Navaswara.com – Di tengah gemerlap kota yang terus berlari menuju masa depan, sebuah panggung di Galeri Indonesia Kaya kembali menghadirkan denyut masa lalu, hidup, berwarna, dan penuh jiwa. Di sanalah Pandawa Nawasena lahir, bukan sekadar lakon wayang orang, tapi sebuah pertemuan lintas generasi yang merayakan ketekunan, warisan, dan semangat baru untuk menjaga tradisi.
Suara gamelan menggema lembut, mengiringi langkah para Pandawa yang perlahan memasuki panggung. Dalam waktu sekitar 60 menit, penonton diajak menyusuri perjalanan lima bersaudara ini dari kekalahan mereka di permainan dadu, hingga pertemuan kembali dengan musuh lama yang meminta pertolongan. Di antara denting saron dan lenggok para penari, kisah itu menjelma bukan hanya sebagai legenda, tapi sebagai cermin dari kehidupan tentang harga diri, pengampunan, dan keberanian untuk tetap tegak meski pernah kalah.
Lakon Pandawa Nawasena adalah hasil kolaborasi antara para maestro Wayang Orang Bharata dan peserta Ruang Kreatif: Kelas Wayang Orang, sebuah program besutan Galeri Indonesia Kaya yang membuka jalan bagi publik untuk merasakan langsung dunia pewayangan. Selama lima hari, para peserta yang sebagian besar baru pertama kali bersentuhan dengan dunia ini berlatih, bergerak, dan menafsirkan tokoh-tokoh epik yang dulu hanya mereka kenal lewat cerita.
“Melalui pementasan ini, kami ingin menunjukkan bagaimana tradisi bisa bertemu dengan napas baru dari generasi penerus. Kolaborasi antara maestro Wayang Orang Bharata dengan generasi muda menjadi bukti bahwa tradisi bisa hidup dengan sentuhan segar, tanpa kehilangan maknanya,” ungkap Renitasari Adrian, Program Director Galeri Indonesia Kaya.
Bagi Wayang Orang Bharata, yang telah berdiri sejak 1972, proyek ini bukan sekadar pertunjukan, juga kesinambungan sejarah. Lebih dari 150 anggotanya, dari anak-anak berusia lima tahun hingga para maestro sepuh, terus menjaga panggung wayang orang tetap berdenyut di tengah gempuran hiburan digital. Dari Gedung Bharata di Senen hingga panggung di Mesir, Belanda, dan Jerman, kelompok ini tak henti menegaskan bahwa kesenian tradisional Indonesia masih punya tempat di dunia.
Teguh Kenthus Ampiranto, salah satu maestro sekaligus pimpinan Wayang Orang Bharata, menyebut Pandawa Nawasena sebagai pengalaman segar. “Anak-anak muda membawa energi baru. Mereka belajar bukan hanya soal gerak dan dialog, tapi juga nilai-nilai dalam wayang tentang kesetiaan, kehormatan, dan kebijaksanaan. Ketika mereka naik panggung, ada rasa haru. Tradisi ini masih punya penerus,” urainya.
Lebih dari sekadar tontonan, Pandawa Nawasena adalah ruang temu antara guru dan murid, masa lalu dan masa depan, tradisi dan inovasi. Di tengah masyarakat yang sering kali sibuk mencari hal baru, Galeri Indonesia Kaya menunjukkan bahwa sesuatu yang “lama” bisa terus relevan, jika diberi ruang untuk bernafas dan berkembang.
“Wayang orang bukan sekadar hiburan, tapi warisan budaya yang penuh nilai kehidupan. Dan tugas kita adalah memastikan napasnya tak padam,” tambah Teguh.
Setiap minggu, panggung Galeri Indonesia Kaya menjadi saksi bagaimana seni tradisional Indonesia menemukan bentuk-bentuk baru untuk bertahan. Di antara sorot lampu dan tepuk tangan penonton, Pandawa Nawasena berdiri sebagai pengingat bahwa menjaga budaya bukan berarti menahan waktu, melainkan terus menyalakan obor agar cahayanya tetap menerangi generasi berikutnya.

