Menelisik Filosofi Barongsai, Simbol Tolak Bala hingga Hiburan Imlek Modern

Navaswara.com – Dentuman drum memecah keramaian. Dua sosok singa warna-warni melonjak lincah, sesekali berdiri tegak sambil menggoyangkan kepala. Penonton bertepuk tangan, kamera ponsel terangkat, barongsai kembali jadi bintang setiap perayaan Tahun Baru Imlek.

Bagi banyak orang, barongsai mungkin hanya sebatas tontonan meriah. Padahal, di balik kostum mencolok dan gerakan akrobatiknya, tersimpan sejarah panjang, filosofi keberuntungan, hingga jejak akulturasi budaya yang menarik.

Sekilas, barongsai kerap disangka naga. Padahal dalam tradisi Tiongkok, tarian singa ini terbagi dalam dua gaya utama, yakni Singa Utara dan Singa Selatan.

Singa Utara biasanya berbulu keriting dengan gerakan akrobatik yang menonjol. Sementara Singa Selatan tampil lebih ekspresif, kepala lebih besar, warna kontras, sering dilengkapi tanduk khas. Gaya inilah yang paling sering ditemui di Indonesia.

Memainkan barongsai bukan perkara mudah. Tarian ini memadukan seni tari, bela diri, dan akrobatik. Pemain depan mengontrol ekspresi kepala singa, sedangkan pemain belakang menjaga keseimbangan tubuh. Kekompakan jadi kunci agar gerakan terlihat hidup.

Makna Ritual dan Tradisi Lay See

Tak semua orang tahu bahwa barongsai punya pakem gerakan tertentu. Dalam bukunya Pembelajaran Seni Tari di Indonesia dan Mancanegara, Arina Restian menyebut ada delapan elemen dasar, mulai dari fase “bangun tidur”, bermain, hingga ritual pencarian makanan.

Salah satu bagian paling ditunggu adalah lay see, saat singa “memakan” amplop merah berisi uang yang biasanya digantung bersama selada. Selada ini dipercaya melambangkan rezeki, kemakmuran, dan harapan keberuntungan. Proses ini adalah simbol doa agar tempat atau orang yang didatangi mendapat keberkahan.

Sejak Masa Dinasti Chin 

Sejarah barongsai dipercaya sudah ada sejak masa Dinasti Chin sekitar abad ke-3 SM dan berkembang pesat pada periode Dinasti Nan-Bei. Tarian singa kala itu diyakini mampu mengusir roh jahat sekaligus membawa keberuntungan.

Tradisi ini masuk ke Nusantara lewat migrasi masyarakat Tiongkok sejak abad ke-17. Menariknya, istilah “barongsai” sendiri merupakan hasil akulturasi, yaknia barong berasal dari bahasa Jawa yang merujuk pada sosok singa mitologis. Sementara, Sai dari dialek Hokkian yang berarti singa. Perpaduan istilah ini mencerminkan pertemuan budaya Tionghoa dan lokal.

Pernah Dilarang, Kini Jadi Olahraga Prestasi

Barongsai sempat mengalami masa sulit di Indonesia, terutama pada era Orde Baru ketika ekspresi budaya Tionghoa dibatasi. Banyak kelompok barongsai vakum, bahkan nyaris hilang dari ruang publik.

Setelah reformasi, kesenian ini kembali bangkit. Kini barongsai tak hanya tampil saat Imlek atau acara budaya, tetapi juga berkembang sebagai cabang olahraga di bawah Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) dan diakui KONI.

Indonesia bahkan beberapa kali meraih prestasi di kejuaraan barongsai internasional. Menariknya, pemain barongsai sekarang datang dari berbagai latar belakang etnis, tak lagi didominasi keturunan Tionghoa.

Seiring berjalannya waktu, barongsai mengalami perubahan fungsi. Selain tampil di kelenteng atau perayaan tradisional, barongsai kini sering hadir di mal, festival kota, hingga acara komersial.

Ada juga fenomena “barongsai keliling” yang mendatangi rumah atau toko untuk menerima angpao, tradisi yang bagi sebagian orang tetap dianggap membawa keberuntungan.

Meski sebagian unsur sakral mulai berkurang, adaptasi ini justru membuat barongsai tetap relevan. Dari ritual budaya hingga hiburan modern, tarian singa terus menemukan cara bertahan di tengah perubahan zaman.

Barongsai bukan hiburan saat Imlek semata. Tarian singa ini punya sejarah panjang, filosofi tolak bala, hingga kini berkembang jadi olahraga prestasi di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *