Navaswara.com – Hari Ibu kerap dianggap jeda untuk mengevaluasi jejak langkah lama sekaligus memetakan arah baru bagi diri sendiri. Banyak perempuan memaknainya secara personal, sesuai perjalanan hidup dan peran yang sedang dijalani. Dari sana, muncul cara pandang yang beragam tentang menjadi ibu, menjadi perempuan, dan menjaga diri tetap utuh.
Bagi sebagian perempuan, menjadi ibu adalah tentang penemuan jati diri yang baru. Bagi yang lain, mungkin tentang perjuangan menjaga batas agar tidak “hilang” ditelan ekspektasi orang lain. Ada yang memaknainya dengan syukur yang meluap, namun ada juga yang sedang berdamai dengan rasa lelah karena tuntutan untuk selalu tampil sempurna sebagai perempuan.
Tujuh sosok perempuan inspiratif Indonesia berikut berbagi cerita dan refleksi mereka kepada Navaswara mengenai Hari Ibu.

Maya Miranda Ambarsari – Entrepreneur
Makna Hari Ibu kini telah bertransformasi dari sebatas perayaan simbolis menjadi ruang jeda reflektif untuk melihat ulang peran dan kerja emosional perempuan. Hal sama dimaknasi pengusaha dan aktivis Maya Miranda Ambarsari, momen ini adalah pengingat akan kekuatan perempuan. “Bagi saya, Hari Ibu bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan ruang refleksi; pengingat akan kekuatan perempuan dalam perannya masing-masing,” ujarnya.
Maya menekankan bahwa menjadi ibu sekaligus perempuan adalah perjalanan panjang penuh cinta dan keberanian, namun juga memerlukan kejujuran untuk mengakui kerapuhan. “Hari Ibu juga menjadi waktu untuk melihat ke dalam diri, mengakui bahwa seorang ibu pun manusia yang boleh lelah, boleh rapuh, dan boleh meminta jeda,” tambahnya.
Lebih jauh, Maya meyakini bahwa kemampuan mencintai keluarga harus berawal dari keberanian perempuan untuk menghargai dirinya sendiri. Ia berharap perempuan Indonesia dapat saling menguatkan tanpa terjebak dalam perbandingan, karena setiap individu memiliki ritme dan tantangan yang berbeda.
“Semoga semakin banyak perempuan yang diberi kesempatan, didukung, dan dipercaya untuk tumbuh, baik sebagai ibu, profesional, pemimpin, maupun sebagai diri mereka sendiri,” harapnya. Baginya, dukungan dan ruang aman bagi perempuan untuk merayakan potensinya adalah kunci, sebab perempuan yang kuat akan melahirkan generasi yang kuat demi masa depan Indonesia.

Chairani Rachmatullah – Direktur Utama PLN Enjiniring,
Hari Ibu selalu menjadi momen manis untuk refleksi tentang betapa hebatnya sosok perempuan, yang memberi dampak di berbagai ruang kehidupan. Bagi Chairani Rachmatullah, Direktur Utama PLN Enjiniring, Hari Ibu adalah pengingat akan kekuatan perempuan yang kerap kurang dipandang, namun sangat menentukan. “Hari Ibu bagi saya adalah momen refleksi atas kekuatan perempuan yang terkadang tidak terlihat, tetapi diperlukan dan bahkan sangat menentukan,” ujarnya. Ia melihat peran ibu dan perempuan tidak hanya membangun keluarga, tetapi turut menggerakkan perubahan di lingkungan kerja dan masyarakat. “Ketangguhan, empati, dan keikhlasan adalah fondasi kepemimpinan perempuan,” kata Chairani.
Chairani berharap perempuan Indonesia semakin percaya diri melangkah ke depan dan mengambil peran strategis tanpa harus memilih antara keluarga dan karier. “Keduanya bisa berjalan beriringan ketika didukung oleh ekosistem yang tepat,” ujarnya. Ia menilai semangat Srikandi PLN terletak pada praktik saling menguatkan dan membuka jalan bagi sesama. Ketika perempuan diberi ruang untuk tumbuh dan dipercaya memimpin, perubahan yang berkelanjutan dapat tercipta bagi organisasi dan masa depan Indonesia.

