Navaswara.com – Di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian, industri perbankan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Di satu sisi, bank dituntut terus mendorong pertumbuhan kredit untuk menjaga momentum ekonomi. Di sisi lain, ekspansi tersebut harus dibarengi dengan kemampuan mengelola risiko agar kualitas aset tetap terjaga.
Dalam kondisi seperti ini, keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kehati-hatian menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kesehatan sebuah bank.
Pengamat Perbankan sekaligus Direktur Crypto Asset Clearing International, Moch Amin Nurdin, menilai bahwa peningkatan penyaluran kredit tidak dapat dijadikan satu-satunya tolok ukur keberhasilan industri perbankan. Menurutnya, kualitas kredit tetap menjadi faktor utama yang menentukan keberlanjutan pertumbuhan.
“Apabila risiko kredit tidak dikelola dengan baik, peningkatan NPL akan mendorong kenaikan biaya pencadangan, menekan laba, dan pada akhirnya dapat menggerus modal bank,” ujarnya.
Pandangan tersebut menjadi relevan ketika melihat kinerja PT Bank Mandiri (Persero) Tbk hingga September 2026. Di tengah pertumbuhan kredit yang cukup agresif, perseroan mampu mempertahankan kualitas aset pada level yang relatif sehat.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, penyaluran kredit Bank Mandiri secara bank only mencapai Rp1.605,8 triliun hingga September 2026. Nilai tersebut tumbuh 16 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan kredit industri perbankan nasional yang berada di kisaran 13 persen.
Menariknya, peningkatan penyaluran kredit tersebut tidak diikuti oleh kenaikan rasio kredit bermasalah. Sebaliknya, rasio Non-Performing Loan (NPL) bruto Bank Mandiri justru membaik menjadi 0,98 persen, turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di level 1,03 persen. Angka tersebut juga jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata industri perbankan nasional yang mencapai 2,07 persen.
“Jika dibandingkan dengan industri perbankan nasional, posisi Bank Mandiri relatif lebih baik,” kata Amin.
Selain rendahnya rasio kredit bermasalah, kekuatan kualitas aset Bank Mandiri juga tercermin dari kemampuan perusahaan dalam menyediakan pencadangan risiko. Hingga September 2026, rasio NPL Coverage Bank Mandiri tercatat mencapai 243 persen.
Menurut Amin, tingginya tingkat pencadangan tersebut menunjukkan kesiapan perseroan dalam mengantisipasi potensi risiko yang mungkin muncul di tengah kondisi ekonomi yang masih berfluktuasi.
Ia menilai kombinasi antara pertumbuhan kredit yang sehat, kualitas aset yang terjaga, pencadangan yang kuat, serta kapasitas permodalan yang memadai menjadi fondasi penting bagi Bank Mandiri untuk terus tumbuh secara berkelanjutan.
“Saya melihat prospek Bank Mandiri masih cukup positif, mengingat bank ini memiliki skala bisnis, diversifikasi portofolio, jaringan, serta kapasitas permodalan yang relatif kuat,” ungkapnya.
Optimisme tersebut juga tercermin dari capaian kinerja keuangan perseroan sepanjang kuartal III-2026. Bank Mandiri membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp45,5 triliun atau tumbuh 20,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh ekspansi kredit berbasis ekosistem, peningkatan transaksi digital, serta produktivitas bisnis yang terus mengalami perbaikan.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, sebelumnya menjelaskan bahwa strategi pertumbuhan perseroan diarahkan untuk menjangkau berbagai sektor dalam ekosistem perekonomian nasional. Penyaluran pembiayaan tidak hanya difokuskan kepada pemerintah dan BUMN, tetapi juga sektor usaha produktif, pelaku UMKM, hingga masyarakat luas.
Pendekatan tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang memperkuat diversifikasi portofolio Bank Mandiri sekaligus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas aset.
Di tengah tantangan ekonomi global yang masih terus berkembang, kemampuan menjaga kualitas kredit sambil tetap memperluas pembiayaan menjadi modal penting bagi industri perbankan. Kinerja Bank Mandiri menunjukkan bahwa ekspansi bisnis yang dilakukan secara terukur, didukung pengelolaan risiko yang disiplin dan permodalan yang kuat, mampu menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat kepercayaan pasar terhadap prospek perusahaan.

