Sempat Dibuang ke Tempat Sampah, Ini Kisah Naskah Proklamasi Tulisan Tangan Soekarno

Navaswara.com – Naskah Proklamasi yang ditulis tangan Soekarno ternyata pernah berakhir di tempat sampah. Lembaran yang kini disimpan sebagai arsip bersejarah itu sempat dianggap tidak lagi diperlukan setelah teksnya disalin ke dalam bentuk ketikan.

Naskah tersebut merupakan konsep awal Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang dirumuskan menjelang pembacaan Proklamasi pada 17 Agustus 1945. Setelah rumusan itu disalin oleh Sayuti Melik, naskah tulisan tangan Soekarno dibuang.

Wartawan B.M. Diah yang melihat kejadian tersebut kemudian mengambilnya. Ia menyimpan lembaran itu selama puluhan tahun sebelum menyerahkannya kepada negara.

Menurut Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), B.M. Diah menyerahkan naskah tersebut kepada Presiden Soeharto pada 19 Mei 1992. Dari Soeharto, naskah diteruskan kepada Menteri Sekretaris Negara Moerdiono sebelum akhirnya diserahkan kepada ANRI.

Sejak berada di ANRI, naskah tulisan tangan Soekarno disimpan dalam ruang khusus penyimpanan arsip statis. Kondisi fisiknya juga dijaga melalui berbagai upaya preservasi.

Naskah tersebut beberapa kali dipinjamkan kepada Sekretariat Presiden untuk ditampilkan dalam upacara kemerdekaan. Setelah digunakan dalam upacara, Sekretariat Presiden mengembalikannya kepada ANRI pada 18 Agustus 2022.

Dua Versi Naskah Proklamasi

Naskah tulisan tangan Soekarno merupakan salah satu dari dua dokumen penting yang berkaitan dengan teks Proklamasi. Dokumen lainnya adalah naskah yang diketik Sayuti Melik.

Keduanya tidak identik. Naskah tulisan tangan merupakan konsep yang dirumuskan Soekarno, sedangkan naskah ketikan merupakan hasil penyalinan yang dilakukan Sayuti Melik dengan sejumlah perubahan dalam proses pengetikan.

Naskah ketikan itu kemudian ditandatangani Soekarno dan Mohammad Hatta. Dokumen tersebut diserahkan kepada negara pada 1960.

Perbedaan tersebut membuat kedua dokumen memiliki posisi tersendiri dalam sejarah. Naskah tulisan tangan merekam tahap perumusan, sedangkan naskah ketikan menunjukkan bentuk teks yang kemudian ditandatangani oleh dua tokoh Proklamasi.

Berdasarkan kajian dalam Jurnal Kearsipan ANRI, naskah ketikan Sayuti Melik disimpan di Istana Negara Jakarta. Sementara naskah tulisan tangan Soekarno disimpan di ANRI.

Menjaga Jejak Sejarah

Bagi arsip negara, nilai naskah tulisan tangan Soekarno tidak hanya terletak pada isi teksnya. Lembaran tersebut juga merupakan rekaman fisik dari proses perumusan Proklamasi.

Karena itu, ANRI melakukan berbagai upaya preservasi untuk menjaga kondisi naskah. Penyimpanan khusus diperlukan agar dokumen tersebut tetap terawat dan dapat menjadi sumber sejarah bagi generasi berikutnya.