Navaswara.com – Perubahan besar sedang terjadi di dunia intervensi kardiologi global. Di banyak negara, teknologi seperti CTCA berbasis AI, balon berlapis obat (DCB), hingga operasi robotik kini menjadi standar baru. Namun di Indonesia, transformasi itu berjalan tersendat—bukan karena kurangnya kemampuan dokter, melainkan karena sistem yang masih terjebak hirarki, politik internal, dan resistensi terhadap inovasi.
Bisa dibayangkan dalam 10–20 tahun ke depan, ketika intervensi kardiologi dunia sudah bergeser total dari paradigma “memperbaiki penyempitan” menjadi mencegah serangan jantung sebelum terjadi, berbasis biologi plak dan kecerdasan buatan. Pada saat itu, teknologi dan ilmu pengetahuan berlari sangat jauh ke depan, sementara sistem medis lokal yang masih terjebak diskriminasi, nepotisme, kolusi, dan korupsi mulai runtuh pelan-pelan dari dalam.
Dalam analisisnya, Dr. Dasaad Mulijono menyoroti jurang yang makin melebar ini. Ia menulis bahwa masa depan kardiologi akan bertumpu pada deteksi plak berbahaya lewat AI, strategi “leave nothing behind”, serta gaya hidup Whole-Food Plant-Based Diet (WFPBD) yang masuk ke guideline global. Tetapi ia juga mengingatkan bahwa Indonesia berisiko tidak siap menghadapi lompatan itu.
“Satu generasi dokter muda disekolahkan dalam kultur yang tidak lagi relevan dengan masa depan,” tulis Dr. Dasaad, menegaskan dampak paling serius dari sistem yang menolak perubahan.
Ia juga memperingatkan bahwa dunia medis global ke depan tidak lagi menilai berdasarkan senioritas atau kekuatan politik organisasi, melainkan pada kualitas ilmiah dan integritas profesional. “Di masa depan, dunia akan memilih mereka yang bersih secara ilmu dan integritas, bukan mereka yang kuat secara politik lokal,” tegasnya.
“Bila kita tetap mempertahankan diskriminasi, nepotisme, kolusi, dan korupsi sebagai “normal”, maka bukan hanya individu yang hancur, tetapi seluruh sistem medis lokal akan tersisih dari peradaban kedokteran dunia.” Tegasnya.
Dr. Dasaad mengajak masyarakat merenungkan arah sistem kesehatan Indonesia: apakah akan terseret arus perubahan global, atau tetap terjebak di masa lalu hingga tersingkir dari kompetisi peradaban medis dunia.
