Navaswara.com — Hadir di babak grand final Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara 2026 Jawa Barat, Asisten Pembina Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Apsari Dewi, tidak datang dengan tangan kosong. Ia turut memeriahkan gelaran ini dengan membawakan salah satu cerita rakyat yang begitu lekat dengan sejarah dan budaya Jawa Barat, yakni kisah Prabu Siliwangi.
Dengan penuh penghayatan, Apsari Dewi mengajak para peserta dan tamu yang hadir untuk mengenal sosok Prabu Siliwangi sebagai seorang raja yang bijaksana. Kisah itu bermula dari sebuah kerajaan megah di tanah Sunda yang hijau dan subur, Kerajaan Padjajaran.
Pada masa itu, hutan dan ladang membentang luas, sungai-sungai mengalir jernih, sementara pasar dipenuhi pedagang. Suasana kehidupan masyarakat begitu semarak. Anak-anak bernyanyi dan menari dengan riang, sementara para petani mengolah tanah yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Kemakmuran Padjajaran berada di bawah kepemimpinan Sri Baduga Maharaja atau yang lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi. Berbeda dengan raja yang hanya berdiam diri di istana, Prabu Siliwangi memilih turun langsung melihat keadaan rakyatnya. Ia kerap mengajak patihnya keluar dari istana untuk memastikan kehidupan masyarakat berjalan dengan baik.
Dalam perjalanan, sang prabu kemudian bertanya kepada patihnya, “Wahai patih, untuk apa istana yang megah kalau rakyat tidak bahagia?” Pertanyaan tersebut langsung dijawab oleh sang patih bahwa kebahagiaan rakyat memang merupakan cerminan kejayaan Padjajaran.
Perjalanan mereka kemudian mempertemukan sang raja dengan seorang petani bernama Ki Pahuma. Sang petani terlihat tersenyum dan bersiul ketika membajak sawah. Prabu Siliwangi pun menghampirinya dan menanyakan alasan di balik kegembiraannya.
Dengan penuh hormat, Ki Pahuma menjelaskan bahwa dirinya bahagia karena panennya berhasil. Lumbung-lumbung padinya telah terisi penuh. Mendengar kabar tersebut, Prabu Siliwangi turut merasa bahagia. Ia bahkan menyampaikan bahwa keberhasilan panen Ki Pahuma bukan hanya menjadi kebahagiaan sang petani, tapi juga kebahagiaan seluruh Padjajaran.
Mendengarnya, sang paduka langsung tersenyum dan bersabda, “Wahai Ki Pahuma, wahai patih, hari ini bukan hanya Ki Pahuma yang berpesta, namun seluruh padjajaran akan bersuka cita.”
Malam harinya, pesta rakyat pun digelar. Gamelan terdengar di seluruh penjuru kota. Pedagang membuka lapaknya, para petani membawa hasil bumi, dan masyarakat turun bersama-sama merayakan keberhasilan panen. Dari kejauhan, Prabu Siliwangi menyaksikan rakyatnya bergembira bersama permaisurinya, Nyai Subanglarang.
Nyai Subanglarang kemudian berkata bahwa rakyat Padjajaran terlihat begitu bahagia. Prabu Siliwangi pun menjawab bahwa kebahagiaan rakyat adalah kebahagiaannya sebagai seorang raja.
Menurutnya, harta terbesar seorang pemimpin bukanlah kemewahan istana, luasnya wilayah kekuasaan, atau banyaknya emas dan permata. Harta terbesar seorang raja adalah kesejahteraan dan kebahagiaan rakyat yang dipimpinnya.
Hari demi hari berlalu. Kerajaan Padjajaran semakin makmur. Pertanian berkembang, perdagangan bertumbuh, sementara seni dan budaya terus dilestarikan. Namun, Prabu Siliwangi tidak pernah menjadi sombong.
Ia selalu mengingat amanah para pendahulunya agar keberhasilan seorang raja tidak diukur dari banyaknya wilayah yang berhasil ditaklukkan, melainkan dari kemampuannya menyejahterakan dan mendamaikan negeri.
Di penghujung dongeng, Apsari Dewi menyampaikan pesan kepada para peserta bahwa keberhasilan tidak semestinya diukur dari banyaknya harta atau besarnya kekuasaan yang dimiliki. Keberhasilan justru dapat dilihat dari seberapa besar seseorang mampu memberikan manfaat bagi orang lain.
“Janganlah kalian merasa berhasil ketika kalian telah mempunyai harta atau kekuasaan. Tapi ketika kalian mampu berbuat sesuatu untuk orang lain, ketika kalian mampu berkontribusi untuk bangsa dan negara,” tutupnya.
Kisah Prabu Siliwangi pun menjadi pengingat bahwa kepemimpinan sejatinya berakar pada kepedulian. Seperti seorang pemimpin yang menjaga rakyatnya, orang tua yang menjaga anaknya, maupun generasi muda yang belajar untuk menjaga negeri beserta kekayaan budaya yang dimilikinya.
Melalui cerita tersebut, Apsari Dewi menegaskan bahwa kebaikan dapat diwariskan lintas generasi. Selama budaya terus dijaga dan kebahagiaan serta kesejahteraan masyarakat tetap menjadi tujuan utama, semangat kejayaan Padjajaran akan selalu hidup dan menjadi warisan bagi generasi berikutnya.
