Navaswara.com – Di balik rimbunnya kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Sukabumi, Jawa Barat, berdiri sebuah kampung adat yang sangat menjaga warisan leluhur. Inilah Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar yang menjadi simbol bagaimana tradisi, budaya, dan alam dapat berjalan berdampingan.
Diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1368, masyarakat di Desa Ciptagelar masih memegang teguh adat yang diwariskan turun-temurun selama lebih dari enam abad.
Salah satu yang sangat menarik adalah kehidupan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar yang berpusat pada pertanian, khususnya budidaya padi. Bagi masyarakat setempat, padi bukan sekadar sumber pangan, melainkan lambang kehidupan yang harus dihormati.
Setiap tahapan bercocok tanam selalu dilakukan mengikuti kalender adat yang telah diwariskan secara turun temurun. Mulai dari menanam, memanen, hingga menyimpan hasil panen.
Semuanya diiringi ritual yang sarat makna sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan dan penghormatan kepada Nyi Pohaci Sanghyang Asri, sosok yang dipercaya sebagai simbol kehidupan dalam wujud padi.
Keunikan lainnya terlihat pada keberadaan leuit atau lumbung padi. Hampir setiap keluarga memiliki leuit sebagai tempat menyimpan hasil panen.
Uniknya, sekitar 10 persen dari setiap hasil panen selalu disisihkan untuk disimpan. Stok padi yang disimpan bahkan dapat bertahan hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Tradisi ini membuat masyarakat Ciptagelar dikenal sangat mandiri dalam menjaga ketahanan pangan.
Mereka juga memiliki prinsip yang kuat untuk tidak memperjualbelikan padi sebagai komoditas karena meyakini bahwa menjual padi sama artinya dengan menjual kehidupan. Hingga saat ini, nilai tersebut terus dijaga sebagai bentuk penghormatan terhadap hasil bumi.
Selain dikenal dengan sistem pertaniannya, masyarakat Kasepuhan Ciptagelar juga menjunjung tinggi nilai kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan kepada para sesepuh.
Di desa ini, kepemimpinan adat masih menjadi bagian penting dalam mengatur kehidupan masyarakat. Keharmonisan hubungan antarmanusia, alam, dan Sang Pencipta menjadi fondasi utama kehidupan masyarakat adat ini.

