Kebiasaan Menunduk Picu Gangguan Saraf Tulang Belakang

Navaswara.com – Keluhan nyeri leher dan pinggang kini semakin banyak dialami kelompok usia muda. Keluhan ini sering muncul tanpa riwayat cedera dan baru terasa setelah aktivitas harian selesai. Pola postur tubuh yang berlangsung lama dan berulang menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan meningkatnya gangguan saraf tulang belakang.

Dokter spesialis bedah saraf di Lamina Pain and Spine Center, dr. Faisal, menjelaskan bahwa sistem saraf manusia bekerja sebagai satu kesatuan yang berpusat di otak dan memanjang hingga ke tulang ekor. “Saraf utamanya berasal dari otak, lalu turun melalui tulang belakang sampai ke tulang ekor, dan di setiap ruas itu ada serabut-serabut saraf yang keluar,” ujar dr. Faisal.

Tulang belakang terdiri dari lebih dari 30 ruas, dan pada setiap ruas tersebut terdapat saraf kecil yang menuju berbagai bagian tubuh. Menurut dr. Faisal, gangguan dapat muncul ketika salah satu titik mengalami masalah meskipun ukurannya terlihat kecil. Kondisi seperti bantalan antar-ruas yang robek atau bergeser dapat menekan saraf dan memicu nyeri.

Gangguan saraf tulang belakang dapat terjadi di berbagai area, mulai dari leher, punggung, hingga pinggang. Namun, leher menjadi salah satu lokasi yang paling sering mengalami keluhan. Hal ini berkaitan dengan kebiasaan postur tubuh yang cenderung menunduk dalam aktivitas sehari-hari.

Saat kepala berada pada posisi tegak, tulang belakang berfungsi menopang beban kepala yang mencakup tengkorak, otak, dan pembuluh darah dengan berat sekitar lima kilogram. Dalam posisi ini, struktur leher masih mampu bekerja secara optimal. Masalah baru mulai muncul ketika posisi kepala berubah dan leher menunduk.

Menurut dr. Faisal, peningkatan sudut tundukan memberi dampak besar pada beban leher. “Begitu kepala mulai menunduk, beban yang harus ditahan leher bertambah karena pengaruh gravitasi, apalagi kalau posisinya dipertahankan berjam-jam,” jelasnya. Kondisi ini dapat memicu spasme atau kekakuan otot leher.

Keluhan kerap baru dirasakan pada malam hari atau saat bangun tidur. Banyak orang mengira nyeri leher disebabkan posisi tidur atau bantal. Padahal, nyeri tersebut merupakan akumulasi dari beban berlebih yang diterima leher sepanjang hari akibat postur yang tidak disadari.

Aktivitas yang terlihat ringan, seperti duduk sambil menggunakan ponsel di perjalanan atau waktu luang, juga dapat memberi tekanan signifikan jika dilakukan dengan posisi menunduk dalam waktu lama. Kebiasaan ini sering luput dari perhatian karena tidak menimbulkan keluhan secara langsung.

dr. Faisal menjelaskan bahwa gejala gangguan saraf juga dapat muncul di area pinggang. Pada tahap awal, keluhan biasanya berupa nyeri lokal di pinggang atau menjalar ke area bokong. Jika kondisi saraf kejepit sudah lebih berat dan mengenai cabang saraf, nyeri dapat menjalar hingga paha dan betis bagian luar, bahkan disertai baal atau kesemutan di telapak kaki.

Apabila gangguan saraf dibiarkan tanpa penanganan, pola keluhan dapat berubah. Pada tahap lanjutan, nyeri dapat dirasakan di kedua kaki, terutama pada gangguan saraf di area lumbal. “Pada usia lanjut, keluhannya sering bukan lagi nyeri, tapi pasien merasa tidak kuat berjalan lama,” ujar dr. Faisal.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gangguan saraf telah memengaruhi kemampuan gerak. Karena itu, dr. Faisal menyarankan masyarakat untuk segera berkonsultasi saat muncul keluhan di leher atau pinggang. “Pemeriksaan penting untuk membedakan apakah keluhan berasal dari otot atau sudah melibatkan saraf,” tambahnya.

Jika penyebabnya masih pada otot, penanganan umumnya lebih ringan dan keluhan dapat membaik dengan cepat. Konsultasi sejak dini juga membantu pasien memahami kondisi tubuh dan menghindari kebiasaan yang berpotensi memperburuk kesehatan tulang belakang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *