Sutradara James Cameron kembali mempertahankan keputusannya menggunakan teknologi high-frame-rate (HFR) 3D dalam sekuel terbarunya, Avatar: Fire and Ash. Teknologi tersebut sebelumnya telah digunakan di Avatar: The Way of Water (2022) dan menuai beragam respons dari penonton maupun kritikus.
Sebagian pihak menilai penggunaan HFR membuat tampilan film terasa terlalu mulus hingga menyerupai video game, sehingga mengurangi nuansa sinematik tradisional. Namun, Cameron menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan pilihan artistik yang ia yakini mampu meningkatkan pengalaman menonton, terutama dalam format 3D.
Dalam wawancara terbarunya dengan Discussing Film, Cameron menanggapi kritik tersebut dengan menyinggung kesuksesan film sebelumnya di box office.
“Saya rasa pendapatan The Way of Water yang mencapai 2,3 miliar dolar AS sudah cukup menunjukkan bahwa kritik itu mungkin keliru. Dari sisi artistik, saya memang menyukainya, dan ini adalah film saya,” ujar Cameron, dikutip Senin (15/12/2025).
Sebagai informasi, film-film Hollywood umumnya diputar dengan kecepatan 24 frame per second (fps). Namun, Avatar: The Way of Water menggunakan HFR dengan kecepatan hingga 48 fps pada sebagian besar durasi film, serupa dengan pendekatan yang pernah digunakan Peter Jackson dalam trilogi The Hobbit.
Penggunaan 48 fps bertujuan untuk meningkatkan imersivitas penonton, khususnya pada adegan-adegan 3D yang kompleks. Cameron menilai teknologi tersebut mampu membuat visual terlihat lebih tajam dan realistis, terutama pada adegan bawah air yang menjadi ciri khas dunia Pandora.
Meski demikian, kritik terhadap HFR masih kerap muncul. Beberapa penonton merasa peningkatan frame rate justru menghilangkan kesan sinematik dan membuat film terasa terlalu halus secara visual.
Cameron sendiri secara konsisten membela HFR sebagai langkah evolusi dalam pengalaman menonton film 3D. Ia menilai teknologi tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari pengembangan bahasa visual sinema, bukan sekadar eksperimen teknis.
Keberhasilan The Way of Water di box office menjadi salah satu bukti bahwa pendekatan tersebut dapat diterima oleh penonton dalam skala besar. Film tersebut menjadi salah satu film terlaris sepanjang masa, menyusul Avatar (2009) yang hingga kini masih menempati posisi teratas dengan pendapatan sekitar 2,9 miliar dolar AS.
Dengan Avatar: Fire and Ash, Cameron kembali melanjutkan eksplorasi teknologi yang sama. Terlepas dari pro dan kontra, sutradara peraih Oscar itu tampaknya tetap yakin bahwa HFR merupakan bagian penting dari visi kreatifnya dalam membangun semesta Avatar.
