Profesor Premana W. Premadi, Perempuan Indonesia Pertama Peraih Doktor Astrofisika

Navaswara.com – Menjadi perempuan di bidang sains kerap berarti harus berjalan lebih jauh dan lebih keras. Hal itu tercermin dalam perjalanan Profesor Premana W. Premadi, perempuan Indonesia pertama yang meraih gelar doktor di bidang astrofisika sekaligus perempuan pertama yang menjabat Direktur Observatorium Bosscha.

Namanya bahkan diabadikan dalam dunia astronomi sebagai asteroid 12937 Premadi. Namun, di balik pencapaian tersebut, tersimpan kisah panjang tentang ketekunan, keberanian, dan upaya menembus batas di ruang akademik yang masih didominasi laki-laki.

Ketertarikan Premana pada sains berawal dari rasa ingin tahunya terhadap alam semesta. Astronomi, menurutnya, menawarkan sudut pandang yang berbeda. Meski demikian, berkarier di bidang ini bukan perkara mudah, terutama bagi perempuan.

“Astronomi memberikan nuansa yang lain, tetapi untuk berkarier di bidang ini ada serangkaian faktor keberuntungan dan dorongan dari lingkungan sekitar,” kata Premana dilansir dari situs Alumniamagz.

Sebelum lulus, Premana sudah mendapat tawaran menjadi dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia kemudian melanjutkan studi kosmologi ke Amerika Serikat dan pendidikan pascadoktoral ke Jepang. Saat belajar di University of Texas at Austin, ia bergabung dengan Center of Relativity dan bekerja bersama peneliti dari berbagai negara.

Di lingkungan tersebut, perempuan, terutama dari Asia menjadi minoritas. Premana menyadari bahwa kegagalannya tak hanya akan dilihat sebagai kegagalan personal.

“Jika saya gagal, saya bukan gagal pribadi. Saya gagal sebagai orang Asia dan sebagai perempuan,” ujarnya.

Di Amerika, Premana menemukan sosok mentor penting, Profesor Cécile DeWitt-Morette, fisikawan dan matematikawan pionir yang pernah bekerja bersama Albert Einstein dan Richard Feynman. Pengalaman serupa ia temui di Jepang, bahkan dengan proporsi perempuan yang lebih sedikit lagi di fasilitas astronomi tempatnya bekerja.

Menurut Premana, tantangan perempuan di sains justru kerap muncul ketika memasuki fase berkarier. Di Indonesia, jumlah perempuan yang menempuh pendidikan sains cukup besar, namun hambatan sering datang setelah berkeluarga.

“Saya kurang tahu mengapa ketika sudah berkarier, perempuan lebih banyak hambatan,” katanya. Ia menilai komunikasi dan dukungan lingkungan menjadi kunci untuk bertahan.

Sebagai pemimpin Observatorium Bosscha, Premana juga menunjukkan kepemimpinan yang adaptif. Saat pandemi, Bosscha menjadi pionir pengamatan langit daring melalui aplikasi Zoom, yang melibatkan guru-guru dari Aceh hingga Papua.

“Kamera teleskop kami tampilkan ke aplikasi, diselingi cerita dan tanya jawab. Benar-benar menyenangkan,” ujarnya.

Perhatian Premana terhadap pendidikan sains anak juga menjadi bagian penting dari kiprahnya. Melalui proyek Universe Awareness for Children (UNAWE) Indonesia, ia aktif melatih guru-guru sains agar mampu mengajarkan konsep kompleks dengan cara yang ramah dan menyenangkan.

Ia percaya, membangun kemampuan berpikir rasional dan logis sejak dini penting bagi anak-anak, termasuk anak perempuan, agar percaya diri menekuni bidang sains.

“Astronomi bisa menjadi gerbang ketertarikan anak-anak pada sains. Cerita tentang lubang hitam, misalnya, bisa jadi pintu masuk ke matematika,” katanya.

Dedikasinya terhadap pendidikan dan pengembangan astronomi mengantarkannya meraih honorary fellowship dari Royal Astronomical Society pada 2023.

Ketertarikan Premana pada sains juga dipengaruhi sosok guru fisikanya di SMA Tarakanita Jakarta, seorang suster Katolik yang mengajarkan fisika dengan antusias dan penuh empati.

“Beliau bukan hanya menginspirasi saya pada fisika, tetapi juga pada cara mengajarnya,” kenang Premana.

Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, Premana menilai perempuan di dunia akademik perlu terus beradaptasi. Kolaborasi, penguasaan teknologi, dan keterbukaan terhadap perubahan menjadi kunci untuk tetap relevan.

Meski telah mencapai banyak hal, Premana tetap merendah. Baginya, pencapaian sejati adalah ketika ilmu yang ia geluti mampu menginspirasi generasi muda, terutama perempuan untuk berani bermimpi dan melangkah di bidang yang selama ini dianggap sulit dijangkau.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *