Navaswara.com — Garis pantai Indonesia yang seperti tak ada ujungnya menyimpan satu ekosistem yang bekerja dalam senyap. Di sela akar yang menembus lumpur payau, hutan mangrove kita menyerap karbon dalam jumlah yang sulit disaingi ekosistem lain di kawasan tropis. Indonesia memegang hampir seperlima mangrove dunia—sekitar tiga juta hektare yang mampu menyimpan lebih dari tiga miliar ton karbon—dan potensi ini menempatkan mangrove sebagai salah satu benteng paling kuat dalam menghadapi krisis iklim. Namun, besarnya kapasitas itu berhadapan dengan kenyataan yang jauh dari ideal, tersembunyi ironi yang mengkhawatirkan.
Meski hutan mangrove hanya mewakili 2,6 persen dari total luas hutan Indonesia, degradasi dan deforestasi ekosistem ini menyumbang sekitar 10 persen dari total emisi gas rumah kaca sektor kehutanan. Angka ini mengungkap paradoks penting: kawasan yang relatif kecil ini ternyata menjadi sumber emisi yang sangat besar ketika rusak. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah menunjukkan bahwa emisi rata-rata dari mangrove Indonesia mencapai 28 teragram setara CO2 per tahun antara 2009 hingga 2019. Kerusakan ini terutama disebabkan oleh konversi lahan untuk tambak, urbanisasi, polusi, dan pariwisata yang tidak terkendali.
Pemerintah Indonesia telah merespons dengan target rehabilitasi mangrove paling ambisius di dunia, yakni merestorasi 600 ribu hektare mangrove hingga 2024 untuk mendukung berbagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Namun, evaluasi ilmiah mengungkapkan bahwa hanya sekitar 193 ribu hektare yang memiliki potensi nyata untuk direhabilitasi dengan tingkat keberhasilan tinggi, berdasarkan pertimbangan biogeomorfologi, perubahan tata guna lahan selama 20 tahun terakhir, dan status lahan hutan negara. Ini hanya mencapai 30 persen dari target nasional, menunjukkan bahwa ambisi besar harus diimbangi dengan perencanaan yang cermat dan realistis.

Studi jangka panjang di Pulau Flores memberikan gambaran konkret tentang manfaat restorasi mangrove. Setelah sepuluh tahun pemulihan, kawasan yang direhabilitasi mampu menyerap antara 28,69 hingga 70,02 megagram CO2 per hektare dan menyimpan energi mencapai 30,54 hingga 54,07 juta megajoule per hektare. Yang tak kalah penting, kawasan tersebut juga berhasil memulihkan keanekaragaman hayati dengan ditemukannya 10 spesies mangrove dan 11 spesies fauna, membuktikan bahwa restorasi bukan hanya soal menanam pohon, tetapi juga tentang menghidupkan kembali seluruh ekosistem.
Potensi mitigasi perubahan iklim dari mangrove Indonesia sungguh signifikan. Jika konservasi mangrove primer dan sekunder dikombinasikan dengan program restorasi, pengurangan emisi yang dihasilkan setara dengan 8 persen dari target penurunan emisi sektor kehutanan Indonesia untuk tahun 2030 berdasarkan Nationally Determined Contribution. Restorasi mangrove sendiri diperkirakan dapat mengurangi emisi sebesar 8,9 teragram setara CO2 per tahun, atau sekitar 1,4 persen dari target NDC sektor kehutanan. Namun, data ini mengasumsikan seluruh program restorasi berhasil sempurna, sebuah skenario optimis yang dalam praktiknya jarang tercapai mengingat tingginya tingkat kegagalan proyek restorasi di berbagai belahan dunia.
Di sinilah pentingnya menggeser paradigma dari restorasi menuju konservasi. Penelitian menunjukkan bahwa konservasi jauh lebih efektif dan efisien dibanding restorasi dalam mengurangi emisi karbon. Biaya rata-rata untuk merestorasi mangrove di Indonesia mencapai sekitar 3.900 dolar AS per hektare, belum termasuk risiko kegagalan yang cukup tinggi. Sebaliknya, konservasi memerlukan investasi yang lebih rendah namun memberikan layanan lingkungan yang jauh lebih besar, dengan rasio manfaat-biaya hingga lima kali lipat lebih tinggi dibanding restorasi. Mangrove yang terjaga juga menyediakan manfaat sosial yang nyata bagi masyarakat pesisir, termasuk peningkatan konsumsi ikan segar hingga 19-28 persen lebih tinggi dibanding komunitas pesisir lainnya.
Untuk mengoptimalkan nilai ekonomi karbon mangrove, Indonesia tengah mengembangkan strategi blue carbon nasional dengan dukungan internasional. Kementerian Lingkungan Hidup melalui Indonesia Climate Change Trust Fund telah menandatangani kesepakatan hibah senilai 620 ribu euro dengan Agence Française de Développement untuk mengintegrasikan ekosistem blue carbon ke dalam kebijakan iklim dan keanekaragaman hayati nasional. Inisiatif ini bertujuan menggabungkan berbagai program yang selama ini berjalan terpisah menjadi satu kerangka kebijakan yang koheren.
Global Environment Facility juga telah menyetujui pendanaan untuk proyek ENABLE dan SPARE yang akan melindungi keanekaragaman hayati dan sumber daya alam Indonesia. Proyek SPARE dengan pembiayaan 6,1 juta dolar AS diperkirakan akan memberikan manfaat sosial-ekonomi bagi 10 ribu orang, merestorasi lebih dari 4 ribu hektare lahan, memperkuat pengelolaan lebih dari 1,6 juta hektare lanskap, dan menghindari hilangnya 25 ribu hektare hutan bernilai konservasi tinggi. Upaya ini diprediksi dapat mencegah hampir 3 juta metrik ton emisi setara CO2.