Prof. Reini Wirahadikusumah – Rektor ITB periode 2020–2025
Hari Ibu menurut Prof. Reini Wirahadikusumah, bukan seremoni tahunan semata. Momentum ini menjadi ruang perenungan untuk melihat peran perempuan yang selama ini menjadi penopang keluarga, masyarakat, hingga bangsa.
Rektor ITB periode 2020–2025 itu menilai perempuan bukan hanya pendamping, tetapi mitra setara dalam membangun peradaban. “Peran ibu sebagai “sekolah pertama” anak menjadi kunci dalam pembentukan karakter dan kecerdasan generasi muda, sekaligus penggerak kemandirian sosial dan ekonomi,” ujarnya.
Prof. Reini pun menggarisbawahi pentingnya membuka ruang yang lebih luas bagi perempuan untuk berkontribusi. Menurutnya, semakin besar kesempatan perempuan mengambil peran strategis, semakin kuat pula fondasi kemajuan bangsa.

Prof. Dr. Dwikorita Karnawati – Kepala BMKG 2017-2025
Hari Ibu menurut Prof. Dr. Dwikorita Karnawati diwujudkan bentuk pengakuan negara dan masyarakat terhadap peran penting perempuan, khususnya yang terhimpun dalam organisasi-organisasi perempuan sejak tahun 1928.
“Pada masa itu, perempuan Indonesia turut berkontribusi besar dalam memperjuangkan persatuan bangsa dan mempersiapkan jalan menuju kemerdekaan. Dalam perkembangannya, Hari Ibu juga dimaknai sebagai penghargaan atas peran seorang ibu dalam keluarga sebagai sosok utama yang membina, mendidik, serta membangun kemajuan dan kebahagiaan keluarga sebagai fondasi bangsa,” ungkapnya.
Kepala BMKG 2017-2025 tersebut pun menguntai harapannya agar para ibu dan perempuan Indonesia terus menjaga semangat untuk maju. Perempuan diharapkan senantiasa mengembangkan kapasitas diri, sekaligus mendukung dan mengembangkan potensi putra-putrinya. “Dengan perempuan yang berdaya dan keluarga yang kuat, masa depan Indonesia yang lebih baik dapat diwujudkan bersama,” ujarnya.

Prof. Dian Masyita, Ph.D – Anggota Komite Pengembangan Keuangan Syariah OJK
Hari Ibu selalu menghadirkan makna yang personal dan reflektif, hal itu yang diamini akademisi dan praktisi keuangan syariah, Dian Masyita. Ia menilai peran ibu sangat menentukan perjalanan hidupnya, baik dalam membangun karier akademik maupun menjalani kehidupan rumah tangga hingga hari ini. “Ibu saya adalah sosok yang amat menentukan perjalanan hidup saya, baik dalam karier maupun dalam rumah tangga,” ujarnya.
Dian mengenang keteladanan, kasih sayang, dan kecerdasan sang ibu dalam mendidik membentuk dirinya menjadi pribadi yang mandiri. Sebagai anak tunggal, ia tumbuh dengan nilai-nilai yang kuat dan kemampuan menjaga keseimbangan antara peran profesional dan keluarga. “Melalui keteladanan dan cara mendidik beliau, saya belajar menempatkan karier dan keluarga secara proporsional,” kata Dian.
Momentum Hari Ibu juga menjadi ruang kontemplasi baginya dalam peran sebagai ibu dari dua putri. Ia menyadari bahwa pendampingan anak tidak hanya hadir secara fisik, tetapi menyertai proses panjang mereka dalam meraih pendidikan dan menata masa depan. “Hari Ibu selalu mengingatkan saya pada tanggung jawab mendampingi dua putri saya dalam perjuangan pendidikan, karier, dan masa depan yang bermakna,” tuturnya.
Ke depan, Dian menaruh harapan besar pada peran ibu dalam menghadapi perubahan zaman yang semakin dinamis. Menurutnya, kemampuan memahami konteks sosial dan perkembangan era harus berjalan seiring dengan upaya membimbing anak agar tumbuh dengan karakter yang kuat. “Harapan saya, para ibu mampu memahami dinamika zaman sekaligus membimbing putra-putrinya agar tumbuh tangguh, berkarakter mulia, cinta belajar, dan memberi manfaat bagi agama, bangsa, dan negara,” pungkasnya.

