Navaswara.com – Ada rasa lega sekaligus optimisme yang menguat ketika PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memaparkan kinerja sepanjang 2025. Sebuah tahun yang kembali menguji ketahanan sektor keuangan di tengah dinamika ekonomi global dan domestik. Bank berkode emiten BBCA tersebut menunjukkan pertumbuhan masih bisa dijaga, bahkan diperluas ke sektor-sektor yang berdampak langsung bagi perekonomian nasional.
Sepanjang 2025, BCA dan entitas anak mencatat total kredit sebesar Rp993 triliun atau tumbuh 7,7% secara tahunan (year on year/YoY). Secara rata-rata, pertumbuhan kredit mencapai 10,8% sepanjang tahun. Penyaluran kredit ini tersebar di berbagai sektor utama, mulai dari manufaktur, perdagangan, restoran, hotel, hingga rumah tangga, sektor yang selama ini menjadi tulang punggung pergerakan ekonomi nasional.
Di sisi pendanaan, dana giro dan tabungan (CASA) BCA meningkat 13,1% YoY menjadi Rp1.045 triliun. Total dana pihak ketiga (DPK) pun mencapai Rp1.249 triliun atau tumbuh 10,2% YoY. Aktivitas transaksi nasabah juga melonjak signifikan. Sepanjang 2025, total frekuensi transaksi BCA naik 17% YoY menjadi 42 miliar transaksi, dengan puncaknya hampir 300 juta transaksi diproses dalam satu hari .
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menyebut capaian ini tidak lepas dari kepercayaan nasabah serta dukungan pemerintah dan otoritas. “Kepercayaan nasabah menjadi motivasi kami untuk terus bergerak dan berkontribusi bagi ekonomi di seluruh penjuru Tanah Air,” ujarnya, Selasa (27/1). Menurut Hendra, berbagai inisiatif seperti BCA Expo, UMKM Fest, hingga pengembangan layanan digital turut memberi dampak positif terhadap kinerja perseroan.

Dari sisi penyaluran kredit, kredit usaha tumbuh 9,9% YoY menjadi Rp756,5 triliun. Sementara pembiayaan konsumer tercatat Rp224,1 triliun, didukung kredit pemilikan rumah (KPR) sebesar Rp142,3 triliun dan kredit kendaraan bermotor (KKB) Rp56,6 triliun. BCA juga mulai menyalurkan KPR subsidi atau FLPP swasta sejak Oktober 2025 sebagai bagian dari dukungan terhadap sektor perumahan.
Kualitas aset tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah (NPL) berada di level 1,7%, sementara loan at risk (LAR) membaik menjadi 4,8% dari sebelumnya 5,3%. Pencadangan kredit dinilai memadai, mencerminkan kehati-hatian bank dalam menjaga stabilitas di tengah ekspansi.
Tak hanya fokus pada kinerja finansial, BCA juga memperluas pembiayaan berkelanjutan. Kredit ke sektor berkelanjutan tumbuh 11,7% YoY menjadi Rp255 triliun, termasuk pembiayaan energi baru terbarukan yang melonjak dua kali lipat menjadi Rp6,2 triliun. Di sisi lain, transformasi digital terus dipacu melalui pengembangan aplikasi myBCA dan pemanfaatan kecerdasan buatan untuk meningkatkan layanan serta keamanan transaksi.
Dengan laba bersih Rp57,5 triliun atau tumbuh 4,9% YoY, BCA menutup 2025 dengan catatan solid. Ini membuktikan bahwa di tengah ketidakpastian, perbankan masih bisa menjadi jangkar stabilitas sekaligus motor penggerak ekonomi nasional, asal dikelola dengan disiplin, inovasi, dan kepercayaan publik yang terus dijaga
