Mengenal Ayam Sentul, Unggas Legendaris Keturunan Jago Ciung Wanara yang Jadi Primadona Peternak

Navaswara.com – Bicara soal ayam lokal alias ayam kampung, sebagian besar dari kita mungkin hanya membayangkan ayam yang sering berkeliaran di pekarangan rumah. Tapi, tahukah Anda kalau Jawa Barat punya satu ras ayam lokal unggulan yang punya nilai sejarah tinggi sekaligus potensi ekonomi yang menjanjikan?

Namanya Ayam Sentul. Unggas asli dari Kabupaten Ciamis, Jawa Barat ini, konon bukan sembarang ayam. Berdasarkan cerita turun-temurun, Ayam Sentul disebut-sebut merupakan keturunan dari ayam jago milik tokoh legenda pasundan, Ciung Wanara.

Di luar nilai historisnya yang ikonik, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian pun sudah menetapkan Ayam Sentul sebagai salah satu dari 32 jenis ayam asli Indonesia sekaligus Sumber Daya Genetik (SDG) Jawa Barat yang wajib dilestarikan.

Si “Dwiguna” yang Serba Unggul

Apa yang membuat Ayam Sentul begitu spesial di mata peternak modern? Jawabannya ada pada produktivitasnya. Ayam ini masuk dalam kategori ayam dwiguna, artinya bisa dimanfaatkan secara optimal untuk menghasilkan daging sekaligus telur.

Sebagai ayam pedaging, Ayam Sentul punya postur tubuh yang tegap dengan otot yang padat dan kompak. Berbeda dengan ayam kampung biasa yang pertumbuhannya lambat, Ayam Sentul tergolong cepat bongsor.

Jika dipelihara secara tradisional, ayam ini biasanya siap dipanen pada umur 12 minggu. Namun, lewat metode pemeliharaan intensif, waktu panennya bisa dipangkas menjadi hanya 8 hingga 10 minggu saja. Bobot jantan dewasanya bisa mencapai 1,3 hingga 3,5 kg, sementara betina dewasanya berkisar antara 0,8 hingga 2,2 kg.

Tidak kalah dari performa dagingnya, produktivitas telurnya juga jempolan. Dalam satu tahun, Ayam Sentul betina mampu memproduksi sekitar 85 hingga 210 butir telur. Bobot rata-rata telurnya berkisar 46–48 gram dengan pola produksi sekitar 18–19 butir per clutch (kelompok peneluran).

Rahasia Cita Rasa dan Ketahanan Tinggi

Bagi para pencinta kuliner, daging Ayam Sentul menawarkan kualitas premium. Tekstur dagingnya padat namun tetap empuk, bercita rasa gurih khas ayam kampung asli, dan yang paling penting, rendah lemak (hanya sekitar 6,89%).

Bagi para peternak, Ayam Sentul adalah solusi efisiensi. Unggas ini dikenal memiliki daya tahan tubuh yang sangat baik terhadap penyakit, terutama infeksi saluran pernapasan yang kerap menjadi momok menakutkan di industri peternakan pedaging.

Menariknya lagi, ayam ini tidak rewel soal pakan. Mereka sangat adaptif dan bisa tumbuh dengan baik hanya dengan mengonsumsi pakan alami atau pakan alternatif, seperti dedak, jagung, hingga sisa makanan rumah tangga. Sifatnya yang low maintenance namun berwujud komoditas bernilai ekonomis tinggi ini menjadikannya simbol ketahanan pangan lokal yang mandiri.

Sisik Bulu hingga 6 Varian Warna Unik

Jika merujuk pada Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan), Ayam Sentul memiliki ciri fisik yang sangat khas. Setiap helai bulunya memiliki motif unik yang menyerupai sisik. Selain itu, jenggernya berbentuk bilah kacang (peacomb) dengan bagian kaki (shank) yang dominan berwarna kekuningan.

Keunikan lain terletak pada estetika bulunya. Ayam Sentul setidaknya dibedakan menjadi 6 jenis variasi warna berdasarkan corak abu-abunya:

  • Sentul Batu: Dominan warna abu kehitaman.
  • Sentul Abu: Warna abu polos yang bersih.
  • Sentul Debu: Warna abu-abu pudar menyerupai debu.
  • Sentul Emas: Perpaduan abu dengan sentuhan kekuningan.
  • Sentul Geni: Perpaduan warna abu dengan semburat kemerahan.
  • Sentul Jambe: Warna abu dengan kombinasi merah jingga.

Dukungan Pemerintah untuk Pelestarian

Saat ini, populasi Ayam Sentul tidak lagi hanya berpusat di Ciamis. Budidayanya sudah meluas ke wilayah Tasikmalaya, Garut, hingga Bandung. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan konsumsi pangan lokal berkualitas membuat permintaan pasar terhadap Ayam Sentul terus meroket.

Melihat potensi besar ini, pemerintah lewat Balai Pengembangan Perbibitan Ternak Unggas Jatiwangi tidak tinggal diam. Berbagai program intervensi hulu-hilir terus digulirkan untuk mendukung peternak lokal.

Mulai dari pemberian hibah Day Old Chick (DOC) Ayam Sentul, bantuan pakan, obat-obatan, hingga pasokan vaksin untuk kelompok pembibitan dan budidaya yang telah lolos verifikasi. Tak hanya modal fisik, para peternak juga dibekali dengan program magang serta pelatihan manajemen perbibitan, teknik penetasan, pengelolaan kesehatan unggas, hingga sistem pengolahan limbah peternakan yang ramah lingkungan.

Ayam Sentul bukan sebatas warisan cerita fiksi masa lalu. Lewat pengembangan yang serius dan berkelanjutan, si jago dari Ciamis ini siap mengambil peran penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional, mendongkrak ekonomi peternak lokal, dan menyediakan sumber protein hewani berkualitas tinggi bagi masyarakat Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *