Navaswara.com – Inflasi yang tetap stabil dan harga pangan relatif terkendali menjaga daya beli masyarakat tetap nyaman. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan di Desember sebesar 2,92 persen, masih berada dalam kisaran aman 1,5–3,5 persen. Gejolak harga pangan berhasil diredam, sehingga tekanan terhadap kebutuhan pokok tetap ringan.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menyatakan, pemerintah hadir melalui berbagai instrumen untuk menstabilkan harga. “Mulai dari Gerakan Pangan Murah, SPHP beras, hingga bantuan pangan, semua diarahkan untuk memastikan masyarakat tetap tenang,” ungkapnya, Selasa (6/1/2026).
Gerakan Pangan Murah (GPM) atau operasi pasar menjadi salah satu intervensi utama. Hingga akhir tahun, GPM digelar di hampir 12 ribu lokasi, tersebar di 480 kabupaten/kota di 38 provinsi. Bapanas juga mengoptimalkan program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP), yang merealisasikan 1.064 ton untuk delapan komoditas strategis. Penyaluran tertinggi masih pada beras, kedelai, minyak goreng, dan gula, terutama di wilayah dengan pasokan terbatas.
Distribusi pangan diperluas lewat Kios Pangan. Hingga akhir tahun, jumlahnya mencapai 1.737 kios di 34 provinsi, dengan konsentrasi terbesar di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Kolaborasi dengan Perum Bulog melalui Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras turut memperkuat stabilisasi harga di tingkat konsumen, dengan penyaluran tercatat 802,9 ribu ton. Bantuan pangan sebagai perlindungan sosial juga disalurkan dua kali, termasuk beras alokasi Juni–Juli sebesar 365,49 ribu ton dan paket beras-minyak alokasi Oktober–November yang diterima oleh 17,37 juta penerima.
Di sisi produksi, Indonesia mencatat capaian swasembada jagung. BPS mencatat produksi jagung pipilan kering 14 persen mencapai 16,11 juta ton, sementara konsumsi berada di kisaran 15,64 juta ton, menghasilkan surplus sekitar 0,47 juta ton. Tidak ada impor jagung sepanjang tahun, sejalan arahan Presiden Prabowo Subianto agar petani dalam negeri tidak dirugikan. “Produksi dalam negeri harus jadi andalan, dan hasil kerja petani harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tegas Amran.
Surplus jagung dan stok carry over yang diproyeksikan mencapai 4,5 juta ton dipastikan cukup untuk memenuhi hampir tiga bulan kebutuhan nasional, dengan kebutuhan bulanan sekitar 1,4 juta ton. Dengan langkah-langkah ini, Bapanas menegaskan kesiapan menjaga stabilitas pangan dan harga di awal tahun.
