Navaswara.com – Literasi keuangan masih menjadi titik lemah sebagian besar pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Celah ini yang coba dijembatani SeaBank Indonesia bersama Women’s World Banking (WWB) melalui peluncuran UMKM Pintar, sebuah platform pembelajaran digital yang dirancang untuk memperkuat kapasitas usaha sekaligus meningkatkan ketahanan finansial pelaku UMKM, khususnya perempuan.
Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM Temmy Satya Permana mengingatkan kembali posisi strategis UMKM dalam perekonomian Indonesia. Pada 2025, terdapat lebih dari 65,5 juta unit UMKM yang menyumbang 61,9 persen PDB dan menyerap 119 juta tenaga kerja. Namun, kontribusi besar itu tidak berbanding lurus dengan daya tahan finansial mereka.
Mayoritas UMKM, kata Temmy, masih terkendala riwayat kredit (SLIK) dan agunan, dua syarat dasar yang kerap memotong kesempatan mereka mendapatkan pembiayaan. “Pembiayaan hanya akan berdampak jika UMKM memiliki literasi keuangan yang baik. UMKM Pintar hadir untuk mengisi kekosongan itu lewat literasi digital dan keuangan yang lebih terstruktur,” ujar Temmy.
Dari sisi gender, tantangannya bahkan lebih kompleks. Deputi Menteri Bidang Kesetaraan Gender Kementerian PPPA Amurwani Dwi Lestariningsih, menyoroti peran perempuan yang kian vital dalam ekonomi domestik, terutama sebagai pengelola usaha skala kecil. Namun, akses pengetahuan dan ruang pengembangan diri bagi perempuan wirausaha masih timpang.
“UMKM Pintar memberi ruang aman bagi perempuan untuk belajar dan bertumbuh. Ini penting untuk memastikan mereka tidak tertinggal dalam ekonomi digital,” ucap Amurwani.
Riset WWB pada 2023 menunjukkan hanya 44 persen wirausaha perempuan di sektor e-commerce yang mampu bertahan 3–5 tahun. Angkanya makin menurun untuk usaha yang bertahan lebih lama. Temuan ini menegaskan bahwa modal bukan satu-satunya faktor; akses edukasi dan pendampingan memegang porsi yang sama pentingnya.
Di sisi lain, pesatnya ekonomi digital belum sepenuhnya diiringi kesiapan pelaku usaha. Wakil Direktur Utama SeaBank Indonesia Junedy Liu menggarisbawahi persoalan yang kerap dianggap sepele namun berdampak besar, yakni pencatatan keuangan yang minim, pemisahan uang pribadi dan usaha yang tidak jelas, hingga rendahnya penggunaan layanan keuangan formal.
“Kondisi ini mencerminkan kesenjangan literasi keuangan digital yang akhirnya membatasi akses UMKM terhadap pembiayaan,” kata Junedy. Melalui UMKM Pintar, SeaBank ingin menyediakan pembelajaran yang praktis dan mudah diakses, terutama bagi pelaku mikro-kecil dan perempuan yang sering kali menghadapi hambatan berlapis.
Direktur Regional WWB Asia Tenggara Angelique Timmer menegaskan, pemberdayaan ekonomi perempuan tidak bisa dilepaskan dari inklusi keuangan. Karena itu, seluruh materi di UMKM Pintar disusun berbasis gender, mulai dari pengelolaan keuangan, strategi digitalisasi usaha, hingga pemanfaatan layanan keuangan formal.
Pendekatan ini diharapkan membuat perempuan pelaku usaha bisa belajar sesuai ritme mereka: kapan pun, di mana pun, dengan konteks yang dekat dengan keseharian mereka.
Peluncuran UMKM Pintar dihadiri ratusan perempuan pelaku UMKM secara luring dan daring. Mereka dapat mengakses materi di platform tersebut melalui www.umkmpintar.id, yang kini menjadi salah satu kanal literasi keuangan digital yang ditujukan khusus bagi UMKM, dan lebih spesifik lagi, bagi perempuan yang menopang ekonomi keluarga dan komunitas.
