Navaswara.com – Pameran tunggal bertajuk “Yang Bersayap Rangka Daun” menjadi penanda penting kembalinya seniman kontemporer Jumaadi. Digelar di Museum Tumurun, Surakarta, pameran ini menghadirkan 296 karya lintas medium yang mencerminkan kekayaan eksplorasi artistik sang seniman.
Pameran ini mengajak para pecinta seni untuk menyusuri beragam karya, mulai dari lukisan di atas kertas, instalasi, patung, hingga karya berbahan kulit kerbau yang berakar kuat pada tradisi wayang Jawa.
Melalui karya-karya tersebut, Jumaadi merangkai dunia visual yang dipenuhi tokoh-tokoh bersayap, makhluk imajiner, bayangan, pepohonan, serta simbol-simbol yang berbicara mengenai kehidupan, mimpi, kehilangan, dan harapan manusia.
Salah satu yang paling menonjol dalam pameran ini adalah figur bersayap yang selalu muncul dalam berbagai karya. Bagi Jumaadi, sayap bukan sekadar lambang kebebasan, tapi juga metafora tentang hasrat manusia untuk melampaui keterbatasan dirinya.
Sedangkan wayang sendiri menjadi salah satu inspirasi paling kuat dalam praktik berkarya Jumaadi. Pengaruh tersebut tampak melalui penggunaan kulit kerbau yang dipahat, bentuk figur yang sederhana namun ekspresif, serta struktur naratif yang mengingatkan pada kisah-kisah pewayangan.
Akan tetapi, alih-alih mengulang tradisi secara utuh, Jumaadi mengolahnya menjadi medium untuk membicarakan isu-isu yang bersifat universal, seperti cinta, migrasi, spiritualitas, identitas, dan kesinambungan hidup. Baginya, tradisi bukanlah sesuatu yang berhenti di masa lalu, melainkan kekuatan yang terus hidup, berubah, dan mampu berdialog dengan zaman.
Karakter-karakter dalam karya Jumaadi juga memiliki ciri khas berupa wajah datar dengan mata yang berlipat atau berjumlah lebih dari sepasang. Bentuk visual tersebut menjadi metafora tentang identitas yang terus berubah, pengalaman hidup yang berlapis, serta cara manusia memandang dunia dari berbagai sudut.
Unsur-unsur organik seperti daun, ranting, pepohonan, dan hewan turut memperkuat hubungan antara manusia dengan alam sebagai satu kesatuan yang saling mempengaruhi. Setiap karya yang dipamerkan pun terasa seperti potongan cerita yang mengajak kita memasuki ruang antara kenyataan dan mimpi.
