Navaswara.com – Chef de Mission (CdM) Kontingen Indonesia Reda Manthovani meninjau langsung kesiapan fasilitas medis tim Indonesia di Thailand. Peninjauan dilakukan di Suranaree University of Technology (SUT), Nakhon Ratchasima, Selasa (20/1).
Reda memberikan apresiasi atas kesiapan dan kesigapan tim medis dalam memberikan layanan kesehatan bagi para atlet. Menurutnya, fasilitas medis yang tersedia dinilai sangat mumpuni untuk menunjang kebutuhan atlet selama mengikuti kejuaraan.
“Untuk fasilitas medis, saya sudah meninjau langsung kesiapannya. Tadi juga dipraktikkan secara langsung. Alat-alat yang digunakan untuk terapi juga cukup bagus. Jadi, mereka sudah sangat sigap terhadap kedatangan atlet yang membutuhkan penanganan,” kata Reda.
Pada ajang tersebut, kontingen Indonesia menurunkan 290 atlet yang didampingi tim medis berpengalaman. Tim tersebut terdiri atas tujuh dokter, sembilan fisioterapis, dan sepuluh terapis pijat (masseur).
Koordinator tim dokter kontingen Indonesia Retno Setianingrum mengatakan, pendampingan medis telah dilakukan sejak awal kedatangan atlet di Thailand. Tim medis juga terlibat aktif dalam proses klasifikasi atlet serta bersiaga penuh selama sesi latihan.
Fasilitas medis kontingen dilengkapi sejumlah peralatan modern, antara lain cryotherapy, muscle pump recovery, extracorporeal shock wave therapy, transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS), EME medical physiotherapy devices, massage gun, dan ultrasound.
“Di fasilitas medis ini, kami menyediakan layanan recovery dan terapi. Recovery disiapkan untuk pemulihan atlet setelah latihan atau pertandingan, sedangkan terapi diberikan ketika atlet mengalami cedera,” ujar Retno.
Ia menjelaskan, tim dokter telah melakukan analisis risiko cedera terhadap seluruh atlet berdasarkan cabang olahraga masing-masing. Hasil analisis menunjukkan tingkat risiko cedera yang berbeda-beda pada setiap cabor.
“Kami sudah membaginya dengan stratifikasi risiko. Ada olahraga yang berisiko tinggi, ada juga yang risikonya rendah. Selain itu, kami juga menyebarkan tim medis untuk bersiaga di beberapa hotel tempat atlet menginap,” katanya.
Identifikasi risiko tersebut telah dilakukan sejak pemusatan latihan nasional (pelatnas) di Indonesia. Setiap atlet memiliki kebutuhan penanganan yang berbeda, termasuk berdasarkan alat bantu yang digunakan saat bertanding.
“Di awal pelatnas semuanya sudah dimitigasi. Misalnya, atlet yang menggunakan kursi roda dan bertanding di para angkat berat memiliki risiko cedera bahu yang tinggi, sehingga kami fokus pada penanganan di bagian tersebut,” ucap Retno.
Dokter lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menambahkan, tim medis juga memanfaatkan pendekatan sport science untuk mengidentifikasi kondisi dan performa atlet. Hasil pemeriksaan tersebut disampaikan kepada pelatih sebagai bahan evaluasi.
“Sebelumnya kami sudah melakukan identifikasi dengan alat sport science. Ada beberapa atlet yang mengalami cedera dan itu bisa mengganggu performa. Karena itu, kami berupaya memastikan mereka bertanding dalam kondisi seoptimal mungkin,” pungkasnya.
