Navaswara.com – Pada lanskap fesyen yang kini bergerak serbacepat mengikuti arus tren, jenama lokal Taza memilih jalur berbeda. Melalui ekshibisi tunggal pertamanya bertajuk A Tale of Tomorrow Where People Meet Responsibility, Taza membuka ruang baca yang lebih pelan tentang cara berpakaian, proses kreatif, dan konsekuensi jangka panjang dari setiap pilihan yang diambil hari ini.
Ekshibisi yang digelar di Jakarta ini dihadiri perwakilan pemerintah serta pelaku industri kreatif. Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Yuke Sri Rahayu, mengapresiasi langkah TAZA yang dinilainya mampu menghadirkan karya dengan integritas. Ia menilai ruang seperti ini penting sebagai pengingat bahwa proses kreatif tidak berhenti pada respons terhadap tren, tetapi turut menyusun arah dan nilai bagi penguatan subsektor fesyen serta jenama lokal ke depan.
Kehadiran mereka memberi sinyal bahwa fesyen tidak lagi dipandang semata sebagai produk gaya hidup, tetapi sebagai bagian dari ekosistem budaya yang ikut membentuk cara masyarakat memahami tanggung jawab dan keberlanjutan. Di titik ini, Taza menempatkan dirinya bukan sebagai pengikut arus, melainkan sebagai pengajak dialog.
Ashila Ramadhani, selaku Founder TAZA, menjelaskan bahwa pameran ini dirancang sebagai pengalaman naratif. Pengunjung diajak menelusuri perjalanan selembar kain melalui lima ruang berbeda, dimulai dari The Shared Home yang merepresentasikan alam sebagai sumber kehidupan, berlanjut ke The Hands Behind sebagai penghargaan bagi para penjahit dan tim produksi, lalu fase produk, relasi dengan pelanggan yang disebut Taza Sisters, hingga penutup The Ones To Come yang berbicara tentang warisan nilai ke depan.

“Intinya kami ingin mengajak refleksi bahwa apa yang kita lakukan hari ini akan berdampak ke masa depan. Isu tanggung jawab itu tidak hanya soal alam, tapi tentang legasi yang kita bangun lewat keputusan sehari-hari,” kata Ashilla kepada media.
Narasi tersebut berangkat dari latar personal pendiri Taza yang sejak kecil dekat dengan dunia seni. Ashilla mengungkapkan bahwa gagasan ekshibisi ini juga dipengaruhi oleh mendiang ayah mereka yang merupakan seorang pelukis. Dari sana tumbuh keinginan menghadirkan ruang yang memberi makna, bukan sekadar etalase produk atau aktivitas penjualan.
Dari sisi material, Taza tetap konsisten pada tiga pilar utama mereka yaitu komitmen, jaminan rasa aman, dan kenyamanan. Ketiganya diwujudkan melalui penggunaan Nubuck, kain berbahan serat cupro Bemberg asal Jepang yang dikenal ramah lingkungan dan memiliki tekstur menyerupai suede. Material ini dipilih bukan hanya karena estetika, tetapi karena kenyamanan yang ditawarkan bagi pemakainya.

Ashilla menilai kenyamanan berpakaian memiliki kaitan langsung dengan produktivitas. “Kalau kita merasa nyaman, hari jadi lebih produktif. Dari situ output bisa lebih baik. Kalau itu dilakukan terus-menerus dan konsisten, dampaknya bisa terasa lebih luas,” ujarnya.
Afina, sosok co-founder di balik Taza, menambahkan bahwa kesadaran dalam berpakaian merupakan bagian dari proses bertumbuh. Ia berharap ekshibisi ini dapat menemani para perempuan dalam membuat pilihan yang lebih bertanggung jawab. “Semoga Taza bisa terus membersamai teman-teman dalam proses menjadi pribadi yang lebih baik,” kata Afina.
Rangkaian A Tale of Tomorrow berlangsung hingga 15 Januari. Pada 11 dan 12 Januari, pengunjung dapat mengikuti sesi berbayar seperti talk show, lokakarya, hingga diskusi bisnis fesyen. Sementara pada 14 dan 15 Januari, pameran dibuka gratis tanpa aktivitas penjualan agar pengunjung dapat menyerap alur cerita dan pesan visual secara utuh. Di situlah Taza meletakkan harapannya agar fesyen kembali dibaca sebagai pengalaman, bukan sekadar transaksi.