Okky Asokawati – Pakar Psikologi Kepribadian, Politikus
Peringatan Hari Ibu bagi pakar psikologi kepribadian sekaligus politikus, Okky Asokawati, menjadi momentum krusial untuk “pemberdayaan menuju pembebasan.” Okky menekankan pentingnya memutus mindset yang menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua. “Pemberdayaan untuk membebaskan perempuan dari mindset yang selama ini belum tumbuh maksimal, bahwa perempuan atau ibu itu warga kelas dua, itulah yang harus kita dobrak melalui wadah organisasi maupun pendidikan,” ujarnya. Hal ini menjadi dasar agar perempuan bisa menjadi pribadi yang mindful dalam mendidik putra-putri sebagai titipan Tuhan.
Menanggapi kritik mengenai perayaan Hari Ibu yang kerap dinilai hanya formalitas atau fokus pada penampilan, Okky melihatnya dari sisi psikologis. Ia menekankan bahwa hubungan antara fisik dan kesehatan mental sangat nyata.
“Kalau saya melihat, berkebaya adalah proses agar para ibu bisa menghargai diri sendiri. Ketika seseorang berpenampilan apik, mentalnya pun positif. Pakai daster dengan pakai kebaya pasti power body language-nya berbeda,” jelasnya. Menurut Okky, langkah awal pemberdayaan dimulai dari mencintai dan menerima diri sendiri sebelum akhirnya berkolaborasi dengan pria dalam struktur sosial.
Di akhir pesannya, Okky menaruh harapan agar semakin banyak perempuan hebat yang berani tampil di ranah politik, ekonomi, dan budaya. Kehadiran tokoh perempuan ini diharapkan menjadi stimulus bagi kemajuan kaum hawa di Indonesia. “Harapan saya, akan lebih banyak lagi Ibu Bangsa yang hebat tampil di publik, sehingga perempuan lainnya merasa bisa. Itu menjadi daya ungkit bagi perkembangan perempuan di Republik tercinta ini,” tutupnya dengan optimis.

Meiline Tenardi – Pengusaha, Filantropi
Hari Ibu adalah pengingat akan proses panjang yang dijalani seorang perempuan dalam perannya sebagai ibu. Meiline Tenardi mengungkapkan momen ini adalah ajakan untuk berhenti sejenak dan menengok ke dalam diri. “Menjadi ibu merupakan proses belajar seumur hidup, belajar sabar, belajar hadir, belajar mengalah, sekaligus bertumbuh bersama anak-anak,” ungkapnya.
Ia menilai peran ibu sebagai ruang yang paling bermakna dalam kehidupan perempuan. Di sanalah nilai, cinta, dan keteladanan ditanamkan setiap hari, sering kali melalui hal-hal sederhana yang tampak sepele, tetapi berdampak besar.
Adapun harapannya bagi para ibu dan perempuan Indonesia ke depan terbilang sederhana. “Saya berharap perempuan dapat semakin mengenali dan menghargai peran yang sedang dijalani, apa pun bentuknya,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan agar para ibu tidak terlalu keras pada diri sendiri, serta memberi ruang untuk menjaga tubuh, pikiran, dan perasaan. “Ibu yang tenang dan utuh akan lebih mudah hadir dengan kasih. Dari sanalah anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat, peduli, dan siap menghadapi masa depan,” pungkas Meiline.
