Navaswara.com – Prestasi membanggakan ditorehkan kontingen Indonesia di Asian Para Games 2026. Namun, di balik raihan 73 medali dan keberhasilan melampaui target, ada pekerjaan rumah yang perlu segera dibenahi, yakni kesiapan fisik atlet.
Chef de Mission (CdM) Indonesia, Reda Manthovani, menilai durasi pemusatan latihan nasional (pelatnas) yang hanya berlangsung selama tiga bulan belum cukup untuk memaksimalkan performa sejumlah atlet. Karena itu, ia berharap pemerintah, khususnya Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), dapat memberikan dukungan untuk memperpanjang masa pelatnas.
Berdasarkan hasil akhir kompetisi, Indonesia mengoleksi 15 medali emas, 21 perak, dan 37 perunggu. Capaian tersebut menempatkan Merah Putih di peringkat kedelapan klasemen akhir Asian Para Games 2026.
Jumlah itu jauh melampaui target awal kontingen, yakni tujuh emas, delapan perak, dan 17 perunggu. Meski demikian, Reda menilai keberhasilan memenuhi bahkan melampaui target tidak boleh membuat evaluasi persiapan atlet terabaikan.
Menurutnya, keterbatasan waktu pelatnas menjadi salah satu faktor yang memengaruhi hasil pertandingan. Ia melihat sejumlah atlet sebenarnya sudah memiliki kemampuan teknik dan strategi yang baik, tetapi belum mampu mengimbanginya dengan kondisi fisik yang optimal.
“Saya melihat beberapa atlet yang belum mendapatkan medali, ataupun yang baru hanya perunggu, itu kalah lebih banyak karena fisik. Kalau teknik, strategi, mereka sudah bagus-bagus, tetapi kalah di fisik. Karena pelatnasnya cuma tiga bulan,” ujar Reda Manthovani, dilansir dari Detik Sport.
Fisik, Stamina, dan Mental jadi Evaluasi
Reda menegaskan, prestasi olahraga tidak bisa hanya diukur berdasarkan perhitungan target sebelum pertandingan. Sebab, hasil sesungguhnya ditentukan ketika atlet berhadapan langsung dengan lawan di arena kompetisi.
Ia menjelaskan, ada sejumlah aspek yang harus dipersiapkan secara bersamaan, mulai dari stamina, strategi, hingga mental juara.
“Kalau dihitung di atas kertas, target kita kan hanya 7 emas, 8 perak, 17 perunggu, berdasarkan catatan. Tetapi saya selalu bilang, prestasi itu ditentukan di medan pertandingan, tidak di atas kertas. Karena di dalam pertandingan itu diperlukan stamina, strategi, dan mental juara,” tegasnya.
Dari sembilan cabang olahraga yang menyumbangkan medali, boccia menjadi cabang dengan efektivitas tertinggi. Atlet boccia Indonesia berhasil mengamankan empat medali emas dari total empat medali yang diperebutkan.
Sementara itu, para atletik menjadi penyumbang medali terbanyak bagi Indonesia dengan total 22 medali. Rinciannya terdiri atas tiga emas, delapan perak, dan 11 perunggu.
Kontribusi besar juga datang dari para bulu tangkis yang meraih tiga emas, tiga perak, dan enam perunggu. Adapun para renang menyumbangkan tiga emas, empat perak, dan dua perunggu.
Cabang para balap sepeda mengoleksi satu emas dan empat perunggu. Para tenis meja menyumbangkan satu emas dan enam perunggu, sedangkan para angkat berat meraih dua perak dan lima perunggu.
Di cabang para panahan, Indonesia membawa pulang tiga perak dan satu perunggu. Raihan tersebut melampaui target awal dua medali perak. Sementara itu, para judo menyumbangkan satu perak dan dua perunggu.

Pelatnas Diharapkan Berlanjut Menuju ASEAN Para Games 2027
Bagi Reda, evaluasi setelah Asian Para Games 2026 tidak boleh berhenti pada pencapaian medali. Keberlanjutan pembinaan juga perlu menjadi perhatian agar kondisi fisik dan performa atlet tetap terjaga.
Ia berharap para atlet mendapatkan waktu istirahat setelah menyelesaikan pertandingan. Namun, masa pemulihan tersebut diharapkan tidak membuat program pelatnas terhenti terlalu lama.
“Mudah-mudahan pemerintah, Kemenpora dalam hal ini, lebih bisa mendukung, supaya ada perpanjangan pelatnas,” ujar Reda.
“Setelah pertandingan (Asian Para Games) ini, ya dikasih istirahat sekadar, tapi saya harapkan bisa balik lagi, kalau memang Kemenpora bisa mendukung pelatnas ini,” lanjutnya.
Harapan tersebut berkaitan dengan agenda besar yang sudah menanti atlet Indonesia. Pada 2027, kontingen Merah Putih dijadwalkan menghadapi ASEAN Para Games di Malaysia. Setahun berikutnya, para atlet akan bersiap menuju Paralimpiade Los Angeles 2028.
Reda mengingatkan, jeda latihan yang terlalu panjang berisiko mengganggu kesinambungan pembinaan. Karena itu, ia berharap program pelatnas dapat segera dilanjutkan setelah atlet memperoleh waktu pemulihan yang cukup.
“Karena di tahun depan sudah ada ASEAN Para Games 2027, dan di tahun 2028 ada Paralimpiade. Kalau kita enggak langsung Pelatnas, mereka lepas, akhirnya bisa makan sembarangan,” jelasnya.
Reda Harapkan Dukungan Swasta Lewat Program CSR
Selain mengandalkan dukungan pemerintah, Reda juga membuka peluang keterlibatan sektor swasta dalam pembinaan atlet disabilitas.
Ia berharap perusahaan-perusahaan yang memiliki program tanggung jawab sosial atau corporate social responsibility (CSR) dapat ikut membantu keberlanjutan pelatnas.
Menurutnya, dukungan dari dunia usaha bisa menjadi alternatif apabila pemerintah belum dapat menyediakan dukungan pendanaan untuk memperpanjang program latihan nasional.
“Kalau memang belum ada kesempatan dari Kemenpora, nanti kita harapkan para pengusaha yang punya CSR untuk membantu terciptanya atlet-atlet disabilitas yang berprestasi,” pungkas Reda.
Dengan capaian 73 medali di Asian Para Games 2026, Indonesia memiliki modal prestasi untuk menghadapi kompetisi berikutnya. Namun, keberlanjutan pelatnas dan peningkatan kondisi fisik atlet menjadi pekerjaan penting agar pencapaian tersebut dapat terus ditingkatkan di ASEAN Para Games 2027 hingga Paralimpiade 2028.

