Navaswara.com – Pernahkah Anda berpapasan dengan sekelompok pria berpakaian serba hitam, berjalan tegap tanpa alas kaki di tengah riuhnya trotoar Jabodetabek? Mereka membawa tas kain sederhana (Koja) dan botol-botol madu hutan. Inilah Suku Baduy, atau yang lebih senang menyebut diri mereka Urang Kanekes.
Meski tinggal hanya beberapa jam dari megahnya Jakarta, masyarakat yang mendiami Pegunungan Kendeng, Banten, ini memilih jalan hidup yang kontras: menolak teknologi demi menjaga mandat leluhur.
Jejak Sejarah
Asal-usul Suku Baduy memiliki banyak wajah. Secara mitologi, mereka percaya sebagai keturunan Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa yang diturunkan ke bumi untuk menjaga keseimbangan dunia. Narasi ini kerap disandingkan dengan kisah Nabi Adam sebagai manusia pertama.
Namun, kacamata sejarah punya cerita lain. Para ahli menduga warga Kanekes adalah sisa-sisa masyarakat Kerajaan Pajajaran abad ke-16.
Saat Kesultanan Banten yang dipimpin Maulana Yusuf menaklukkan Pajajaran pada 1570, sebagian rakyat enggan memeluk agama baru. Mereka memilih menepi ke pedalaman hutan dan mengisolasi diri demi mempertahankan keyakinan nenek moyang.
Dua Sisi Kanekes
Meski tampak serupa bagi orang awam, Suku Baduy terbagi menjadi dua kelompok besar dengan aturan yang berbeda:
Baduy Dalam (Cikeusik, Cikertawana, Cibeo)
Mereka adalah “inti” dari tatanan adat. Ciri khasnya adalah pakaian serba putih yang melambangkan kesucian. Hidup mereka sangat tertutup, menolak segala bentuk teknologi, bahkan tak boleh menggunakan sabun atau pasta gigi kimia.
Baduy Luar
Bertindak sebagai “penyangga” yang mengelilingi wilayah Baduy Dalam. Mereka menggunakan pakaian hitam atau biru tua. Kelompok ini jauh lebih terbuka; mereka boleh menggunakan sabun, barang elektronik terbatas, hingga menerima turis untuk menginap di rumah mereka.
Sunda Wiwitan dan Falsafah Hidup Berdampingan Alam
Keyakinan mereka berakar pada Sunda Wiwitan, sebuah ajaran yang memuja kekuatan alam dan roh leluhur. Kehidupan mereka dipandu oleh kitab Sanghyang Siksa Kandang Karesian. Bagi mereka, alam bukan untuk ditaklukkan, melainkan dirawat.
Hal ini tecermin dari arsitektur rumah mereka. Tak ada semen atau paku; semua menggunakan bambu, kayu, dan batu kali sebagai pondasi. Rumah harus menghadap Utara atau Selatan agar mendapat sinar matahari yang cukup, sebuah kearifan lokal dalam menjaga kesehatan hunian tanpa alat elektronik.
Enam Pantangan
Hingga tahun 2026 ini, Suku Baduy masih teguh memegang “Pikukuh” atau aturan adat yang sangat ketat:
- Dilarang Menggunakan Transportasi: Sejauh apa pun tujuannya, mereka harus berjalan kaki.
- Tanpa Alas Kaki: Menjaga sentuhan langsung dengan bumi adalah sebuah keharusan.
- Arah Rumah yang Baku: Pintu hanya boleh menghadap Utara atau Selatan.
- Anti-Elektronik: Terutama bagi Baduy Dalam, tak ada tempat bagi smartphone atau televisi.
- Warna Pakaian Terbatas: Identitas mereka hanya ada pada hitam atau putih.
- Larangan Pakaian Modern: Celana jeans atau kaos distro tidak memiliki tempat dalam keseharian mereka.
Mengambil Pelajaran dari Kanekes
Di tengah dunia yang semakin bising dengan notifikasi dan polusi, Suku Baduy hadir sebagai pengingat bahwa kebahagiaan mungkin tidak selalu datang dari kecanggihan, melainkan dari kesederhanaan dan kemampuan untuk merasa cukup dengan apa yang disediakan oleh alam.
Bagi mereka, menjaga hutan berarti menjaga nyawa. Sebab jika hutan rusak, harmoni yang dititipkan Batara Cikal pun akan ikut sirna. Nilai-nilai luhur dan kekayaan filosofi seperti inilah yang harus terus kita rawat dan ceritakan kepada generasi mendatang agar tidak lekang oleh waktu.
Sejalan dengan semangat melestarikan warisan tradisi, Navaswara akan menggelar Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara 2026 di Banten.
Festival ini akan menjadi ruang bagi kita semua untuk mendengarkan kembali hikayat-hikayat hebat dari berbagai pelosok negeri, termasuk kisah-kisah mendalam dari tanah Pasundan dan Kanekes.
Jangan lewatkan kesempatan untuk merayakan narasi nusantara dalam balutan kreativitas modern yang memikat.
Foto: Dok. Istimewa
