Minyak Esensial dari Sulawesi Tengah Ini Diproduksi Sambil Menjaga Hutan

Navaswara.com — Saat menghirup aroma minyak esensial, kebanyakan dari kita mungkin hanya merasakan sensasi tenang yang perlahan mengusir lelah. Padahal, sebelum hadir dalam botol-botol kecil di meja rias atau ruang spa, bahan alami tersebut telah menempuh perjalanan panjang dari hutan hingga ke tangan konsumen.

Perjalanan itulah yang membawa kita ke sebuah desa di Sulawesi Tengah. Di sana, produksi minyak esensial berjalan seiring dengan upaya menjaga hutan, sehingga setiap tetesnya menjadi bagian dari cerita tentang alam, mata pencaharian, dan masa depan yang ingin dipertahankan bersama, menjaga hutan agar tetap lestari.

Bermula dari Misi Menyelamatkan Lahan

Kisah ini berakar di Desa Pulu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, wilayah yang sempat berada dalam kondisi rentan terhadap banjir, terutama pasca gempa dan cuaca ekstrem. Rentetan banjir yang terjadi antara tahun 2020 hingga 2021 berdampak pada sekitar 1.365 jiwa dan menyisakan pilu. Lahan pertanian subur berubah menjadi hamparan pasir yang tandus.

Melihat kondisi desanya yang kritis, Direktur Badan Usaha Milik Desa Pulu, Dilah Sahim (29), mengambil inisiatif. Ia memperkenalkan sereh wangi (citronella) sebagai tanaman pemulih ekosistem. Akar sereh wangi yang kuat, dipadukan dengan tanaman bambu, terbukti efektif menahan laju erosi dan memperkuat bantaran sungai.

“Di awal, kami tidak berpikir soal bisnis sama sekali. Yang penting lahan aman dan tidak semakin rusak. Soal ekonomi itu datang belakangan,” kenang Dilah.

Lahirnya Lana Tumbavani

Tanpa disangka, nilai ekonomi dari upaya konservasi tersebut perlahan muncul. Daun-daun sereh wangi yang dipanen ternyata bisa disuling menjadi minyak esensial berkualitas tinggi. Minyak inilah yang kemudian menjadi “nyawa” bagi berbagai produk spa dan perawatan tubuh alami.

Dari potensi tersebut, lahirlah sebuah jenama lokal bernama Lana Tumbavani. Nama ini diambil dari bahasa daerah Kaili; “lana” berarti minyak, dan “tumbavani” berarti sereh.

Melalui Lana Tumbavani, sereh wangi dari Desa Pulu berevolusi. Dari sekadar tanaman penahan erosi, kini ia menjelma menjadi bahan baku utama produk wellness. Lini produk mereka pun semakin beragam, antara lain minyak pijat (massage oil), sabun herbal (dengan campuran daun kelor lokal yang kaya manfaat), lilin wangi (berbasis lilin lebah alami), dan parfum padat (solid perfume)

Kualitas bahan alami ini membuat produk Lana Tumbavani kini dipercaya sebagai amenities (fasilitas pelengkap) di berbagai destinasi pariwisata.

Eksklusivitas Tanpa Campuran Sintetis

Bagi konsumen yang terbiasa menggunakan produk pabrikan massal, angka produksi Lana Tumbavani mungkin akan terdengar mengejutkan.

Sereh wangi membutuhkan waktu sekitar delapan bulan sejak pertama ditanam hingga panen perdana. Setelahnya, panen baru bisa dilakukan setiap tiga bulan sekali. Menariknya, dari sekitar 200 kilogram daun sereh wangi, proses penyulingan hanya menghasilkan kurang lebih 200 mililiter minyak murni.

Tidak ada kompromi dalam prosesnya. Tidak ada campuran aroma sintetis maupun bahan kimia tambahan. Rasio ekstraksi yang sangat kecil inilah yang membuat setiap tetes minyak Lana Tumbavani begitu berharga. Meski volume produksinya terbatas, justru keterbatasan dan kemurnian inilah yang menjadi daya pikat utamanya. Kualitas premium dari Desa Pulu ini bahkan telah berhasil menarik minat pembeli dari luar negeri, termasuk Malaysia, Nepal, dan Amerika Serikat.

Ekonomi Restoratif Pulihkan Alam Tumbuhkan Kesejahteraan

Meski permintaannya mulai mendunia, skala produksi Lana Tumbavani masih dijaga tetap eksklusif. Pada periode 2024 hingga awal 2025, produksi ini melibatkan sekitar 3 sampai 4 rumah tangga setempat.

Pengembangan bisnis ini tidak lepas dari pendampingan lembaga Gampiri Interaksi melalui program inkubasi GIAT 2.0. Program ini membantu warga menata struktur biaya, meningkatkan kapasitas produksi, menentukan strategi harga, hingga kesiapan menghadapi pasar yang lebih luas. Namun, ada satu prinsip dasar yang pantang dilanggar: peningkatan produksi hanya boleh dilakukan sejauh tidak melampaui kemampuan alam untuk memulihkan dirinya sendiri.

“Biasanya alam diperas dulu, baru ekonomi dibagi. Di sini justru alam dipulihkan dulu, baru ekonomi tumbuh. Itu yang membuatnya lebih tahan lama,” jelas Nedya Sinintha Maulaning, perwakilan dari Gampiri Interaksi.

Hal senada juga ditegaskan oleh Dilah. “Kalau lingkungannya tidak pulih, tidak akan ada produk, dan tidak akan ada pendapatan. Yang kami lakukan hanya membuktikan bahwa merawat alam bisa langsung berdampak ke ekonomi warga.”

Tren Wellness yang Bertanggung Jawab

Apa yang dilakukan warga Desa Pulu kini menjadi bagian dari gerakan yang lebih masif. Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) sebuah asosiasi pemerintah kabupaten, terus mendorong kemandirian daerah melalui pendekatan “ekonomi restoratif”. Ini adalah model bisnis masa depan yang fokus pada pemulihan alam sekaligus mendongkrak kesejahteraan masyarakat lokal.

Lana Tumbavani menjadi salah satu contoh penerapan pendekatan tersebut. Perjalanannya turut didukung kolaborasi berbagai pihak, sekaligus ruang promosi seperti Sustainable District Outlook dan Suara Selatan-Selatan yang memperluas jangkauan produknya.

“Kami melihat ini sebagai praktik ekonomi restoratif, bukan bisnis konvensional. Alam dipulihkan, masyarakat bergerak, dan produk punya nilai yang jelas. Kalau salah satu dilepas, model ini runtuh,” tambah Nedya.

Meningkatnya minat terhadap produk alami membuat minyak esensial semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kisah dari Sigi menunjukkan bahwa nilai sebuah produk tidak hanya berasal dari kualitasnya. Setiap tetes minyak esensial membawa perjalanan panjang, mulai dari tanaman yang membantu menjaga kawasan hutan dan tepian sungai, diproses oleh warga desa, hingga digunakan sebagai bagian dari ritual relaksasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *