Syaiful Aulia Garibaldi Hadirkan Lembaran Air Raksasa dalam Pameran “Lesap”

Navaswara.com – Seniman Indonesia, Syaiful Aulia Garibaldi kembali menghadirkan karya-karya terbaiknya. Kali ini ia memadukan seni, sains, dan ekologi melalui pameran tunggal bertajuk “Lesap” yang berlangsung di ROH Projects, Jakarta.

Berlangsung pada 23 Mei – 28 Juni 2026, pameran ini menampilkan karya yang berfokus pada hubungan antara manusia, alam, dan berbagai proses biologis yang berlangsung di kehidupan sehari-hari.

Melalui instalasi berskala besar dan penggunaan material yang berasal dari lingkungan, “Lesap” menghadirkan pengalaman yang mengajak kita untuk melihat alam sebagai sistem yang terus berubah dan berkembang.

Judul “Lesap” sendiri mengandung makna menghilang atau lenyap. Namun, dalam konteks pameran ini, kata tersebut tidak hanya merujuk pada hilangnya suatu bentuk atau wujud. Syaiful menggunakan kata ini untuk menggambarkan proses transformasi yang terjadi di dunia.

Dalam pameran ini, air menjadi elemen utama yang menghubungkan berbagai karya. Bagi sang seniman, air merupakan media yang menyatukan berbagai wilayah dan organisme dalam satu jaringan kehidupan yang saling terhubung.

Inspirasi pameran ini lahir dari pengamatannya terhadap aliran Sungai Citarum, khususnya kawasan hulu di Bandung hingga wilayah pesisir mangrove di Muara Gembong, Bekasi Utara. Meski berada di lokasi yang berbeda, kedua kawasan tersebut dipersatukan oleh aliran air yang membawa berbagai material, organisme, dan jejak perubahan lingkungan.

Salah satu karya yang paling mencuri perhatian adalah instalasi lembaran air raksasa yang mendominasi ruang pameran. Instalasi tersebut menghadirkan sensasi seolah-olah kita sedang berada di tengah tengah alam yang terus bergerak.

Selain itu, Syaiful juga memanfaatkan berbagai material organik yang diperoleh dari hasil penelitian lapangan. Biofilm alga yang dikembangkan dari air sungai, kayu hanyut yang terbawa arus, hingga cangkang yang ditemukan di kawasan pesisir menjadi bagian penting dalam komposisi karya-karyanya.

Menariknya, sejumlah karya dalam Lesap dirancang untuk tetap mengalami perubahan selama pameran berlangsung. Alga dapat tumbuh, material organik dapat melapuk, dan bentuk karya dapat berubah seiring berjalannya waktu.

Konsep ini menjadikan setiap karya yang dipamerkan sebagai sesuatu yang hidup mengikuti ritme alam yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *