Navaswara.com — Di tengah derasnya arus globalisasi, ruang-ruang diskusi tentang jati diri bangsa terasa semakin penting. Di sebuah gelar wicara bertema sejarah, para sejarawan, arsiparis, dan akademisi berkumpul bukan sekadar untuk mengenang masa lalu, melainkan untuk membicarakan masa depan kebudayaan Indonesia. Dari forum inilah gagasan hilirisasi buku sejarah kembali ditegaskan sebagai jalan strategis memperkuat identitas nasional.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong hilirisasi penulisan buku sejarah agar tidak berhenti sebagai dokumentasi akademik, tetapi dapat dikembangkan menjadi berbagai produk budaya yang memberi manfaat luas bagi masyarakat, dalam Gelar Wicara Sejarah di Gedung A Kompleks Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Sabtu, 3 Januari 2026.
Dalam sambutannya pada acara bertajuk Menegaskan Keindonesiaan di Tengah Arus Global Penguatan Literasi dan Refleksi Sejarah, Fadli menekankan bahwa penulisan sejarah merupakan tantangan sekaligus tanggung jawab bersama para ilmuwan Indonesia, mulai dari sejarawan, arkeolog, antropolog, hingga sosiolog.
“Ini merupakan tantangan bagi para ilmuwan, sejarawan, arkeolog, antropolog, dan sosiolog kita. Apa yang bisa kita berikan bagi bangsa ini, paling tidak menuliskan. Dari tulisan itu akan lahir pengembangan dan kemanfaatan,” ujar Fadli.
Ia menilai, naskah sejarah yang disusun secara serius tidak boleh berhenti sebagai arsip atau bacaan terbatas. Menurutnya, buku sejarah perlu didorong ke arah hilirisasi melalui pengembangan karya kreatif seperti film, teater, dan medium seni lain yang mampu menjangkau publik lebih luas sekaligus memperkuat literasi sejarah.
Fadli juga menyoroti pentingnya upaya menemukan kembali dan menyempurnakan identitas keindonesiaan di tengah arus global. “Yang paling penting adalah bagaimana kita menemukan kembali, melengkapi, dan menyempurnakan identitas nasional Indonesia. Ini sangat pokok,” tegasnya.
Dalam satu tahun terakhir, Kementerian Kebudayaan telah memfasilitasi penulisan buku Sejarah Indonesia Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global yang melibatkan 123 sejarawan dari 34 perguruan tinggi di Indonesia. Ke depan, kementerian juga merencanakan penulisan sejarah Perang Mempertahankan Kemerdekaan 1945 hingga 1949, serta sejarah kerajaan besar Nusantara seperti Sriwijaya, Majapahit, dan Pajajaran.
Menurut Fadli, langkah ini tidak hanya memperkuat dokumentasi masa lalu, tetapi juga menjadi fondasi pengembangan ekosistem ekonomi budaya, membuka ruang bagi industri kreatif, UMKM berbasis konten sejarah, serta memperluas pemanfaatan pengetahuan sejarah dalam berbagai sektor.
