Navaswara.com – Di era ketika semua orang bisa bersuara dan menunjukkan pencapaian dalam hitungan detik, ada satu nasihat Jawa yang terasa semakin relevan, “Aja dadi uwong sing rumangsa bisa lan rumangsa pinter, nanging dadiya uwong sing bisa lan pinter rumangsa.”
Kalimat itu sederhana, tapi maknanya dalam. Artinya, jangan jadi orang yang merasa bisa dan merasa pintar, melainkan jadilah orang yang benar-benar bisa dan pintar, serta punya rasa.
Pepatah ini kerap dikaitkan dengan tokoh besar Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Raja sekaligus negarawan yang juga pernah menjabat Wakil Presiden RI itu dikenal luas bukan hanya karena kepemimpinannya, tetapi juga karena nilai-nilai kebijaksanaan yang ia wariskan. Meski dalam tradisi lisan Jawa ungkapan semacam ini sering hidup turun-temurun, nama Sultan HB IX menjadi figur yang paling sering disebut saat petuah tersebut dikutip.
“Merasa bisa” dan “merasa pintar” bukanlah hal yang sama dengan benar-benar mampu. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin sering bertemu orang yang cepat berpendapat, gemar mengoreksi, atau selalu ingin terlihat paling tahu. Tapi ketika diuji, tak semua benar-benar punya kedalaman.
Nasihat ini seperti teguran halus agar kita tidak terjebak pada ilusi kemampuan. Percaya diri memang penting, tetapi tanpa fondasi pengetahuan dan pengalaman, bisa berubah menjadi kesombongan.
Sebaliknya, bagian kedua dari petuah itu justru lebih subtil, menjadi orang yang bisa dan pintar, namun tetap rumangsa atau memiliki rasa. Dalam falsafah Jawa, rasa bukan hanya perasaan, tetapi juga kepekaan, kesadaran diri, dan kemampuan membaca situasi.
Pintar yang Rendah Hati
Dalam kultur Jawa, kepintaran selalu berdampingan dengan andhap asor, rendah hati. Orang yang benar-benar berilmu justru tidak merasa perlu mengumumkan kepintarannya. Mereka tahu, semakin luas ilmu, semakin luas pula hal yang belum dipahami.
Sikap inilah yang membuat petuah tersebut terasa kontekstual di zaman sekarang. Media sosial, ruang diskusi publik, hingga dunia profesional sering kali mendorong orang untuk tampil paling tahu. Validasi datang dari respons dan pengakuan. Tanpa sadar, yang dikejar adalah citra pintar, bukan esensi kepintaran itu sendiri.
Padahal, orang yang benar-benar “pinter rumangsa” akan lebih berhati-hati dalam bersikap. Ia tahu kapan harus berbicara dan kapan cukup mendengar. Ia tidak mudah merendahkan orang lain, karena sadar setiap orang punya ruang belajar masing-masing.
Kemampuan yang Disertai Empati
Petuah ini juga menekankan empati. Pintar tanpa rasa bisa melukai. Benar tanpa kebijaksanaan bisa menyakiti. Sebaliknya, kemampuan yang dibalut kepekaan justru membawa manfaat lebih luas.
Dalam dunia kerja, misalnya, kecerdasan teknis saja tidak cukup. Kemampuan membaca situasi, memahami dinamika tim, dan menghargai perspektif orang lain sering kali menjadi pembeda. Begitu pula dalam relasi personal, keluarga dan pertemanan lebih membutuhkan kebijaksanaan daripada sekadar argumen paling logis.
Relevan Sepanjang Zaman
Filosofi ini hidup karena relevansinya tak pernah pudar, melampaui generasi dan tetap selaras dengan perubahan zaman.
Pada akhirnya, menjadi orang yang benar-benar bisa dan pintar adalah perjalanan panjang. Namun yang membuatnya utuh adalah rasa, kesadaran untuk tetap rendah hati dan tidak menjadikan ilmu sebagai alat meninggikan diri.
Karena sejatinya, pintar yang paling bernilai bukanlah yang paling keras terdengar, melainkan yang paling dalam terasa.
