Navaswara.com – Bergeraknya peta pariwisata global terlihat jelas dalam beberapa tahun terakhir. Data terbaru 2025 dari agen perjalanan Inggris, Brittany Ferries, menunjukkan 64 persen pelancong dunia kini adalah perempuan. Angka ini meninggalkan laki-laki di posisi 36 persen dan memperlihatkan perubahan nyata dalam cara perjalanan dipahami, direncanakan, dan dijalani. Temuan tersebut juga diperkuat laporan dari HotelAgio.com serta liputan BBC Travel yang mencatat pola serupa di berbagai kawasan.
Kenaikan ini tidak hadir tanpa konsekuensi industri. Sepanjang 2025, permintaan paket wisata yang dirancang khusus untuk perempuan melonjak hingga 230 persen. Brittany Ferries mencatat peningkatan tersebut sejalan dengan perubahan perilaku konsumen yang semakin spesifik dalam memilih layanan perjalanan. HotelAgio, yang mengompilasi data dari Condor Ferries dan sejumlah mitra perjalanan Eropa, melihat tren ini konsisten sepanjang tahun, bukan lonjakan musiman semata.
Perjalanan sendiri menjadi salah satu wajah paling menonjol dari fenomena ini. Secara global, 71 persen solo traveler adalah perempuan. Angka tersebut mencerminkan perubahan sikap terhadap mobilitas dan kemandirian, sekaligus menunjukkan kepercayaan diri yang tumbuh dalam mengambil keputusan perjalanan tanpa pendamping. Selain itu, perjalanan bersama teman perempuan atau yang populer disebut girls trip juga mencatat pertumbuhan signifikan. Pola ini dipilih karena memberi ruang berbagi pengalaman sekaligus rasa aman yang lebih kuat.
Meski demikian, aspek keamanan tetap menjadi perhatian utama. Survei yang sama mencatat sekitar 70 persen perempuan masih menyimpan kekhawatiran soal keselamatan saat bepergian. Isu ini mendorong meningkatnya minat pada tur berpemandu, akomodasi dengan sistem keamanan berlapis, serta layanan perjalanan yang transparan soal rute dan aktivitas. Bagi banyak pelancong perempuan, rasa aman menjadi faktor penentu sebelum memilih destinasi.

Ada beberapa faktor yang mendorong perubahan ini. Peningkatan kemandirian finansial membuat perempuan memiliki kontrol lebih besar atas waktu dan pilihan perjalanan. Liburan tidak lagi menunggu momen khusus, tetapi direncanakan sebagai bagian dari kebutuhan hidup. Selain itu, perjalanan sering dipandang sebagai sarana memperluas perspektif, memperkuat kepercayaan diri, dan memberi jarak dari rutinitas.
Perkembangan teknologi juga berperan besar. Akses ke platform pemesanan daring, peta digital, ulasan akomodasi, hingga komunitas traveler membuat perencanaan perjalanan terasa lebih aman dan terukur. Informasi yang dulu terbatas kini tersedia luas, memungkinkan perempuan menyusun rencana secara mandiri dengan tingkat risiko yang lebih terkendali.
Industri pariwisata pun menyesuaikan diri. Sejumlah hotel menghadirkan lantai atau kamar khusus perempuan dengan akses terbatas dan sistem keamanan tambahan. Agen perjalanan mulai menyusun itinerary yang mempertimbangkan kenyamanan, ritme perjalanan, serta kebutuhan ruang personal. Pendekatan ini bukan respons sesaat, melainkan penyesuaian terhadap perubahan profil pelancong global.
Dominasi perempuan dalam dunia traveling mencerminkan pergeseran sosial yang lebih luas. Mobilitas kini menjadi bagian dari ekspresi diri dan pilihan hidup yang semakin terbuka. Bagi industri pariwisata, perubahan ini membuka arah baru yang menuntut kepekaan, adaptasi, dan pemahaman lebih dalam terhadap siapa para pelancong hari ini dan apa yang mereka harapkan dari sebuah perjalanan.
