional.
Di usia senja, ia tetap memilih bersuara.
Jenderal yang Menjaga Batas
Dalam sejarah panjang Orde Baru, banyak figur militer larut dalam pusaran kekuasaan. Try dikenal berbeda. Loyal, tetapi tidak oportunis. Dekat dengan pusat kekuasaan, tetapi tak larut dalam lingkar kepentingan.
Ia menjaga jarak. Ia menjaga nama. Dan itu yang membuatnya tetap dihormati lintas generasi.
Kini, Indonesia kehilangan seorang prajurit yang hidupnya ditempa perang, disiplin, dan kesederhanaan.
Try Sutrisno mungkin telah berpulang.
Namun kisahnya, tentang seorang anak pengungsi yang menapaki tangga kekuasaan tanpa kehilangan pijakan akan tetap menjadi bagian dari narasi besar republik ini.
Selamat Jalan Pak Try…
Foto: Dok. Istimewa
