Navaswara.com – Kanker paru masih menjadi salah satu penyebab kematian akibat kanker tertinggi di Indonesia. Meski identik dengan perokok, dokter kini juga menemukan peningkatan kasus pada kelompok nonperokok, terutama perempuan dan usia yang lebih muda. Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor genetik maupun paparan polusi udara turut berperan dalam meningkatkan risiko penyakit tersebut.
Peringatan Hari Kanker Paru Sedunia pada 1 Agustus menjadi pengingat akan pentingnya deteksi dini. Data menunjukkan kanker paru menyebabkan lebih dari 34.000 kematian setiap tahun di Indonesia. Sekitar 70 persen pasien baru terdiagnosis ketika penyakit telah memasuki stadium 3 atau 4. Akibatnya, pilihan terapi menjadi lebih terbatas dibandingkan jika kanker ditemukan pada tahap awal.
Diagnosis yang lebih cepat dapat meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan. Tingkat kelangsungan hidup dapat menurun sebesar 30 hingga 40 persen antara stadium 1 dan 2. Sebaliknya, kanker paru stadium 1A1 memiliki tingkat kesembuhan lebih dari 92 persen. Salah satu metode yang digunakan untuk mendukung deteksi dini adalah pemeriksaan Low-Dose CT (LDCT) scan.
Perkembangan penanganan kanker paru juga terus bergerak ke arah terapi yang lebih personal. Selain membedakan kanker paru menjadi Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC) dan Small Cell Lung Cancer (SCLC), dokter kini dapat menentukan pengobatan berdasarkan profil molekuler atau karakter genetik tumor yang dimiliki setiap pasien.
Di IHH Healthcare Singapore yang menaungi Mount Elizabeth, Gleneagles, dan Parkway Hospitals, pendekatan tersebut dilakukan melalui pemeriksaan Next-Generation Sequencing (NGS) untuk mengidentifikasi mutasi gen tertentu, termasuk EGFR dan ALK yang cukup banyak ditemukan pada populasi Asia. Hasil pemeriksaan menjadi dasar dalam menentukan terapi target, imunoterapi, maupun tindakan lain yang paling sesuai dengan kondisi pasien.
Apabila operasi diperlukan, dokter dapat mempertimbangkan teknik minimal invasif, seperti Video-Assisted Thoracoscopic Surgery (VATS) maupun bedah berbantuan robot. Untuk kondisi tertentu, radioterapi presisi tinggi dan terapi proton juga menjadi bagian dari pilihan penanganan.
“Secara historis, diagnosis kanker paru stadium lanjut kerap terasa seperti vonis menuju kematian. Namun, dengan hadirnya profil molekuler dan imunoterapi, kami tidak lagi memandang penyakit ini sebagai entitas tunggal. Kami mempersonalisasi pengobatan berdasarkan profil molekuler kanker dan kemampuan toleransi tubuh setiap pasien,” ujar Dr. Chin Tan Min, Medical Oncologist di Gleneagles Hospital.
Menurut Chin, penanganan kanker paru stadium lanjut melibatkan tim multidisiplin yang terdiri atas ahli bedah toraks, onkolog medis, onkolog radiasi, radiolog, dan patolog. Kolaborasi tersebut membantu dokter menyusun rencana terapi yang disesuaikan dengan kondisi setiap pasien sekaligus mempercepat proses pengambilan keputusan dalam penanganan.

